Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jelang Idul Adha, Loteng Hadapi Gejala Sapi Terserang PMK, Lotim Siaga

nur cahaya • Kamis, 15 Mei 2025 | 15:32 WIB

 

Photo
Photo

LombokPost  - Belasan ternak sapi milik warga di Dusun Karang Ide I, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terjangkit gejala penyakit mulut dan kuku (PMK).

Gejala ini menyerang ternak baik sapi jantan, betina maupun pedet atau anak sapi.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Loteng M Kamrin menerima laporan tersebut Selasa (13/5) pagi.

Sebelum gejala PMK ini meluas, dinas sudah menurunkan waktu untuk memberikan pengobatan secara menyeluruh.

Baca Juga: Total 27.440 Sapi NTB Telah Dikirim ke Luar Daerah, Antrean Membeludak Dipastikan Tidak Ada

“Tinggal tiga ekor yang belum sehat, dan lainnya sudah mau makan. Yang belum sehat tetap kita berikan pengobatan dan cek lagi besok,” ungkapnya, Selasa (13/5).

Kamrin mengatakan sapi tersebut berasal dari luar kabupaten. Ternak datang untuk menjadi hewan kurban Idu Adha 1446 Hijriah ini.

“Untuk antisipasi penyebarannya bisa kita atasi sebelum meluas,” sambungnya.

Baca Juga: Stok Sapi untuk Kebutuhan Kurban di Mataram Aman, Dinas Jaga Status Wilayah Bebas PMK

Pada kesempatan itu, Kamrin menegaskan, ia telah melakukan pemeriksaan rutin hewan kurban sesuai prosedur operasional standar.

Sehingga dipastikan ternak hewan kurban dari Loteng bebas dari PMK.

“Pemeriksaan hewan kurban itu tetap rutin dilaksanakan, baik sebelum dipotong maupun setelah dipotong,” ungkap Kamrin.

Baca Juga: Jelang Lebaran Wabah PMK Merebak Lagi, Kasus Terbanyak Ada di Lombok Barat

Guna mengantisipasi penyebaran virus, ia telah menyiapkan petugas di masing-masing kecamatan. Untuk mengawasi dan mengobati hewan ternak jika ada yang sakit.

“Penyakit ternak itu tetap ada, yang perlu diantisipasi itu menyebabkan virus atau PMK. Warga pasti membeli ternak yang sehat untuk dijadikan kurban,” jelas mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Loteng ini.

Dikatakan, kebutuhan hewan kurban dipastikan terpenuhi karena populasi ternak cukup, mencapai ratusan ribu ekor.

“Harga hewan kurban itu relatif stabil, meski pun ada kenaikan sekitar sejutaan,” cetus dia.

Baca Juga: Dampak Tertahannya Anggaran Proyek Laboratorium PMK, Potensi PAD Rp 1,8 Miliar Menguap

Terpisah, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur (Lotim) memastikan ketersediaan dan kesehatan hewan kurban.

“Dalam keadaan sehat dan siap untuk dikurban pada hari raya Idul Adha mendatang,” terang Kepala Disnakeswan Lotim H Masyhur, Rabu (14/5).

Stok hewan kurban Lotim diakui surplus. Sehingga dipastikan ketersediaan hewan kurban tetap aman dan terjaga kualitasnya.

SUDAH DIOBATI: Sejumlah ternak sapi di dalam kendang milik warga mengalami gejala PMK di Dusun Karang Ide 1, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Senin (12/5) lalu.
SUDAH DIOBATI: Sejumlah ternak sapi di dalam kendang milik warga mengalami gejala PMK di Dusun Karang Ide 1, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Senin (12/5) lalu.

“Dengan ketersediaan hewan kurban kita saat ini, Insya Allah bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di luar Lotim juga,” ujarnya.

Untuk menjamin kualitas daging kurban, mengingat akan terus meningkatkan pengawasan terhadap kondisi fisik hewan kurban.

Ditegaskan seluruh hewan kurban terlah diperiksa dan dinyatakan bebas dari berbagai penyakit.

Baca Juga: Musim PMK, Peternak Lombok Timur Berharap Harga Ternak Tak Anjlok

Tak terkecuali penyakit mulut dan kuku (PMK). Saat ini kasus PMK di Lotim sudah tidak ditemukan lagi.

“Kita memang belum menjadi kabupaten bebas PMK.Tetapi beberapa tahun terakhir kasus PMK kita sudah tidak ditemukan lagi,” katanya.

Berdasarkan data sementara sisa pemotongan hewan kurban tahun sebelumnya sebanyak 129 ribu ekor sapi, 5.000 ekor kerbau dan 120 ribu ekor kambing.

Jumlah ini terus mengalami peningkatan menjelang penyembelihan hewan kurban pada tahun ini.

Sebagai bentuk pengawasan tambahan, pihaknya akan membentuk posko pemeriksaan hewan kurban di sejumlah titik strategi.

Melalui langkah ini, diharapkan masyarakat dapat melaksanakan ibadah kurban dengan lancar, aman, dan sesuai syariat.

Baca Juga: Mana yang Lebih Baik, Berkurban 1 Ekor Kambing atau Patungan 1 ekor sapi?

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakeswan Lotim Hultatang menyampaikan menyampaikan rutin dan ketat melakukan pemantauan kesehatan hewan kurban.

Baik yang ada di kandang peternak maupun di pasar hewan.

"Kami juga telah mengeluarkan SK pengawasan untuk pemeriksaan, pemotongan, dan penyuluhan di semua kecamatan. Tugasnya mereka nanti akan berkoordinasi dengan seluruh masyarakat yang melaksanakan kurban. Baik yang dilakukan di masjid, ponpes, dan sebagainya," terang pria yang uga dokter hewan itu.

Photo
Photo

Di masing-masing kecamatan, mereka juga telah menyiapkan dokter hewan dan mantri hewan. Untuk melakukan pendataan dan pemeriksaan hewan kurban.

Hal ini untuk memastikan bahwa hewan kurban terutama sapi bebas dari PMK maupun penyakit lainnya.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi ternak khususnya yang akan dikurban dalam kondisi sehat.

Baca Juga: Daging Sapi Segar Mahal sampai Tembus Rp 150 Ribu Per Kilogram, Ini Solusinya

Meskipun terdapat anak-anak sapi yang belum tervaksin, sehingga berpotensi untuk terjangkit.

"Sampai saat ini belum ada yang terjangkit. Tapi di pasar hewan terdapat beberapa hewan yang diduga mengalami penyakit," katanya.

Kata dia, sapi yang sakit tersebut diduga mengalami PMK. Mengingat gejalanya mirip, yakni ileran dengan jumlah sekitar lima ekor sapi. Sapi-sapi yang sakit tersebut ditemukan di pasar hewan. Sehingga mengungkap belum mengetahui pasti asal usul ternak tersebut.

“Hewan yang masuk di pasar hewan ini kan dari berbagai daerah. Kalau dari Sumbawa sudah distop. Jadi tidak tahu asal dari mana,” tutupnya. (ewi/par/r6)

Editor : Kimda Farida
#Pasar Hewan #Loteng #sapi #PMK #Lotim