Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hanya Bermodal Seutas Tali, Ali Musthofa Nekat Turun Tebing Untuk Selamatkan Juliana Marins Sebelum Agam Rinjani dan Tim SAR Datang

Fratama P. • Jumat, 4 Juli 2025 | 20:39 WIB
Sosok Ali Musthofa, pemandu Juliana Marins
Sosok Ali Musthofa, pemandu Juliana Marins

LombokPost - Selah insiden tragis meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani, terungkap fakta baru mengenai upaya pertolongan pertama adalah Ali Musthofa.

Ali Musthofa yang paling dulu mencoba menolong Juliana Marins sesaat setelah ia terjatuh dari tebing ternyata bukanlah Agam Rinjani. 

Agam Rinjani diketahui tiba di lokasi bersama tim SAR beberapa waktu kemudian untuk memulai operasi pertolongan setelah Ali Musthofa.

Sosok yang pertama kali berupaya menyelamatkan Juliana Marins adalah Ali Musthofa, pemandu yang mengantar rombongan Juliana. 

Ali Musthofa, yang sebelumnya dituduh lalai dan bahkan dikenai sanksi blacklist sementara oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), kini mendapat titik terang berkat beredarnya sebuah video.

Aksi Heroik Ali Musthofa Terekam Video

Sebuah video yang beredar pada Kamis (3/7) melalui unggahan Instagram @rinjani_man, memperlihatkan momen menegangkan yang diduga adalah Ali Musthofa sedang mencoba turun untuk mengevakuasi Juliana Marins. 

Upaya ini dilakukan oleh Ali Musthofa sebelum tim penyelamat resmi tiba di lokasi kejadian. 

Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah pendaki lain turut membantu mengulurkan tali saat Ali Musthofa bersiap untuk turun ke jurang.

Namun, narasi yang menyertai unggahan video itu menjelaskan bahwa upaya penyelamatan mandiri yang dilakukan Ali Musthofa terhambat. 

Hal ini disebabkan karena tali yang mereka gunakan hanya sepanjang 100 meter, yang tidak cukup untuk mencapai lokasi Juliana Marins.

“Ali Musthofa guidenya Juliana yang pertama kali turun mau evakuasi Juliana tapi talinya cuma 100,” tulis @rinjani_man. 

Terdengar pula suara orang-orang yang membantu memberikan instruksi, "Mundur.. mundur.. slowly," dan pertanyaan, "Gimana Li?"

Unggahan ini pun memicu reaksi haru dari warganet mengenai momen menegangkan tersebut.

Banyak yang tidak menyangka pemandu Juliana Marins sempat berinisiatif melakukan pertolongan pertama. 

“Merinding lihat guidenya. Saya berprasangka bahwa guidenya ini bukan ahli panjat tebing. Tapi dengan rasa tanggung jawabnya walaupun bukan ahlinya dan percaya diri bisa dengan seperangkat alat safetynya. Berarti dia termasuk guide yang bertanggung jawab,” 

“Kenapa baru sekarang video ini muncul, kasian kan guidenya disalahin terus sama orang Brazil, padahal udah ada pertolongan pertama dari guidenya, ternyata tali yang kurang panjang itu tali yang ada di guidenya bukan dari tim SARnya,”

Pengakuan Ali Musthofa kepada Media Brasil

Sebelumnya, Ali Musthofa telah diperiksa oleh Satreskrim Polres Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Rabu (25/6) dan Kamis (26/5) terkait insiden ini. 

Sebagai pemandu, Ali Musthofa tentunya bertanggung jawab atas lima pendaki yang dibawanya.

Dilansir dari Oglobo.com pada Kamis (26/6), Ali Musthofa mengaku awalnya menyarankan Juliana Marins untuk beristirahat karena terlihat kelelahan, sementara ia dan rombongan lainnya melanjutkan perjalanan.

Ali Musthofa pun akhirnya memutuskan untuk lebih dulu dan berada dan berjalan sekitar tiga menit di depan Juliana. 

Namun, Ali Musthofa mulai merasa heran ketika Juliana tak kunjung tiba di titik pertemuan yang dijanjikan.

"Saya katakan kepadanya bahwa saya akan menunggunya di depan. Saya menyuruhnya untuk beristirahat," ungkap Ali Musthofa.

"Setelah sekitar 15 atau 30 menit, Juliana tidak muncul. Saya mencarinya di tempat peristirahatan terakhir, tetapi saya tidak dapat menemukannya," lanjutnya.

Kemudian, Ali Musthofa mendengar suara minta tolong dari jurang sedalam sekitar 150 meter, yang ia yakini adalah suara Juliana Marins.

Ali Musthofa segera menelepon perusahaan tempatnya bekerja untuk melaporkan kecelakaan dan meminta bantuan. 

"Saya menyadari (dia telah jatuh) ketika saya melihat cahaya senter di jurang sedalam sekitar 150 meter dan mendengar suara Juliana meminta bantuan. Saya katakan kepadanya bahwa saya akan membantunya," ujar Ali Musthofa. 

"Saya berusaha mati-matian untuk memberi tahu Juliana agar menunggu bantuan," lanjut Ali Musthofa.

Diketahui, Juliana Marins dan lima pendaki lainnya menggunakan jasa Ali Musthofa dengan paket perjalanan seharga Rp2.500.000.

Sanksi Blacklist Sementara dan Kondisi Pemandu Rinjani

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Yarman, mengkonfirmasi bahwa Ali Musthofa telah masuk daftar hitam (blacklist) untuk sementara waktu. 

Ini berarti pemandu tersebut tidak diizinkan mengantar pendaki ke puncak tertinggi di NTB tersebut. 

"Iya, kalau blacklist untuk sementara sambil proses berjalan," kata Yarman.

Yarman belum bisa memastikan berapa lama sanksi blacklist akan diberlakukan dan apakah Ali Musthofa memiliki lisensi sebagai pemandu dan akan mengecek kembali hal tersebut. 

Saat ini, terdapat sekitar 661 pemandu di Rinjani, namun baru sekitar 50 persen di antaranya yang telah memiliki lisensi. 

BTNGR bersama Dinas Pariwisata sedang berupaya untuk mempercepat proses lisensi bagi para pemandu.

Proses Evakuasi yang Menantang dan Penyebab Kematian Juliana

Juliana Marins dilaporkan terjatuh ke arah Danau Segara Anak di Gunung Rinjani pada Sabtu (21/6/2025). 

Proses evakuasi jenazahnya menjadi sorotan karena memakan waktu hingga lima hari lamanya, baru berhasil dievakuasi pada Rabu (25/6/2025) oleh Tim SAR Gabungan dari jurang sedalam 600 meter. 

Kendala utama dalam evakuasi adalah cuaca berkabut di Gunung Rinjani yang menyebabkan jarak pandang terbatas.

Awalnya, Juliana Marins memang ditemukan masih dalam kondisi selamat oleh drone pendaki lain.

Namun, pada Selasa (24/6/2025), pendaki wanita asal Brasil itu ditemukan sudah meninggal dunia. 

Helikopter bantuan dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sempat dikerahkan pada Selasa siang, namun upaya evakuasi via udara terhambat cuaca buruk dan kabut tebal.

Juliana Marins akhirnya berhasil dievakuasi dari jurang sedalam 600 meter pada Rabu pukul 13.51 WITA. 

Jenazahnya kemudian ditandu menuju Sembalun dan tiba pada pukul 20.45 WITA. 

Setelah itu, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram dan selanjutnya diautopsi di RS Bhayangkara Bali Mandara.

Hasil autopsi menunjukkan bahwa Juliana diperkirakan meninggal sekitar 20 menit setelah terjatuh. 

Dokter Forensik menyebutkan bahwa kematian Juliana disebabkan oleh luka akibat benturan keras yang menyebabkan pendarahan hebat, terutama di bagian dada.

Keluarga Juliana Menuntut Pemandu dan Pengelola Rinjani

Ibunda Juliana, Estela Marins, menuding Ali Musthofa dan pengelola Rinjani lalai hingga menyebabkan putrinya meninggal dunia. 

Oleh karenanya, Estela berencana menuntut pihak pemandu dan pengelola Gunung Rinjani.

Diberitakan media Brasil, Fantastico, saat merasa lelah, Juliana Marins disebut meminta untuk beristirahat sejenak. 

Namun, menurut saudara perempuannya, Mariana Marins, pemandu dan rombongan justru melanjutkan perjalanan tanpa menunggu Juliana.

“Juliana ada di rombongan itu, tapi dia sangat lelah dan meminta untuk berhenti sejenak. Mereka tetap jalan, dan pemandu tidak tinggal bersamanya,” tulis Mariana dalam unggahan media sosial, dikutip dari The Sun. 

Berdasarkan narasi keluarga, Ali Musthofa dan rombongan dituding telah meninggalkan Juliana sendirian, yang kemudian terpeleset dan jatuh dari tebing setinggi sekitar 150 meter, lalu tergelincir lebih jauh hingga lebih dari 487 meter.***

Editor : Fratama P.
#pemandu #Ali Musthofa #wisata #agam rinjani #Juliana Marins