LombokPost-Menjelang kunjungan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman ke Pulau Sumbawa pada Senin (21/4) untuk menghadiri panen raya jagung, keresahan petani di NTB kian memuncak. Harga jagung di tingkat petani merosot tajam, jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 5.500 per kilogram.
Petani mengeluhkan sikap gudang-gudang swasta hingga Bulog yang diduga membeli jagung dengan harga tidak layak. Praktik yang merugikan petani juga disebut masih marak terjadi.
Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) NTB Ilham mendesak Menteri Pertanian tidak sekadar hadir secara simbolis. Ia meminta langkah tegas terhadap pelaku usaha dan gudang yang terbukti melakukan pelanggaran.
“Ini bukan sekadar fluktuasi harga. Ini menyangkut keadilan dan martabat petani. Banyak gudang membeli jagung di bawah HPP dengan dalih kadar air di atas 15 persen. Ini manipulatif,” tegas Ilham, Sabtu (19/4).
Menurut dia, petani kehilangan puluhan hingga ratusan kilogram hasil panen akibat sistem potongan (refaksi) yang tidak masuk akal. Ilham juga menyoroti alat ukur kadar air dan timbangan yang dinilai tidak sesuai standar.
“Banyak petani dirugikan karena alat timbang dan pengukur kadar air tidak transparan. Jika terbukti curang, izin gudang harus dicabut dan diproses hukum,” katanya.
Ilham berharap kunjungan menteri menjadi momentum memperbaiki tata niaga jagung. Ia meminta Gubernur NTB dan bupati se-Pulau Sumbawa bersikap tegas dan berpihak kepada petani.
“Kalau pemerintah tidak berani menindak pelaku nakal, jangan salahkan jika petani memilih berhenti tanam jagung. Jangan biarkan petani terus jadi korban sistem yang dikuasai tengkulak dan mafia jagung,” ujarnya.
Pulau Sumbawa merupakan sentra jagung nasional. Namun petani di daerah ini justru kerap dirugikan oleh permainan harga, regulasi yang tak berpihak, dan lemahnya pengawasan.
PWPM NTB mendesak Kementerian Pertanian membentuk tim khusus untuk mengaudit seluruh aktivitas pembelian jagung di NTB, termasuk oleh Bulog. “Langkah nyata harus segera dilakukan sebelum petani kehilangan kepercayaan,” tandasnya. (dit)
Editor : Akbar Sirinawa