Pemerintah Provinsi NTB sudah mengambil langkah awal pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok dengan mengalokasikan anggaran studi kelayakan serta menyusun desain dasar jalan tol raksasa 80 km Pulau Lombok di tahun 2025 ini.
Pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok merupakan rencana besar yang digaungkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Pantai Kuta Mandalika.
Saat itu ada aspirasi masyarakat Pulau Lombok bagian selatan, yang disampaikan kepada Presiden Joko Widodo yang menghadiri HPN 2016 di Kuta Mandalika.
Masyarakat menginginkan adanya jalan tol ini yang menghubungkan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat dengan Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, melewati wilayah selatan Pulau Lombok.
Dan aspirasi ini mendapat respon Presiden Jokowi namun belum sempat terealisasi yang kemungkinan karena kendala anggaran.
Konon, pembanguna jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok ini menelan anggaran hingga 1,9 Triliun Rupiah.
Pembangunan Pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok recananya menggunakan dua skema pembiayaan, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pembebasan lahan, kemudian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan fisik jalan.
Kini, di bawah kepemimpinan Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE, Pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok akan benar-benar terwujud.
Jalan tol raksasa yang dibangun untuk menghubung dua pelabuhan di Pulau Lombok melalui jalur selatan.
Jalan tol yang rencananya memiliki panjang 80 km ini akan menghubungkan dua pelabuhan, yakni Pelabuhan Lembar di Kabupaten Lombok Barat dengan Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur.
Pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok ini diharapkan bisa mempermudah akses ke tempat wisata agar lebih efisien. Dan jalan Tol Lembar-Kayangan akan menjadi yang pertama di NTB.
Dan bukan sekedar rencana, Pemprov NTB pun mulai pengerjaan pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok tahun ini.
Didukung oleh Keputusan Menteri PUPR No. 367 Tahun 2023 yang memasukkan Jalan Tol Port to Port ke dalam Rencana Jalan Tol Nasional 2025–2029, melalui Dinas PUPR, Pemrov telah mengambil langkah awal yang penting dengan mengalokasikan anggaran untuk melakukan studi kelayakan serta menyusun desain dasar jalan tol sepanjang 80 km.
“Ini sudah bukan lagi rencana di atas kertas. Tahun ini, kami fokus menyelesaikan studi awal dan desain dasar untuk ruas awal dari Lembar/Gilimas ke Praya sejauh 27,5 kilometer,” ungkap Kepala Dinas PUPR NTB, Sadimin, ST, MT, pada Jumat (30/5/2025).
Pemprov menimbang, kebutuhan masyarakat akan jalur transportasi alternatif sudah sangat urgen, untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jalan utama sepanjang 94,68 kilometer yang sering macet. Terutama di kawasan pasar seperti Narmada, Mantang, Aikmel, dan Apitaik.
Pemprov NTB akan mengkaji tiga alternatif jalur, yakni utara, selatan, dan tengah.
Jalur tengah sepanjang 80 km akan menjadi fokus utama karena diyakini memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi ekonomi wilayah pedalaman.
Jalur tengah bisa menjadi motor penggerak pembangunan di Lombok Barat, Tengah, dan Timur.
"Ini bentuk nyata dari upaya negara hadir untuk masyarakat yang selama ini terpinggirkan,” ungkap Sadimin.
Dengan dibangunnya jalan tol raksasa ini, maka kemacetan arus lalu lintas di jalur utara dari Kota Mataram menuju Lombok Timur yang kerap menimbulkan lakalantas, bisa dialihkan ke jalan tol raksasa yang akan dibangun ini.
Selain itu, kendaraan pengangkut barang dari Pelabuhan Lembar tujuan Lombok Timur atau Pulau Sumbawa tak lagi harus melewati Kota Mataram atau Lombok Barat bagian utara.
Sehingga dari segi kecepatan dan ketepatan tiba dilokasi tujuan lebih efisien.
Terwujudnya pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok ini membuat NTB semakin menunjukkan komitmen Pemprov NTB bersikap adil dan merata dalam pembangunan infrastruktur.
Tak hanya sekadar proyek teknis, tapi juga instrumen pemerataan dan keadilan sosial. Karena pembangunan jalan tol raksasa 80 km di Pulau Lombok akan menjadi simbol pemerataan pembangunan NTB.
Terlebih lagi pada jalan tol raksasa 80 km ini akan dibuat sodetan baru sepanjang 10–15 kilometer dari Bundaran Bandara menuju Labuan Lombok. Jika ini berhasil diwujudkan, maka konektivitas antarwilayah di Lombok akan semakin solid dan menyeluruh.
“Ini proyek bersama. Dari wacana sepuluh tahun lalu, kini kita berada di ambang realisasi. Port to Port bukan lagi sekadar mimpi, tapi sedang dibangun menjadi kenyataan masa depan NTB,” tegas Sadimin.
Editor : Siti Aeny Maryam