LombokPost – Selangkah lagi, Provinsi NTB akan memiliki jalan tol pertama yang membentang di Pulau Lombok.
Jalan bebas hambatan itu akan menghubungkan Pelabuhan Lembar di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dengan Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).
Proyek ambisius itu direncakan untuk segera di-launching tahun ini.
"Insya Allah prinsipnya tahun ini target bisa di-launching," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB Sadimin, Senin (9/6).
Saat ini, pemprov sedang menyusun feasibility study (FS) atau studi kelayakan jalan tol Lembar-Kayangan.
Dokumen itu berisi tentang detail rencana mulai dari konstruksi jalan, desain jalan hingga rute yang dilintasi.
Termasuk di dalamnya kebutuhan lahan, kelayakan lingkungan, panjang jalan maupun rencana anggaran biaya (RAB).
Penyusunan FS dianggarkan dari APBD NTB senilai Rp 5 miliar.
"Sebetulnya FS ini pekerjaan pusat tapi provinsi yang kerjakan. Karena Pak Gubernur (Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Red) ingin proyek ini dipercepat," jelas Sadimin.
Dalam FS akan disebutkan kepastian rute yang dilintasi tol Lembar-Kayangan. Dari tiga trase yang ada, alternatif yang paling mungkin adalah melalui jalur tengah.
Jalur tengah mulai dari Lembar sampai ke Praya, Lombok Tengah. Dari Praya jalan diarahkan menuju by pass 3, persisnya di antara Bandara Internasional Lombok (BIL) menuju KEK Mandalika.
Di pertengahan by pass 3 akan diteruskan ke timur menuju Keruak, Lombok Timur.
Jalur dari Keruak langsung ke Selong. Dari Selong menuju ke Pelabuhan Kayangan. "Panjangnya kurang lebih 81 kilometer. Jalur tengah ini yang paling efektif," papar Sadimin.
Dua trase lainnya adalah jalur selatan melalui KEK Mandalika dengan panjang sekitar 86 kilometer. Trase ketiga, jalur yang berdampingan dengan jalan eksisting Mataram-Kayangan sepanjang 94 kilometer.
"Jalur tengah dipilih karena bisa memangkas biaya sehingga tidak terlalu mahal," ujarnya.
Meksi demikian, tetap dibutuhkan biaya pembebasan lahan yang tidak sedikit.
Kerugian lainnya jika memilih jalur tengah akan banyak area persawahan warga yang terdampak pembebasan lahan. Karena jalur itu berupa persawahan di luar permukiman dan jalan eksisting. "Semua jalur ini yang menentukan pusat," papar Sadimin.
Pada Selasa (10/6), Kadis PUPR Sadimin mengikuti rapat dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) di Jakarta.
Dalam momen itu juga akan disampaikan surat permohonan ke Dirjen Pembiayaan Infrastruktur dan Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Nah, setelah mendapatkan izin, Gubernur Iqbal akan mengundang Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo untuk menggelar launching proyek tol Lembar-Kayangan.
"Insya Allah paling lama sebulan. Ini menunjukkan bahwa Pak Gubernur (Lalu Muhamad Iqbal, Red) sangat serius untuk segera bisa merealisasikan tol port to port ini," jelas Sadimin.
Diketahui, rencana pembangunan tol Lembar-Kayangan telah tertuang dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 367/KPTS/M/2023 tentang Rencana Umum Jaringan Jalan Nasional 2020-2040.
Penanganannya akan dilakukan tahun 2025-2029. Perkiraan anggaran kebutuhan konstruksi mencapai sekitar Rp 22 triliun dan biaya pembebasan lahan sekitar Rp 1,9 triliun.
Editor : Siti Aeny Maryam