LombokPost – Setara Institute kembali merilis Indeks Kota Toleran (IKT) berdasarkan kinerja 2024, Selasa (27/5).
Lembaga itu merangking kota-kota di Indonesia berdasarkan skor dari berbagai indikator penilaian.
Hasilnya, Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng), menjadi kota paling toleran dengan skor 6,544.
Baca Juga: Makna Ketupat Agung dengan Latar Masjid Ceng Ho: Simbol Toleransi dari Muslim Tionghoa
Kota tertinggi kedua adalah Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar), dengan skor 6,420.
Berikut peringkat 10 besar kota toleran dari hasil survei Setara Institute:
1. Salatiga, Jawa Tengah, skor 6,544
2. Singkawang, Kalimantan Barat, skor 6.420
3.Semarang, Jawa Tengah, skor 6.356
4. Magelang, Jawa Tengah, skor 6.248
5. Pematang Siantar, Sumatera Utara, skor 6.115
6. Sukabumi, Jawa Barat, skor 5,968
Baca Juga: Parade 118 Ogoh-Ogoh di Mataram, Wali Kota dan Gubernur Ajak Jaga Toleransi
7.Bekasi, Jawa Barat, skor 5,939
8. Kediri, Jawa Timur, skor 5.925
9. Manado, Sulawesi Utara, skor 5.912
10. Kupang, NTT, skor 5.853
Sedangkan 10 kota dengan skor IKT terendah selama 2024:
1. Parepare, Sulawesi Selatan, skor 3,945
2. Cilegon, Banten, skor 3.994
3. Lhokseumawe, Aceh, skor 4.140
4. Banda Aceh, skor 4.202
Baca Juga: Bagikan Alquran ke TPQ, Aipda Gede Arya Tidak Indahnya Toleransi
5. Pekanbaru, Riau, skor 4.320
6. BandarLampung,Lampung, skor 4.357
7. Makassar, Sulawesi Selatan, skor 4.363
8. Ternate, Maluku Utara, skor 4.370
9. Sabang, Aceh, skor 4.377
10. Pagar Alam, Sumatera Selatan, skor 4,381
Baca Juga: Desa Buwun Sejati Jadi Contoh Kerukunan Umat Beragama
Dengan rilis IKT terbaru ini, Kota Mataram, Provinsi NTB, berhasil keluar dari peringkat 10 besar kota paling tidak toleran.
Pada tahun 2023, Kota Mataram berada di peringkat ke-6 sebagai kota paling toleran dengan skor 4,387.
Atau berada di urutan ke-89 dari 94 kota di Indonesia.
Baca Juga: Menag Puji Kerukunan Umat Beragama di NTB
Pada survei tahun 2022, Kota Mataram juga masuk daftar 10 besar indeks toleransi terendah.
Bahkan saat itu, Mataram berada di peringkat ke-5 sebagai kota paling tidak toleran.
Atau berada di urutan ke-90 dari 94 kota di Indonesia.
Ada delapan indikator sebagai alat ukur. Di antaranya, rencana pembangunan dalam bentuk RPJMD.
Lalu tidak ada kebijakan pemerintah yang diskriminatif.
Berikutnya, peristiwa intoleransi, dinamika masyarakat sipil terkait isu toleransi.
Indikator lain seperti pernyataan pejabat daerah tentang isu toleransi, tindakan nyata terkait isu toleransi.
Baca Juga: Sikapi Gesekan Desa Meninting dan Rembitan, FKUB NTB Minta Masyarakat Jangan Terprovokasi
Indikatornya juga mencakup heterogenitas keagamaan penduduk dan inklusi sosial keagamaan.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB Dr Buya Muhammad Subki Sasaki menyambut positif hasil survei itu.
Dikatakan Mataram sebagai ibu kota Provinsi NTB sudah jauh berbenah.
Antar umat beragama juga hidup rukun dan damai.
Baca Juga: MUI dan FKUB Lombok Tengah Kompak Jaga Kondusivitas Pemilu
Dalam hal toleransi dan kerukunan umat beragama, kata dia, NTB sudah mendapat apresiasi dari Kementerian Agama (Kemenag) RI.
"Tingkat toleransi kita sangat bagus. Kita sudah masuk ke level hijau muda. Kita akan naikkan lagi menjadi hijau tua dan setelah itu menjadi aman," jelas Subki.
Indikator kerukunan umat beragama NTB juga naik. Dari 62 menjadi 63 tahun ini.
Hal itu mendapat apresiasi dari Kemenag RI.
“Target kami tingkat toleransi dan kerukunan umata naik menjadi 70,” jelasnya.
Editor : Kimda Farida