LombokPost - Jemaah haji asal NTB tidak lama lagi akan menginjakkan kaki di Tanah Air. Ketua Kerja Tim 4 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram dr Ferry Wardhana mengatakan, kesiapan kepulangan jemaah haji dari Tanah Suci, pihaknya segera menggelar rapat koordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan 10 kabupaten/kota, untuk menyediakan masing-masing satu unit ambulans di UPT Asrama Haji Debarkasi Lombok. “Semuanya harus standby di asrama haji,” ujarnya.
BKK Mataram juga mengerahkan tiga unit ambulans untuk menyambut kepulangan jemaah haji asal NTB saat di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM). Pihaknya juga berkoordinasi dengan tiga rumah sakit (RS) rujukan, RS Mandalika, RS Tripat dan RSUD NTB. “Ini untuk mengantisipasi apabila ada jemaah haji kita yang mengalami kondisi kritis pada saat kepulangan,” tegasnya.
Tak ketinggalan, BKK Mataram berkoordinasi dengan BKK Medan, Sumatera Utara. Karena pesawat yang membawa jemaah haji asal NTB akan transit di Bandara Internasional Kualanamu.
“Sebagai langkah antisipasi kami juga, apabila ada jemaah haji kita yang mengalami kondisi kritis di Kualanamu, bisa ditangani pada saat di Medan,” jelas dr Ferry.
Kemudian, setibanya di UPT Asrama Haji Debarkasi Lombok, BKK Mataram tetap akan memeriksa kesehatan jemaah haji setelah pulang dari Arab Saudi, ini untuk memantau kondisi kesehatan mereka, mencegah penularan penyakit, dan memastikan mereka dalam kondisi baik.
“Di Aula Bir Ali 1, ada pemeriksaan screening suhu tubuh, pemeriksaan survailen TBC serta yang lain, pastinya petugas kami akan keliling untuk melihat jemaah haji saat kepulangan,” ujarnya.
Berkaca dari pengalaman, penyakit yang paling diantisipasi adalah Meningitis. Tahun lalu ada jamaah haji NTB yang meninggal saat kepulangan disebabkan oleh Meningitis.
“Penyakit berikutnya ada Covid-19, flu dan radang paru-paru, pastinya juga TBC, kami akan melihat apakah jamaah haji yang mengidap TBC itu rutin minum obat atau tidak,” tandas dr Ferry.
Sementara itu, Kepala UPT Asrama Haji Lombok Hj Wardatul Jannah mengatakan pihaknya telah mempersiapkan diri untuk kepulangan jemaah haji. “Fasilitas di Aula Bir Ali I akan kami gunakan sebagai lokasi kedatangan para jamaah, ini sudah kami persiapkan ya,” ujarnya.
Untuk kamar di gedung Asrama Haji, situasinya sangat kontras saat keberangkatan. Saat keberangkatan, jemaah harus menginap tetapi saat kepulangan langsung di jemput oleh keluarga masing-masing.
Meski demikian, ada saja yang memanfaatkan fasilitas UPT Asrama Haji, yakni jemaah haji asal Kota Bima dan Sumbawa Barat. Untuk Kota Bima, jamaah haji akan menginap satu malam, dan keesokan harinya, mereka pulang ke Kota Bima menggunakan pesawat.
Baca Juga: Rumah Subsidi Kian Mungil, Ini Perubahan Aturan dari Era Presiden Megawati hingga Prabowo
Sementara itu, jemaah haji asal Sumbawa Barat memanfaatkan fasilitas hanya untuk beristirahat dan mengganti pakaian, kemudian di hari yang sama rombongan langsung bertolak ke Sumbawa Barat.
“Dari jauh-jauh hari Kemenag Kota Bima dan Sumbawa Barat sudah bersurat ke kami, dan kami siapkan kamar untuk mereka,” jelas dia.
Untuk penjemputan jamaah haji, keluarga hanya diizinkan menjemput dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Maksimal yang diizinkan masuk hanya dua orang anggota keluarga. ***
Editor : Jelo Sangaji