LombokPost – Program Tol Laut yang digadang-gadang sebagai solusi pemerataan ekonomi dan penurunan harga di Indonesia Timur, menghadapi tantangan serius di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB Lalu Mohammad Faozal, secara terus terang mengakui operasional Tol Laut di NTB hingga saat ini belum mencapai keseimbangan yang diharapkan.
"Terus terang tol laut di Provinsi NTB kita tidak balance product. Tingkat keterisian barang masuk dan keluar tidak seimbang," jelas Faozal.
Pernyataan Faozal ini menyoroti permasalahan fundamental dalam efektivitas Tol Laut di NTB.
Konsep balance product mengacu pada idealnya keseimbangan volume barang yang diangkut kapal dari wilayah barat ke timur (masuk) dengan volume barang yang diangkut dari timur ke barat (keluar).
Ketidakseimbangan ini mengindikasikan kapal-kapal yang membawa barang masuk ke NTB seringkali kembali dengan muatan kosong atau tidak penuh, yang secara langsung berdampak pada efisiensi operasional dan biaya.
Dampak ketidakseimbangan muatan ini membawa beberapa konsekuensi.
Peningkatan Biaya Operasional, kapal yang kembali kosong atau dengan muatan minim berarti biaya operasional per unit barang menjadi lebih tinggi, karena biaya pelayaran harus ditanggung oleh muatan satu arah saja.
Optimalisasi Belum Tercapai, tujuan utama Tol Laut untuk menciptakan efisiensi logistik belum sepenuhnya tercapai jika kapal tidak dimaksimalkan kapasitasnya dalam kedua arah pelayaran.
Kurangnya Pemanfaatan Potensi Lokal, keterisian barang keluar yang rendah juga mengindikasikan potensi produk unggulan NTB untuk didistribusikan ke wilayah lain belum termanfaatkan secara optimal.
Permasalahan ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan para pelaku usaha di NTB.
Perlu ada strategi komprehensif untuk mendorong peningkatan produksi dan agregasi barang-barang lokal yang memiliki nilai jual dan daya saing untuk dikirimkan ke wilayah barat Indonesia.
Peningkatan Produktivitas Sektor Unggulan, mendorong produksi hasil pertanian, perikanan, atau kerajinan yang dapat diekspor.
Fasilitasi Akses Pasar, membantu pelaku UMKM dan produsen lokal menemukan pasar di luar NTB.
Pengembangan Pusat Logistik, membangun fasilitas penampungan dan konsolidasi barang di dekat pelabuhan untuk memudahkan pengiriman.
Sinkronisasi Data dengan mengidentifikasi jenis dan volume barang yang paling dibutuhkan di luar NTB dan yang paling banyak diproduksi di NTB.
Pernyataan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan ini menjadi sinyal penting bagi semua pihak terkait untuk mengevaluasi dan merumuskan langkah-langkah konkret agar Tol Laut di NTB.
Agar dapat beroperasi lebih efektif, tidak hanya sebagai jalur masuk barang tetapi juga sebagai sarana pendorong ekonomi lokal melalui peningkatan volume pengiriman barang keluar.
Editor : Rury Anjas Andita