Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Fotografer Difabel, Blusukan Dari Mataram Sampai Pulau Bungin, Sempat Disangka Orang Gila

Umar Wirahadi • Sabtu, 31 Mei 2025 | 11:44 WIB
UMAR/LOMBOK POST  PROFESIONAL: Suhendra Harianto adalah seorang fotografer difabel asal Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Dia rajin hunting foto meski dalam keterbatasan kondisi fisik.
UMAR/LOMBOK POST PROFESIONAL: Suhendra Harianto adalah seorang fotografer difabel asal Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Dia rajin hunting foto meski dalam keterbatasan kondisi fisik.

Menjadi fotografer jalanan adalah panggilan jiwa Suhendra Harianto. Untuk mendapatkan foto yang autentik, dia gemar blusukan dari pasar ke pasar. Dalam keterbatasan fisik, dia juga tidak jarang berburu foto sampai ke Pulau Bungin, memotret wajah ceria para nelayan. 

UMAR WIRAHADI, Lombok Tengah 

Baca Juga: Cerita Fotografer Juliadin Kuswara : Promosikan Keindahan Alam dan Budaya Lombok melalui Jepretan Foto

Dengan alat bantu jalan berupa kruk di kedua tangannya, Suhendra berjalan pelan di lorong Pasar Barebali, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Mata pembohong mengawasi aktivitas setiap pedagang.

Di bawah tenda terpal, dia melihat seorang pedagang duduk termenung. Di sampingnya dagangan aneka sayur menumpuk tanpa pembeli. 

Momen itu tidak ingin disia-siakan. Dia meraih kamera DSLR Pentax K-3 yang dikalungnya.

Suara "cekrek" pada lensa kamera yang digunakannya, kontan membuat si ibu terperanjat kaget.

Dia mengambil seikat kangkung dan dilempar ke arah Hendra. Si ibu itu mengira kalau pria di depan yang memotretnya adalah orang gila.

"Sampai saya dikatain orang gila sama ibu itu. Tapi saya langsung minta maaf. Saya bilang, saya bukan orang gila," kata Hendra kepada Lombok Post, Jumat (30/5). 

Peristiwa itu terjadi pada tahun 2018 silam. Bagi Hendra, momen itu sangat membekas di benakku.

Bukan karena dia dianggap orang gila. Tapi foto hasil jepretan itulah yang sangat berkesan.

Dia memotret wajah asli seorang ibu paro baya yang duduk termenung di depan dagangannya. Tanpa pembeli. 

Baca Juga: Berkenalan dengan Adye, Fotografer Motor Sport, Pengalaman Tak Terlupa Saat Foto Kamar 'Dewasa'

Foto itu lalu dikirim ke APF Magazine Street Photography Group. Atas persetujuannya, admin grup fotografer internasional itu kemudian mengunggah foto hasil jepretan Hendra itu.

Secara real time, dalam hitungan menit foto itu langsung mendapat ribuan likes dan komentar dari berbagai akun dalam dan luar negeri. 

Komentar mereka macam-macam. Ada yang merasa iba dan bangga dengan perjuangan si ibu.

Tapi rata-rata mengapresiasi kualitas foto karena diambil dengan teknik foto yang berkelas. 

“Suatu hari hasil postingan foto di APF Magazine Street Photography itu saya lihatkan ke ibu tadi. Dia langsung tertawa. Katanya jadi motivasi supaya menjadi tangguh sebagai pedagang di pasar,” tutur Hendra. 

Pasar rakyat seolah menjadi rumah kedua pria kelahiran 20 Maret 1997 itu.

Selain di Pasar Barebali, dia juga keluar masuk sejumlah pasar di Lombok Tengah.

Seperti Pasar Renteng di Praya, Pasar Mantang, dan Pasar Jelojok.

Di Kota Mataram, dia juga sering mengunjungi Pasar Mandalika. Sedangkan di Pasar Lombok, Hendra biasa berburu foto di Pasar Umum Masbagik, Pasar Pancor dan Pasar Selong. 

“Saya senang karena di pasar terjadi interaksi masyarakat yang apa adanya. Tanpa direkayasa,” ucapnya.  

Baca Juga: Gambar Fantastis Gunung Bromo Meraih Penghargaan Fotografer Terbaik Asia Tenggara di The Pano Awards

Hendra menyebut hasil jepretan di pasar sebagai foto etnografi atau etnografi visual. Yaitu foto yang secara langsung menampilkan ekspresi wajah seseorang.

Mulai dari tertawa lepas, tersenyum, hingga wajah sedih.

“Semuanya saya dokumentasikan,” katanya. 

Dia juga pernah mengambil foto berupa cidomo yang sarat dengan muatan di Pasar Mantang. Foto itu mendapat apresiasi luas dari Indonesia on the Street.

Itu adalah komunitas fotografer jalanan yang masih eksis sampai sekarang. Kuda yang menarik cidomo terlihat berlari kencang.

Hendra menggunakan teknik panning. Itu teknik dalam fotografi yang menggerakkan kamera searah dengan objek yang bergerak.

Sehingga objek terlihat tajam dan latar belakang tampak buram.

"Foto ini masuk jadi koleksi di Indonesia on the Street sampai sekarang," paparnya. 

Karena keterbatasan kondisi fisik, saat berburu foto dia beberapa kali mendapatkan kejadian. Seperti terpeleset hingga tercebur ke dalam selokan di area pasar.

“Ini karena kruk (alat bantu berjalan, Red) yang saya pakai tidak menapak di jalan dengan tepat. Sehingga saya ikut terjatuh,” tuturnya lalu tersenyum. 

 Baca Juga: Cerita Azkurli Hidayat, Fotografer Andalan DPRD Lobar Berlatar Belakang Teknisi Bidang Kedokteran

Hendra Harianto memang fotografer difabel. Awalnya dia terlahir normal. Tapi pada Agustus 1998 petaka itu terjadi.

Dia mengalami kecelakaan hebat di Suranadi, Lombok Barat.

Sampai kaki kirinya diamputasi hingga pangkal paha.

Saat kejadian itu terjadi, pria 48 tahun itu berpikir tidak bisa lagi menyampaikan hobinya sebagai fotografer. 

Tapi dengan keterbatasan fisik, dia tetap aktif berburu foto.

"Makanya ke mana-mana selalu pakai kruk supaya bisa jalan," jelas pria berambut gondrong itu. 

Selain pasar, dia juga paling takjub dengan kehidupan dan aktivitas para nelayan.

Untuk mendapatkan foto yang kuat secara visual, Hendra sering berburu foto ke Pulau Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.

Perjalanan itu dilakukan seorang diri.

“Bisa dipastikan setiap tanggal 17 Agustus saya ada di Pulau Bungin buat motret,” tegasnya.

Foto ilustrasi Pulau Bungin
Foto ilustrasi Pulau Bungin

Di Pulau Bungin memang ada tradisi upacara 17 Agustus.

Kegiatan upacara dilakukan di tengah-tengah kampung yang berada di tengah laut.

Semua warga yang bekerja sebagai nelayan ikut upacara. Foto di Pulau Bungin itu juga pernah dikirim ke APF Magazine Street Photography. 

Hendra juga pernah berburu foto sampai ke Padang Savana Doro Ncanga di kaki Gunung Tambora, Kabupaten Dompu.

Di sana bahkan dia ditinggal rombongan fotografer yang lain.

"Saya ketinggalan rombongan karena saking asyiknya moto. Rombongan sudah pulang, saya masih motret sendirian. Akhirnya saya sendirian di tengah Savana itu," tuturnya lalu tertawa lepas. 

 

Foto ilustrasi Padang Savana Doro Ncanga
Foto ilustrasi Padang Savana Doro Ncanga

Menariknya, Hendra selalu menyimpan hasil jepretannya. Foto terlambat diambil tahun 1994.

Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Foto yang diambilnya masih terdokumentasi hingga saat ini.

"Di hardisk komputer saya mungkin tersimpan 10 ribu foto lebih. Setiap kali saya membuka file-file lama saya selalu teringat perjuangan saya motret di tempat itu," sambungnya. 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Kini, dia mulai berencana untuk menerbitkan buku foto hasil karyanya.

Dia juga sudah berkomunikasi dengan Indonesia di The Street, komunitas yang menuaungi fotografer di Indonesia.

"Ada anggota komunitas yang ngajak mau terbitkan foto buku. Kemungkinan saya akan bergabung nanti," tandas pria yang pernah kuliah di Akademi Keperawatan YARSI Mataram sekarang Institut Ilmu Kesehatan (Inkes) YARSI Mataram itu. (*)

Editor : Kimda Farida
#pulau bungin #APF #fotografer #hunting foto #difabel