Lombok Post - Pelatihan Vertical Rescue digelar 17-20 Juli di Sembalun, Lombok Timur. Tujuannya, meningkatkan kemampuan tim penyelamat dalam menangani insiden selama aktivitas pendakian Gunung Rinjani.
Pelatihan diikuti 20 peserta yang merupakan porter dan pemandu lokal. Mereka dilatih personel yang sebelumnya terlibat langsung dalam proses evakuasi pendaki asal Brazil, Juliana Marins.
Terdiri dari gabungan tim yang memiliki pengalaman dalam misi penyelamatan. Antara lain SAR Mataram, SAR Lombok Timur, Brimob Kompi 3 Yon B NTB, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Rinjani Squad, serta Lombok Rope Access Community (LORAC).
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan kejadian yang menimpa wisatawan Brazil Juliana Marins menjadi pemicu evaluasi tata kelola keselamatan di kawasan pendakian Gunung Rinjani.
“Kita ikut prihatin, tapi itu juga sekaligus mengingatkan bahwa masih banyak yang belum kita lakukan untuk Gunung Rinjani. Tidak hanya soal evakuasi, tapi juga konservasi, kebersihan, dan penghormatan terhadap gunung ini,” terangnya, Kamis (17/7).
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya memperbaiki tata kelola dan sistem keselamatan di kawasan Gunung Rinjani.
“Kita berkumpul secara kolaboratif. Ini yang selama ini hilang. Masing-masing punya kemampuan, tapi tidak pernah berkolaborasi. Inilah yang kita lakukan sekarang, membangun kolaborasi nyata demi kemajuan Gunung Rinjani,” jelas Miq Iqbal, sapaan karib gubernur.
Di kesempatan itu, gubernur mengumumkan tiga langkah konkret yang telah disepakati untuk meningkatkan keamanan di Gunung Rinjani. Dimulai dari pembentukan tim vertical rescue bersertifikasi internasional. Dari 20 peserta yang mengikuti pelatihan, 10 orang diantaranya akan disertifikasi dengan standar internasional.
Kemudian pemasangan rambu keselamatan yang memadai di jalur pendakian. Sudah disepakati untuk segera memasangnya dari sumber dana nonpemerintah.
Berikutnya, pengadaan peralatan penyelamatan, diletakkan di lokasi strategis, termasuk di puncak Rinjani. Tujuannya adalah agar proses evakuasi di medan sulit bisa dilakukan lebih cepat dan efisien bila terjadi keadaan darurat.
Gunung Rinjani memiliki peran vital tidak hanya sebagai ikon wisata. Namun juga sebagai sumber air bersih, penopang sektor pertanian, serta penggerak utama ekonomi lokal melalui pariwisata. “Itulah sebabnya kenapa kita ingin melakukan yang terbaik untuk Gunung Rinjani,” tandas Iqbal.
Bupati Lombok Timur (Lotim) H Haerul Warisin mengapresiasi pelatihan vertical rescue tersebut. “Libatkan (saja, Red) saya mengenai apa yang menjadi kebutuhan, karena kami juga bertanggung jawab atas daerah ini,” ujarnya meminta berbagai pihak terkait agar tak sungkan.
Kepala Balai TNGR Yarman menyatakan pihaknya akan segera memperkuat sistem pendakian melalui penyusunan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang lebih relevan terhadap kondisi di lapangan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pendaki.
“Kami akan melakukan workshop bersama pemda, dan seluruh stakeholder terkait untuk memperbaiki SOP pendakian. Apakah SOP yang ada saat ini masih sesuai, atau perlu disesuaikan dengan tantangan terbaru di lapangan,” ujarnya.
Selain perbaikan sistem, Balai TNGR telah meminta Kementerian Kehutanan, untuk pengadaan sarana dan prasarana pendakian. Salah satu langkah nyata yang akan segera dilakukan adalah pembangunan shelter baru di Pos 4, yaitu lokasi yang dekat dengan titik kejadian insiden Juliana Marins.
“Shelter ini nantinya akan menjadi pos bagi petugas kami di lapangan, sekaligus tempat penyimpanan sarana prasarana evakuasi dan keselamatan yang ada di Rinjani,” jelasnya.
Ke depan, Balai TNGR juga berkomitmen untuk mengadakan pelatihan bagi para pegawai yang bertugas di lapangan. Serta melibatkan para pemandu dan porter lokal. (yun/r6)
Editor : Jelo Sangaji