LombokPost - Denyut persiapan jelang pembukaan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII semakin terasa. Sebuah pertunjukan seni kolosal akan hadir di dalamnya.
Ratusan penari sibuk dengan aneka tariannya. Mereka akan tampil dalam opening ceremony Fornas VIII 2025, di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur NTB, Kamis (24/7).
Panggungnya tampak megah. Dengan tata suara dan cahaya berbaur penuh keserasian dalam latihan kali itu. Tampak, Lalu Suryadi Mulawarman, koreografer dan sutradara pertunjukan memberikan arahan pada para penari.
Pria yang akrab disapa Surya ini menaruh atensi yang sangat kuat terhadap penampilan anak didiknya, Sabtu (26/7) mendatang. Pertunjukan ini akan menjadi wajah pertama yang menyapa ribuan peserta dan penonton. Sebuah sajian budaya yang bukan hanya memikat mata, tapi juga mengetuk hati dan menghidupkan kembali jejak sejarah yang nyaris terlupakan.
“Kami tidak hanya mengangkat kultur budaya, tetapi juga sisi historis dari NTB. Banyak tokoh-tokoh besar dari masa lalu yang belum banyak dikenal publik, itu yang coba kami angkat melalui pertunjukkan ini,” jelasnya.
Sebanyak 500 penari dari seluruh kabupaten/kota di NTB akan tampil dalam panggung pembukaan. Di sana ada gabungan pertunjukan tari, teater, dan seni musikalitas.
Pertunjukan akan dibagi dalam empat segmen besar, dengan pembukaan yang menggugah. Mulai dari pengenalan sosok mitologi Dewi Anjani atau Inan Gumi, figur sakral yang dalam tradisi Lombok melambangkan ibu bumi, kekuatan alam, sekaligus pelindung kehidupan.
Dengan balutan koreografi yang anggun dan musik etnik yang kental, segmen ini menjanjikan pengalaman visual spiritual. Ke segmen berikutnya, panggung akan berubah menjadi portal waktu yang membawa penonton menelusuri jejak peradaban lokal.
Dari Kesultanan Samawa dan Mbojo, hingga kerajaan-kerajaan di Lombok Timur. sejarah NTB yang jarang terdengar akan dihidupkan melalui simbol-simbol artistik.
Tokoh besar seperti Sultan Salahuddin dari Bima dan TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, menjadi poros narasi. Inti dalam pementasan yang tak hanya megah secara visual, tapi juga sarat makna.
“Ini bukan hanya tarian. Ada narasi sejarah yang disampaikan secara visual, ada unsur teatrikal, ada musikalitas. Bisa disebut drama tari. Kita ingin menyampaikan sejarah dan budaya NTB secara utuh kepada penonton nasional dan internasional,” terang pria yang juga kepala UPTD Taman Budaya Dinas Dikbud NTB tersebut.
Tak hanya menyentuh ranah sejarah, pertunjukan ini juga menjelma menjadi eksplorasi simbol budaya. Properti tari seperti tembolak, tudung saji khas NTB, digunakan sebagai metafora perlindungan dan kekuatan.
Sementara tembe nggoli, kain tenun tradisional Dompu, menjadi elemen gerak yang merepresentasikan kekayaan tekstil dan filosofi lokal. Di balik kemegahan yang dirancang, tantangan teknis pun hadir.
Mulai dari sinkronisasi ratusan penari hingga penyelesaian kostum dan properti yang hingga kini masih dalam tahap akhir produksi. Namun Lalu Surya optimistis. Perkembangannya sudah di angka 95 persen.
Fornas VIII 2025 bukan sekadar ajang olahraga masyarakat. Di balik arena dan lapangan, ada narasi besar tentang siapa Indonesia sebagai bangsa, dan NTB dengan seluruh kekayaan budayanya. “Ini momentum. Kita ingin menunjukkan bahwa NTB bukan hanya memiliki generasi emas di bidang olahraga, tapi juga dalam seni, budaya, dan sejarah. Dan kami siap memperkenalkannya kepada Indonesia dan dunia,” tandasnya.
Editor : Jelo Sangaji