LombokPost – Seorang jemaah calon haji (JCH) asal Kelompok Terbang (Kloter) 6 dari Lombok Tengah, berinisial H usia 63 tahun, laki-laki, harus dirujuk ke RSUD NTB karena persoalan kesehatan.
“Rujukan dengan diagnosa awal gagal jantung, dan sudah dilakukan rekam jantung di rumah sakit, sehingga jamaah Lombok Tengah ini dirawat inap di RSUD NTB,” terang Plh Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram Suparlan, Kamis (8/5).
Kejadian ini bermula saat jemaah tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas BKK Mataram, di UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok.
Hasilnya, tingkat saturasi oksigen jamaah tersebut hanya 60 persen. Saturasi oksigen merupakan persentase oksigen yang terikat pada hemoglobin dalam darah, yang menunjukkan seberapa banyak oksigen yang dibawa oleh sel darah merah.
Nilai saturasi oksigen yang normal biasanya berkisar antara 95 persen hingga 100 persen. Sementara, saturasi oksigen yang rendah artinya di bawah 90 persen, ini menunjukkan masalah kesehatan, seperti masalah pernapasan atau jantung.
Suparlan menegaskan untuk standar penerbangan, saturasi oksigen mesti 95 persen. “Jemaah ini tidak menunjukkan gejala apapun, cuma kita lihat saturasi oksigennya rendah,” ujarnya.
Tak tinggal diam, petugas BKK Mataram kemudian membantu jemaah tersebut dengan terapi oksigen, hasilnya naik menjadi 95 persen. Tetapi begitu terapi tersebut tidak dilakukan, saturasi oksigennya kembali rendah ke 60 persen.
Pesawat komersial biasanya terbang di ketinggian jelajah antara 30.000 hingga 42.000 kaki atau sekitar 9.100 hingga 12.800 meter, dengan durasi penerbangan hingga belasan jam di atas ruang udara, sehingga penumpang memerlukan oksigen yang banyak.
Karenanya, dengan kondisi jamaah seperti ini, maka sangat berisiko apabila ini dipaksakan.
“Jadi sangat berbahaya jika oksigen kurang menyebabkan sesak napas. Apalagi ini gagal jantung. Dimana gagal jantung kita itu menjadi pertimbangan kita untuk merujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
Adapun perkembangan terbaru, jemaah masih menjalani perawatan intensif di RSUD NTB. BKK Mataram terus memastikan kondisi kesehatannya, dan status keberangkatannya harus ditunda.
Kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia tahun 2025 menjadi perhatian utama pemerintah, baik sebelum keberangkatan maupun selama berada di Tanah Suci.
Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan layanan kesehatan bagi jemaah haji untuk memastikan ibadah berjalan lancar dan jamaah tetap sehat. Persiapan kesehatan yang baik dari calon jemaah juga menjadi kunci penting dalam menjaga kondisi selama beribadah di Tanah Suci. (yun)
Editor : Jelo Sangaji