Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dukung Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Rinjani, Akademisi Unram Nilai Langkah Menjaga Alam

nur cahaya • Senin, 21 April 2025 | 13:05 WIB

 

MEMIKAT HATI: Salah satu daya tarik utama di kawasan ini adalah Danau Segara Anak, yang terletak di dalam kaldera Rinjani dan menjadi destinasi ikonik bagi para pendaki.
MEMIKAT HATI: Salah satu daya tarik utama di kawasan ini adalah Danau Segara Anak, yang terletak di dalam kaldera Rinjani dan menjadi destinasi ikonik bagi para pendaki.
 

LombokPost-Pembahasan mengenai permintaan penambahan kuota pendakian Gunung Rinjani (TNGR) masih menjadi topik hangat.

Menanggapi hal ini, dosen Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pascasarjana Universitas Mataram (Unram) Prof Markum mendukung kebijakan pembatasan kuota pendakian.

“Langkah ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan kawasan sebagai destinasi ekowisata,” terangnya.

Menurutnya, daya dukung kawasan harus dihitung dengan cermat, memperhatikan ketersediaan ruang, sarana sanitasi, sumber daya air, rasio pengelola dengan pengunjung, serta kapasitas penanganan sampah.

Tanpa pembatasan yang jelas, tekanan terhadap lingkungan akan meningkat dan berisiko merusak keindahan serta fungsi ekologis TNGR dalam jangka panjang.

“Dalam konteks ekowisata, pembatasan jumlah kunjungan tidak hanya berkaitan dengan konservasi, tetapi juga dengan faktor keamanan, kenyamanan, kebersihan, dan kemudahan pemantauan di lapangan,” jelasnya.

Prof Markum menambahkan, jika jumlah pendaki Gunung Rinjani melampaui kapasitas daya dukung, dampaknya bisa buruk, seperti buruknya sanitasi, buang air sembarangan, sampah berserakan, hingga perilaku vandalisme.

Sebaliknya, dengan jumlah pendaki yang terkontrol, Balai TNGR bisa lebih optimal dalam memastikan jalur pendakian tetap aman, fasilitas sanitasi terjaga, serta potensi gangguan terhadap flora, fauna, dan ritus keagamaan masyarakat lokal dapat diminimalkan.

“Pembatasan ini justru mencerminkan pengelolaan wisata alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” katanya.

Photo
Photo

Ia juga mendengar adanya usulan untuk menambah kuota pendakian Gunung Rinjani menjadi seribu orang per hari.

Untuk hal ini, acuan dasar pembatasan yang selama ini diterapkan Balai TNGR perlu dicermati dan ditelaah kembali.

“Jika pembatasan dilakukan karena rasio pengunjung dan ruang yang tersedia, penambahan kuota sulit dilakukan. Namun, jika pembatasan berkaitan dengan rasio pengunjung terhadap sarana dan prasarana, seperti area camping, jalur trekking, sarana toilet, jumlah pos, serta pengelola, maka penambahan kuota masih memungkinkan. Caranya adalah dengan menambah fasilitas dan personel Balai TNGR,” jelasnya.

Meski demikian, Prof Markum menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan kawasan TNGR.

Ia menegaskan perlunya kolaborasi antara pengelola, wisatawan, masyarakat lokal, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Dengan kerja sama yang solid dan pengelolaan berbasis prinsip keberlanjutan, keindahan dan kesakralan Rinjani akan tetap terjaga bagi generasi mendatang,” ujarnya.

TNGR di Pulau Lombok dikenal sebagai salah satu lokasi pendakian terindah di Indonesia.

Keindahan alamnya memadukan lanskap pegunungan dramatis, jalur trekking menantang, dan keanekaragaman hayati yang memikat.

Danau Segara Anak, tempat suci bagi masyarakat Hindu Bali dan Sasak, sering digunakan untuk ritual keagamaan.

Kawasan ini juga sarat dengan legenda lokal, seperti kisah Dewi Anjani, yang diyakini sebagai penunggu Gunung Rinjani dan bagian penting dari kepercayaan masyarakat setempat.

“Nilai sakral ini memperkaya makna kawasan TNGR, menjadikannya penting tidak hanya secara ekologis, tetapi juga sebagai ruang spiritual dan budaya yang harus dijaga kelestariannya,” pungkas Prof Markum.

Kepala Balai TNGR Yarman menyebutkan pihaknya akan mengkaji secara teliti potensi menaikkan jumlah pendaki, sebagai respons terhadap aspirasi dan dorongan asosiasi trekking organizer.

“Menaikkan kuota harian bisa saja dilakukan. Air dan tempat camping sudah tersedia,” terangnya. (yun/r7)

Editor : Kimda Farida
#TNGR #pembatasan #rinjani #budaya #kuota #kawasan #fasilitas