LombokPost-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyoroti berbagai faktor penyebab banjir Mataram yang terjadi akhir pekan lalu.
Dalam forum Bincang Kamisan, Kamis (10/7), terungkap banjir di Mataram bukan hanya dipicu hujan deras, tapi juga karena sedimentasi dan tumpukan sampah di sungai.
Forecaster BMKG ZAM Ari Wibianto menjelaskan, NTB saat ini tengah mengalami kemarau basah. Artinya, meskipun memasuki musim kemarau, curah hujan masih tinggi.
“Curah hujan yang terjadi saat banjir kemarin mencapai 111 milimeter, yang masuk dalam kategori hujan lebat. Kami juga memprakirakan bahwa dalam beberapa hari ke depan masih ada potensi hujan, jadi masyarakat perlu tetap waspada,” jelas Ari.
Kondisi ini memperburuk situasi karena sungai-sungai di Kota Mataram telah mengalami pendangkalan.
Kabid SDA Dinas PUPR NTB Lalu Kusuma Wijaya menyebutkan, sungai yang dulunya sedalam 5 meter kini hanya tersisa sekitar 3 meter.
“Ditambah lagi tumpukan sampah yang tersebar di saluran, tanah kosong, bahkan badan sungai. Ini turut menyumbat aliran air,” ungkapnya.
Masalah banjir Mataram juga diperparah penyempitan badan sungai dan lemahnya penegakan aturan tata ruang.
Kalak BPBD NTB Ahmadi menegaskan, penyebab banjir bersifat kompleks dan butuh penanganan menyeluruh.
“Kalau mau solusi permanen, ya harus tegas menegakkan aturan. Bangunan yang berdiri di badan sungai harus dibongkar. Itu memang ekstrim, tapi lebih efektif daripada solusi tambal sulam,” tegasnya.
Dari sisi penanganan sosial, Dinas Sosial NTB mencatat sekitar 34 ribu warga terdampak. Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Sulaiman menjelaskan, pada malam kejadian tim fokus mengevakuasi warga rentan, terutama lansia, dan mendirikan dapur umum keesokan harinya.
Baca Juga: Pelebaran Sungai di Kota Mataram Diusulkan Dinas PUPR NTB, Salah Satu Upaya Cegah Banjir
“Dalam total dua hari, kerja sama Kota Mataram dan Pemrov kami memproduksi dan mendistribusikan 8.000 paket nasi untuk warga terdampak, serta mendistribusikan selimut, kasur, dan kebutuhan dasar lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, layanan aduan cepat tanggap juga dibuka untuk merespons keluhan warga secara langsung.
Diskusi reflektif ini menekankan bahwa banjir NTB adalah sinyal krisis lingkungan dan sosial yang tak bisa diabaikan. Pemprov NTB menyatakan, banjir memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun dampaknya bisa diminimalkan jika semua pihak bersinergi.
Banjir di Mataram jadi pengingat bahwa sampah, sedimentasi, hingga deforestasi bisa berdampak besar. Warga diminta tetap waspada karena potensi hujan masih ada dalam beberapa hari ke depan.
Editor : Akbar Sirinawa