LombokPost--Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-langit (YPPCBL) kembali menggelar bakti sosial (baksos) di NTB.
Lembaga nirlaba asal Bandung, Jawa Barat itu, melakukan operasi bagi penderita bibir sumbing, celah langit-langit, dan celah wajah lainnya.
Kegiatan baksos berlangsung selama tiga hari, sejak Jumat hingga Minggu (13-15), dengan total pasien sebanyak 32 orang.
Terdiri dari 23 pasien di Rumah Sakit Islam Yatofa Lombok Tengah dan 9 pasien di RS Bhayangkara Mataram.
"Kami berterima kasih kepada banyak pihak yang memudahkan jalannya baksos ini, khususnya kepada Bapak TGH Fadli Fadhil Thohir (Tuan Guru Bodak, Red)," kata Ketua YPPCBL Bandung drg Ida Ayu Astuti.
Ia menyampaikan, YPPCBL rutin menggelar baksos di NTB sejak 2005. Hingga kini, yayasan itu sudah 40 kali menggelar baksos di Bumi Gora dengan total pasien yang ditangani mencapai sekitar 1.800 orang.
Atas dedikasinya, YPPCBL diganjar sertifikat penghargaan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB Sinta Agathia.
"Tujuan baksos ini untuk membantu masyarakat kurang mampu yang menderita bibir sumbing, celah langit-langit, dan celah wajah lainnya. Pasien yang mampu juga bisa dibantu," jelas drg Ida Ayu.
Ketua Persatuan Ahli Bedah Mulut dan Maksilofasial (PABMI) Wilayah NTB drg Siti Zaidah menyampaikan, kasus bibir sumbing dan kelainan wajah lainnya masih cukup tinggi di NTB.
"Dari dulu sampai sekarang belum ada perubahan yang signifikan. Buktinya, setiap kali digelar baksos, jumlah pasien selalu mencapai puluhan orang," katanya.
Menurutnya, dibutuhkan perhatian dari para pemangku kepentingan, termasuk pimpinan daerah.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu mendorong petugas puskesmas lebih aktif melakukan sosialisasi dan edukasi terkait pola hidup sehat serta asupan gizi yang cukup.
"Karena penyebabnya juga bisa karena gizi buruk. Bisa juga karena polusi, misalnya di daerah tambang," ujar drg Siti.
Sosialisasi, lanjutnya, harus digencarkan kepada ibu hamil dan pasangan baru menikah agar memahami cara menjaga kehamilan agar bayi lahir sehat dan normal.
"Prinsipnya, mari kita bersama-sama memikirkan upaya yang dapat dilakukan, termasuk para pemangku pemerintahan, untuk mengatasi masalah ini," tandas drg Siti Zaidah. (mar/r7)
Editor : Kimda Farida