LombokPost - Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah di Bumi Gora.
Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi menegaskan, jika tidak ada penanganan permanen dari pemerintah kabupaten dan kota, maka sekitar setengah juta warga diprediksi terdampak kekeringan.
“Sekitar 500 ribu warga akan mengalami kekeringan ini,” terangnya, saat ditemui Senin (5/5).
Namun, jumlah tersebut bisa ditekan jika pemerintah daerah mulai merealisasikan penanganan bencana kekeringan secara permanen sejak dini.
Misalnya dengan menambah jaringan pipa air minum ke wilayah rawan kekeringan.
“Kalau kami di BPBD ini kan sifatnya pemadam kebakaran saja, ketika mereka (pemda) sudah tidak berbuat, ya kami yang maju untuk menangani,” kata dia.
Pemerintah, kata Ahmadi, sangat menghindari situasi di mana masyarakat terdampak kekeringan tidak mendapat layanan air bersih.
“Jadi kita dorong OPD teknis di masing-masing pemda, jangan pas sudah kasak-kusuk kekeringan ini baru kita cari anggaran. Mulai dari sekarang, siapa tahu dalam DPA-nya ini ada penanganan untuk air bersih,” jelasnya.
Musim kemarau di NTB diperkirakan berlangsung dari Mei hingga Oktober. Puncaknya diprediksi terjadi pada Juli hingga September.
Ahmadi berharap, jika pemda memiliki anggaran lebih, perlu segera dilakukan penambahan jaringan perpipaan air minum.
Dengan demikian, saat musim kemarau panjang nanti, fasilitas tersebut sudah berfungsi dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Kami harapkan percepatan penanganan permanen,” imbuhnya.
Warga Kota Mataram juga menjadi perhatian.
Jika sebelumnya kekeringan jarang dirasakan, sejak tahun lalu masyarakat kota, khususnya di wilayah pesisir, mulai kesulitan mendapatkan air bersih sepanjang hari.
“Saya masih ingat, tahun lalu warga kota bisa mendapatkan air itu di dalam hari, di siang hari airnya nggak ada air,” jelasnya.
Ahmadi mengungkapkan, dulunya Kota Mataram adalah wilayah irigasi. Kini, air justru banyak terbuang ke laut.
Karena itu, ia mendorong Pemkot Mataram segera merancang water treatment plant atau Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Menurutnya, Kota Mataram tidak kekurangan sumber air.
Air sungai bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk diproses menjadi air bersih layak konsumsi, dengan cara menghilangkan kontaminan fisik, kimia, dan biologis.
“Nggak perlu teknologi tinggi, saya rasa Kota Mataram sangat bisa,” tandasnya.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Restu Patria Megantara menambahkan, musim kemarau akan sangat berpengaruh pada sektor pertanian.
Karena itu, petani disarankan menghindari menanam tanaman yang sensitif terhadap kekurangan air. (yun/r7)
Editor : Kimda Farida