LombokPost - Jelang Idul Adha 1446 Hijriah, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban untuk memastikan hewan layak dan aman dikonsumsi, sekaligus mencegah penularan penyakit dari hewan ke manusia.
“Kami sudah menggelar rapat koordinasi mengundang pihak terkait untuk membahas hal ini,” ujar Plt Kepala Disnakeswan NTB Ahmad Masyhuri, Selasa (27/5).
Sebanyak 173 orang dilibatkan dalam pengawasan hewan kurban, terdiri dari dokter hewan dan paramedis Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang, mahasiswa dan dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram, Disnakeswan NTB, dinas pertanian dan peternakan di kabupaten dan kota se-NTB, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan NTB, serta pihak terkait lainnya.
Tim Disnakeswan NTB bertugas di wilayah Kota Mataram dan sekitarnya, sementara kabupaten dan kota lain di NTB juga melakukan pengawasan serupa.
Sesuai tugasnya, tim memeriksa kesehatan fisik hewan kurban.
Saat ini, dinas pertanian dan peternakan di kabupaten dan kota se-NTB sudah mulai mengawasi hewan kurban di sentra ternak dan lapak penjualan.
“Ini yang disebut pengawasan hewan kurban ketika masih hidup atau ante mortem,” jelasnya.
Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan saat penyembelihan hewan kurban, terutama pada bagian hati untuk mendeteksi penyakit cacing hati atau Fasciola hepatica, serta pengawasan distribusi daging kurban atau post mortem.
“Tugas tim berlangsung sampai H+3 Idul Adha,” tambahnya.
Pengawasan bertujuan memastikan kesehatan hewan dan kecukupan syarat hewan sesuai amanat undang-undang dan syariat Islam.
“Terlebih di dalam agama Islam sudah jelas syarat-syarat atau kriteria hewan kurban yang tidak bisa ditawar-tawar,” tegas Ahmad Masyhuri yang juga Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB.
Partisipasi pedagang dan masyarakat diharapkan meningkat untuk bersama memastikan kesehatan hewan kurban, seperti memastikan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan kondisi hewan secara menyeluruh.
Disnakeswan juga mengantisipasi penularan penyakit dari hewan ke manusia, seperti antraks yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis.
Penyakit ini menyerang sapi, kerbau, kambing, dan domba dengan gejala suhu tubuh tinggi, kejang, leher bengkak, serta pendarahan pada telinga, hidung, anus, dan vagina.
“Kalau terjangkit, bukan hanya hewan yang meninggal, tetapi manusia juga bisa meninggal. Makanya penyakit yang menular dari hewan ke manusia terus kita pantau,” jelas Masyhuri.
Pengawasan tidak hanya fokus pada kesehatan hewan, tetapi juga aspek keamanan pangan bagi masyarakat yang mengonsumsi daging kurban.
Disnakeswan telah bersurat ke dinas pertanian dan peternakan kabupaten dan kota agar gencar melakukan pengawasan serupa di wilayah masing-masing.
“Semuanya harus kita antisipasi,” tandasnya.
Jelang Idul Adha, Dinas Pertanian Kota Mataram memperketat pengawasan masuknya sapi dari Sumbawa.
Pembatasan ini khusus untuk sapi kurban yang diperjualbelikan secara umum guna mencegah penyebaran penyakit hewan menular.
“Tidak untuk diperjualbelikan,” kata petugas Otoritas Veteriner Dinas Pertanian Kota Mataram, drh Mirfan Sabri.
Sapi dari daerah lain seperti Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Sekotong masih diizinkan masuk seperti biasa. Menurut Mirfan, pemasukan sapi dari Sumbawa hanya untuk tujuan khusus.
“Kita khususkan untuk dikurban,” jelasnya
Editor : Kimda Farida