Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berhasil Evakuasi Juliana Marins, Agam Rinjani Justru Menangis Karena Sesalkan Satu Hal Ini: Memang Susah Hidup…

Fratama P. • Senin, 30 Juni 2025 | 16:22 WIB
Sosok Agam Rinjani
Sosok Agam Rinjani

LombokPost - Duka mendalam menyelimuti Agam Rinjani, relawan SAR yang terlibat dalam evakuasi jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang tewas di jurang Gunung Rinjani. 

Agam Rinjani tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban melalui sebuah video yang kini viral di media sosial. 

Agam Rinjani membantu evakuasi Juliana ditemukan meninggal dunia di jurang curam sedalam 600 meter setelah mengalami kecelakaan tragis.

Permintaan maaf Agam Rinjani disampaikan langsung kepada seorang perempuan yang diduga merupakan anggota keluarga Juliana, saat keduanya berkomunikasi melalui siaran langsung Instagram. 

Video percakapan emosional Agam Rinjani tersebut kemudian menyebar luas, memperlihatkan ketulusan hati sang relawan.

"Minta maaf karena tidak bisa membawa Juliana pulang dengan selamat, karena kondisi medan yang berat dan terlalu jauh ke bawah," ujar Agam Rinjani dengan nada penuh penyesalan dalam video yang diunggah akun X @aingrewhuy.

Dalam video yang sama, Agam Rinjani juga menjelaskan bahwa insiden serupa bukanlah yang pertama kali terjadi di Rinjani. 

Menurutnya, banyak wisatawan sebelumnya mengalami kecelakaan fatal di gunung tersebut karena jalur pendakiannya yang memang dikenal curam dan berbahaya.

"Sudah banyak di Rinjani, memang susah hidup ketika terjatuh di lubang-lubang (jurang) itu semua karena terlalu curam," kata Agam Rinjani.

Perempuan yang diduga keluarga Juliana tampak sangat terpukul dan menangis saat mendengar permintaan maaf tulus dari Agam Rinjani. 

Ia terlihat mengusap air mata sambil menyampaikan ucapan terima kasih kepada Agam Rinjani dan seluruh tim SAR dalam bahasa Portugal. 

Momen ini menunjukkan ikatan emosional yang kuat terjalin meski terpisah jarak dan bahasa.

Hingga Kamis sore (26/6), video percakapan yang mengharukan itu telah dibagikan ulang sebanyak 730 kali dan ditonton lebih dari 448 ribu kali. 

Sosok Agam Rinjani pun sontak menjadi sorotan utama warganet, yang kagum akan perjuangannya mengevakuasi jenazah Juliana dari kedalaman 600 meter jurang Rinjani yang dikenal sangat sulit.

Kronologi Tragis Juliana Terjatuh di Rinjani

Juliana Marins dilaporkan terjatuh ke jurang saat melakukan pendakian menuju puncak Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun pada Sabtu (21/6/2025). 

Lokasi jatuhnya berada di kawasan Cemara Nunggal, sebuah area yang dikenal dengan karakteristik medannya yang menantang.

Proses pencarian dan penyelamatan korban sempat menghadapi kendala serius dan berbagai kesulitan.

Cuaca ekstrem dengan kabut tebal yang menyelimuti area puncak Gunung Rinjani menghambat upaya tim SAR. 

Pada Senin (23/6), tim SAR berhasil mendeteksi keberadaan Juliana di kedalaman sekitar 500 meter dari titik awal jatuhnya. 

Namun, upaya evakuasi terhambat oleh kondisi medan yang sangat terjal dan tidak memungkinkan pergerakan cepat.

Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, Juliana akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Selasa (24/6). 

Jasadnya ditemukan di kedalaman 600 meter dari titik Lost Known Position (LKP). 

Setelah penemuan tersebut, pihak keluarga Juliana kemudian meminta agar dilakukan proses autopsi untuk mengetahui secara pasti waktu dan penyebab kematiannya.

Jenazah Juliana Diautopsi di Bali

Untuk keperluan autopsi, jenazah Juliana Marins kemudian dipindahkan dari RS Bhayangkara Mataram ke Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM), Denpasar. 

Jasad korban tiba di RSBM pada Kamis (26/6) pukul 21.32 WITA, diantar menggunakan ambulans dan dikawal oleh mobil PJR Polda NTB. 

Uniknya, tidak terlihat satu pun anggota keluarga yang mendampingi saat jenazah tiba di RSBM.

"Rencananya, malam ini kami lakukan autopsi dan dokumen-dokumen yang diperlukan," kata Dokter Forensik RSBM, Ida Bagus Alit, di kamar jenazah RSBM pada malam yang sama.

Dokter Alit menjelaskan bahwa autopsi akan difokuskan pada bagian kepala, dada, dan perut Juliana. 

Selain itu, pemeriksaan tambahan juga akan dilakukan pada permukaan tubuh korban untuk mengungkap waktu dan penyebab kematian yang lebih akurat.

"Durasi rata-rata autopsi itu satu jam hingga dua jam," ujarnya. Hasil awal autopsi akan segera disusun jika ditemukan temuan yang kasat mata dan jelas.

"Jadi, hasil (autopsi) tergantung nanti. Kalau ada pemeriksaan tambahan dan temuan-temuan yang kasat mata, sudah bisa kami buatkan dokumennya secara langsung," jelas Dokter Alit. 

Namun, ia menekankan bahwa hasil autopsi yang paling pasti baru akan didapatkan setelah hasil laboratorium keluar. 

"Nanti setelah ada hasil laboratoriumnya, itu (hasil) yang pasti," pungkas Alit. 

Proses autopsi ini diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi keluarga Juliana dan pihak berwenang mengenai penyebab pasti tragedi ini.

Agam Rinjani juga menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa Juliana Marins.***

Editor : Fratama P.
#agam rinjani #Juliana #Lombok