Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPBD NTB Sebut Kemarau Basah Ringankan Bencana Kekeringan

Yuyun Kutari • Rabu, 11 Juni 2025 | 10:34 WIB
KEBUTUHAN PRIMER: Petugas BPBD NTB menyalurkan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan, di salah satu wilayah di Pulau Lombok beberapa waktu lalu.
KEBUTUHAN PRIMER: Petugas BPBD NTB menyalurkan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan, di salah satu wilayah di Pulau Lombok beberapa waktu lalu.

LombokPost - Provinsi NTB menjadi salah satu dari 185 zona musim (ZOM) di Indonesia yang mengalami musim kemarau, dengan sifat di atas normal. Kondisi ini disebut kemarau basah, yakni intensitas hujan masih tergolong tinggi meski frekuensinya menurun.

“Hampir tujuh bulan daerah kita dilanda hujan, jadi lumayan panjang musim hujannya, sementara musim kemarau agak pendek, dari Juli-Oktober, nanti di November kita sudah hujan lagi,” terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Ahmadi, Selasa (10/6).

Dengan kondisi itu, Ahmadi menilai menjadi keuntungan bagi NTB. Sebab, kekeringan tidak akan berdampak luas, seperti tahun lalu. ”Tahun ini saya rasa tidak seperti itu, istilahnya kan kemarau basah ini memperpanjang durasi musim hujan,” jelas dia.

Di tahun sebelumnya, dengan kondisi memasuki musim kemarau, pemda biasanya telah merisil SK Tangggap darurat kekeringan, pada Mei dan Juni. Namun, pada 2025, hingga Juni, BPBD NTB belum menerimanya.

SK tersebut menjadi cara pemda, untuk meminta bantuan BPBD, dalam hal pengerahan sumber daya manusia, peralatan, dan logistik penanganan bencana kekeringan. “Sampai sekarang, belum ada di meja saya SK tanggap darurat dari kabupaten dan kota, paling nanti Juli atau nggak Agustus,” kata dia.

Kendati demikian, BPBD NTB tetap melaksanakan tugasnya untuk mendistribusikan air bersih. Fokusnya ke sejumlah wilayah yang tidak memiliki jaringan pipa air bersih. “Kalau kawasan irigasi, kita nggak ke sana dulu. Irigasi juga masih jadi sumber air warga, mereka masih bisa bertahan, sekarang kita akan fokus ke wilayah yang tidak ada jaringan pipa air bersih,” jelasnya.

Bagi warga yang tinggal di kawasan tidak memiliki sumber air, diakui Ahmadi, kebutuhan air bersih bertumpu pada distribusi air oleh pemerintah serta pihak swasta. “Biasanya ini terjadi kawasan selatan Pulau Lombok, ada di Sumbawa bagian timur, Dompu juga ada beberapa wilayah yang akan kita distribusi air bersihnya,” tandas mantan Sekretaris Dinas PUPR NTB ini.

Terpisah, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Satria Topan Primadi menegaskan curah hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian I Juni 2025 secara umum berada pada kategori rendah, hingga kategori menengah, dan terdapat sebagian kecil wilayah dengan kategori curah hujan tinggi.

“Sifat hujan pada dasarian I Juni 2025 di wilayah NTB umumnya berada pada kategori Atas Normal (AN), terdapat pula sebagian kecil wilayah dengan kategori sifat hujan Bawah Normal (BN) hingga Normal (N),” jelasnya.

Masyarakat tetap perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba – tiba dan bersifat lokal, banjir dan tanah longsor. Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya.

Editor : Jelo Sangaji
#bencana kekeringan #Kekeringan #kemarau basah #musim kemarau #tanggap darurat