Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ini Sederet Manfaat Jogging untuk Kesehatan Jantung

Yuyun Kutari • Sabtu, 17 Mei 2025 | 12:03 WIB
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr Yusra Pintaningrum
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr Yusra Pintaningrum

LombokPost - Berlari maupun jogging merupakan jenis olahraga yang mampu meningkatkan detak jantung dan fungsi pompa jantung. Sehingga darah bisa tersalurkan ke seluruh tubuh dan sirkulasi darah meningkat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr Yusra Pintaningrum mengatakan, secara definisi, jogging itu lari santai atau lari lambat untuk tujuan kebugaran. “Jogging itu lebih cepat dari berjalan, namun lebih lambat dari berlari yang sesungguhnya,” kata dia.

Bila seseorang melakukan jogging, tentu sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Bisa menurunkan berat badan, ⁠mengurangi kolesterol, ⁠menurunkan gula darah, ⁠menurunkan tekanan darah, ⁠bahkan lari dengan durasi 10 menit pun bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

“Termasuk penyakit jantung koroner dan stroke, jogging juga ⁠memperbaiki kualitas tidur, ⁠mengurangi stress serta bisa ⁠meningkatkan kekuatan otot dan tulang,” paparnya.

Meski memiliki manfaat sangat baik bagi kesehatan tubuh, namun melakukan jogging juga tidak sembarangan apalagi serampangan. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian, terutama bagi penderita jantung.

Untuk hal ini, dr Yusra menyarankan agar sebaiknya melakukan aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang, di mana denyut nadi yang disarankan tidak lebih dari 70 persen dari denyut nadi maksimal. Sedangkan denyut nadi maksimal adalah 220 dikurangi usia.

Misalnya, orang berusia 50 tahun dengan penyakit jantung, untuk melakukan olahraga, maka 220-50=170, bila yang disarankan 70 persen dari denyut nadi maksimal maka 70 persen dari 170 = 119 kali permenit.

Tentunya kata dr Yusra, tiap penderita penyakit jantung tidak sama. Bisa saja dinyatakan dokter layak untuk melakukan aktivitas yang lebih berat atau sebaliknya. “Untuk itu sebelum melakukan aktivitas fisik hendaknya konsultasi kepada dokter spesialis jantung dan pembuluh darah terlebih dahulu,” tegasnya.

Masih bagi penderita jantung yang sedang melakukan aktivitas fisik, bila merasa denyut jantung berdegup kencang, pusing, berkunang-kunang, mata gelap, nyeri dada, atau sesak, segera meminta bantuan orang di sekitar untuk mendapatkan penanganan.

“Kalau penderita jantung, jogging lebih disarankan, namun kembali lagi tergantung kondisi pasien tersebut,” ujarnya.

Karena dokter akan melakukan pemeriksaan lengkap sebelum pasien melakukan aktivitas fisik. Misalnya, dilakukan melalui uji latih beban atau tes treadmill terlebih dahulu. “Konsultasilah terlebih dahulu supaya jantung aman, olahraga pun nyaman,” tegasnya.

Apabila memang dalam kondisi normal dengan kebugaran yang baik, aktivitas yang dilakukan bisa seperti orang normal pada umumnya. Disarankan, aktivitas fisik dilakukan 150 menit dalam sepekan, misal 30 menit setiap hari selama 5 hari dalam sepekan.

Selama jogging, salah satu perlengkapan yang umum digunakan seseorang adalah alat ukur denyut jantung. Dokter Yusra mengatakan dengan mengukur denyut nadi adalah cara untuk memastikan seseorang, untuk berolahraga pada intensitas yang tepat, membantu meningkatkan kebugaran dan mencegah cedera.

Menurutnya, ini sangat penting menggunakan heart rate monitor, seperti jam tangan olahraga. “Selain kita bisa melihat jumlah langkah kaki saat jogging, juga bisa memantau denyut nadi. ketika penderita tsb denyutnya cepat, disarankan untuk beristirahat,” jelasnya.

Ada juga cara lain untuk memantau selain dengan menggunakan denyut nadi, yaitu dengan Rating of Perceived Exertion (RPE), menggunakan skala Borg. Untuk penderita jantung yang disarankan RPE 2-3, ini masih bisa melakukan aktivitas dengan santai, masih bisa mengobrol atau menyanyi. (yun)

Editor : Jelo Sangaji
#lari #jogging #Kesehatan Jantung #jantung