Lombok Post - Jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani, sebelumnya sempat ditutup sementara oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Ini untuk mempercepat proses evakuasi jenazah Juliana Marins (27), seorang pendaki asal Brasil, terjatuh di area Cemara Nunggal, dekat Danau Segara Anak.
Kini, kabar baiknya, Balai TNGR telah mengumumkan jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani, dibuka kembali pada Sabtu (28/6).
“Jalur pendakian dari Pelawangan 4 yakni Sembalun, menuju Puncak Gunung Rinjani dinyatakan dibuka kembali, seiring dengan telah selesainya pelaksanaan kegiatan operasi SAR di Cemara Nunggal,” terang Kepala Balai TNGR Yarman, dikutip dalam siaran resminya, Jumat malam (27/6).
Meskipun jalur menuju puncak Gunung Rinjani dibuka kembali, keselamatan diri wajib menjadi prioritas utama. Balai TNGR mengimbau dengan tegas agar semua pihak harus mengutamakan keselamatan selama aktivitas pendakian.
Mematuhi Standar Operasional Proseduer (SOP) pendakian yang berlaku, dan melakukan aktivitas pendakian melalui jalur resmi. Yarman mengingatkan Gunung Rinjani bukan hanya tujuan, namun juga tanggung jawab bersama. “Mari cintai Rinjani dengan peduli,” jelasnya.
Tak kalah penting, melengkapi perlengkapan pendakian sesuai standar dan membawa bekal yang cukup. Menggunakan pemandu berlisensi dan mematuhi semua peraturan yang berlaku di TNGR. Memperhatikan kondisi fisik dan tidak memaksakan diri jika merasa tidak sanggup.
Yarman juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh Tim SAR Gabungan atas kerja keras, semangat, dan dedikasi luar biasa dalam pelaksanaan evakuasi jenazah Juliana Marins.
“Evakuasi ini bukan sekadar tugas teknis, tetapi misi kemanusian yang menuntut keberanian, solidaritas, dan jiwa pantang menyerah,” kata dia.
Terima kasih atas sinergi lintas instansi, loyalitas di medan ekstrem, dan komitmen yang tulus yang telah menjadi bukti nyata bahwa kemanusiaan tak mengenal batas negara maupun bahasa.
“Semoga setiap langkah, tiap helaan napas, dan doa yang menyertai proses ini tercatat sebagai amal terbaik bagi kita semua. Terima kasih telah menunjukkan bahwa kemanusiaan selalulebih tinggi dari puncak mana pun,” tandas Yarman.
Sementara itu, jenazah Juliana Marins, telah mejalani proses autopsi di RS Bali Mandara, Denpasar, Bali, Jumat (27/6). Dokter Spesialis Forensik RS Bali Mandara, dr. Ida Bagus Putu Alit, menyatakan penyebab kematian Juliana adalah luka berat akibat benturan keras di bagian punggung, yang menyebabkan pendarahan masif di rongga dada.
“Benturan keras terjadi di punggung dan menyebabkan pendarahan banyak di rongga dada,” ujar dr. Putu Alit.
Menurutnya, dari kondisi luka yang ditemukan, diperkirakan korban meninggal sekitar 20 menit setelah benturan terjadi. “Kalau kita perkirakan, sekitar 20 menit setelah mengalami luka tersebut,” jelasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam