LombokPost - Sejumlah warga Lombok Tengah bersemangat terkait rencana pembangunan jalan tol di pulau yang terbilang kecil ini.
Ada juga yang mengaitkannya dengan jalan semacam by pass, namun kali ini lebih panjang.
Port to port, atau dari pelabuhan ke pelabuhan, tepatnya Pelabuhan Lembar di Lombok Barat hingga Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur.
Entah kapan terlaksana, yang pasti rencana yang mungkin baru sebatas wacana itu membuat banyak orang Lombok bersemangat.
Keberadaan jalan tol Lombok, atau bypass baru port to port, atau mungkin sekadar pelebaran jalan nasional diharapkan warga dapat memberi manfaat yang jelas.
"Ya semoga saja, tentu sangat kita harapkan, supaya tidak berjam-jam lagi bermacet ria kalau pulang kampung," kata Irma Dian Sari, warga Kecamatan Ampenan, Kota Mataram yang masih rutin mudik ke Sambelia, Lombok Timur.
"Walau pun agak pesimis, tapi ya semoga saja jalan tol Lombok benar akan dibangun," timpal Wahyu, sang suami yang mengatakan butuh waktu 3,5-4,5 jam untuk perjalanan 100 km berkendara dari Ampenan ke Sambelia, Lombok Timur.
Pulau Lombok memang memiliki kebutuhan transportasi yang unik dan kompleks. Berikut beberapa pertimbangan tentang apakah Pulau Lombok memerlukan jalan tol atau tidak, dirangkum dari berbagai sumber
Pertama, Lombok memiliki potensi pariwisata yang besar, dan pembangunan jalan tol dapat membantu meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas wisatawan. Tengoklah bagaimana membantunya jalur bypass 1 dan 2 yang menghubungkan Mataram, Lombok Barat, hingga Lombok Tengah.
Baca Juga: Lombok VS Bali, Liburan Sebaiknya ke Sini Saja
Jalan tol dapat membantu meningkatkan efisiensi transportasi barang dan jasa, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Pulau Lombok. Ingat, Lombok juga menjadi mata rantai penting penghubung jalur distribusi barang, orang, dan jasa kawasan timur dan barat Indonesia.
Berikutnya, jalan tol dapat membantu mengurangi kemacetan dan meningkatkan keselamatan lalu lintas. Jalan negara yang ada saat ini terbilang kecil. Banyak pasar tumpah, belum lagi adanya tradisi nyongkolan di jalan yang membuat kemacetan makin parah di Lombok.
Namun masalahnya, pembangunan jalan tol di Lombok dapat memerlukan biaya yang tinggi karena harus dilakukan pembebasan lahan. Belum lagi biaya transportasi yang tak murah.
Dampak lingkungan pembangunan jalan tol Lombok juga harus dipertimbangkan. Semisal perubahan ekosistem, potensi pembabatan hutan, hingga penggusuran, bahkan juga berkurangnya area pertanian karena dialihfungsikan menjadi jalan.
Dalam menentukan apakah Pulau Lombok memerlukan jalan tol atau tidak, perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam tentang kebutuhan transportasi, dampak lingkungan, dan biaya konstruksi.
Ingat, pemerintahan Prabowo sedang mengencangkan ikat pinggang untuk penghematan anggaran. Perlu dipikirkan juga beragam hal teknis lainnya.
Akhirnya mari sabar menanti. Apakah jalan tol Lombok akan terus menjadi mimpi di siang bolong, atau benar-benar berkah anak soleh bagi Lombok. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic