Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemprov NTB Diminta Sigap Tangani Kasus Arumi

Fatih Kudus Jaelani • Senin, 16 Juni 2025 | 20:38 WIB
MEMINTA KEADILAN: Arumi Aghnia Azkayra, 1,4 tahun, warga Kabupaten Bima, sedang bermain dengan ibunya saat menjalani rawat jalan di RSUD Provinsi NTB, beberapa waktu lalu.
MEMINTA KEADILAN: Arumi Aghnia Azkayra, 1,4 tahun, warga Kabupaten Bima, sedang bermain dengan ibunya saat menjalani rawat jalan di RSUD Provinsi NTB, beberapa waktu lalu.

 

LombokPost – Anggota Komisi V DPRD NTB Made Slamet angkat bicara soal kasus
dugaan malapraktik yang menimpa warga Kabupaten Bima Arumi Aghnia Azkayra, 1,4
tahun. Putri kedua pasangan Andika Putra dan Marliana itu diduga mendapatkan
pelayanan buruk tenaga medis di fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Bima. Hal
itu sampai menyebabkan adanya infeksi dan membuat tangan Arumi diamputasi.

Politisi PDIP itu mengatakan kasus yang dialami warga Kabupaten Bima ini merupakan
persoalan kompleks di bidang kesehatan NTB. Di mana aspek pelayanan kesehatan
selama ini menjadi hal yang selalu dikeluhkan warga. Karena itulah ia mendorong
pemerintah provinsi untuk dapat segera menuntaskan kasus tersebut.

“Jangan sampai dibiarkan terus membesar. Ini tanggung jawab banyak pihak. Tidak
bisa hanya tenaga medis yang menjadi sorotan kesalahan. Tapi ini kan pasien BPJS
juga, di mana prosedur rujukan ini berbelit-belit. Dan nakes biasanya tidak boleh
bersuara soal itu,” kata Made Slamet pada Lombok Post, Minggu (15/6).

Kondisi emosi keluarga Arumi dan warga Kabupaten Bima yang memberikan dukungan
harus dapat diredam oleh Pemprov NTB. Dalam hal ini, Made juga mendorong
pemerintah daerah Kabupaten Bima untuk tidak tinggal diam. Dari mulai tingkat
Kecamatan yang bertanggung jawab atas Puskesmas Bolo, sampai dengan Pemkab
Bima.

“Pemerintah harus bisa meredam. Jangan sampai dibiarkan terus membesar. Semua
harus turun tangan, ada bupati sampai camatnya juga harus turun tangan. Jangan diam
saja,” tegas Made.

BPJS Juga Harus Dievaluasi

Baca Juga: Statistik Keren Immobile Buat AC Milan Jatuh Hati


Dalam kasus tersebut, Made menyoroti adanya regulasi rujukan berjenjang yang
menjadi salah satu penyebab lambannya penanganan Arumi dari satu faskes ke faskes
lanjutan. Menurutnya, masalah kasus tersebut juga ada di BPJS Kesehatan.

“BPJS ini sangat tidak sesuai dengan harapan kita. Rujuk sana rujuk sini. Sementara
mengenai hal itu, nakes tidak boleh ngomong. Kadang mereka juga tidak berani
berbicara soal itu. Setahu saya, BPJS ini juga hutangnya numpuk ke rumah sakit,”
bebernya.

Di sisi lain, persoalan belum meratanya kualitas pelayanan kesehatan juga harus
segera atasi. Hal itu juga ditambah lagi dengan persoalan kesejahteraan tenaga kesehatan. Tunjangan pelayanan kata Made masih hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil nakes.

“Sehingga dalam hal ini, tidak bisa sepenuhnya kita menyalahkan nakes. Tugas mereka
ini berat. Sementara kesejahteraannya, khususnya yang honorer masih sangat jauh
dibanding tugasnya dalam melakukan pelayanan,” papar Made.

Karena itu, evaluasi menyeluruh menjadi keharusan. Apa yang terjadi pada Arumi harus
dapat diselesaikan dari semua lini. Ia meyakini, persoalan tersebut muncul karena
adanya sistem pelayanan kesehatan yang masih jauh dari kata layak.

Sehingga tidak bisa dilihat dari hal dugaan malapraktiknya saja, akan tetapi juga hal-hal
lain yang terkait dengan kenapa kelalain tenaga kesehatan di sebuah fasilitas
kesehatan milik pemerintah bisa terjadi.

“Semua harus dievaluasi. Dan sambil melakukan evaluasi ini, peran pemerintah
terhadap keluarga korban juga harus dipastikan,” tegasnya.

Arumi Aghnia Azkayra balita berusia 1,4 tahun, anak kedua pasangan Andika Putra dan
Marliana, asal Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima dikabarkan harus kehilangan tangan
kanannya akibat infeksi hebat yang diduga akibat malapraktik  oleh tenaga kesehatan di
Puskesmas Bolo, pada awal April lalu.

Di  RSUP NTB , Marliana menceritakan kronologis bagaimana tangan kanan putrinya
harus diamputasi oleh RSUP NTB.

“Pada tanggal 10 April, anak saya masuk IGD Puskesmas Bolo karena demam dan
muntah. Ini penyakit biasa, tapi kenapa jadinya sampai harus seperti ini. Sampai saat
ini, saya sangat menyayangkan pihak puskesmas dan rumah sakit di Bima yang belum
memberikan tanggapan apa-apa terhadap kondisi anak saya,” kata Marliana.

Ia mengatakan telah melayangkan laporan ke Polres Bima. Pihaknya berharap
pemerintah memberi perhatian khusus terhadap kasus yang menimpa putrinya.
Terutama mengenai pelayanan kesehatan yang kabupaten bima.

“Saya berharap jangan sampai ada arumi-arumi lain,” ujar Marliana. (tih)

Editor : Prihadi Zoldic
#Marliana #amputasi #Kabupaten Bima #malpraktik #arumi #Made Slamet #Andika Putra #Pemprov NTB