Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

WADUH Ada Lomba Tahan Nafas di Fornas 2025, Ternyata Pria Asal Lombok Tengah Sukses Tak Terkalahkan

Fratama P. • Selasa, 29 Juli 2025 | 18:57 WIB
Pria asal Lombok Tengah menang lomba tahan nafas di FORNAS 2025
Pria asal Lombok Tengah menang lomba tahan nafas di FORNAS 2025

LombokPost - Perhelatan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII 2025 terus menyajikan kisah-kisah inspiratif dari bbanyak lomba termasuk lomba tahan nafas.

Salah satunya datang dari Didi Sulaiman, peserta asal Lombok Tengah, yang sukses menyabet medali emas di Induk Organisasi Olahraga (INORGA) Lembaga Seni Pernapasan Satria Nusantara (LSPSN).

Dalam lomba FORNAS yang digelar di GOR Poltekpar Lombok, Lombok Tengah, NTB, pada Senin (29/7), Didi Sulaiman berhasil mencatatkan waktu 2 menit 42 detik saat menahan napas di dalam air.

Ketua LSPSN Lombok Tengah, Muji Purwandi, mengungkapkan bahwa Didi Sulaiman adalah pemegang rekor sebelumnya yang diraih pada FORNAS VII 2023.

"Didi Sulaiman rekornya sampai sekarang belum terpecahkan dengan waktu 3 menit 30 detik," jelas Muji, menyoroti konsistensi performa Didi.

Lomba tahan napas dalam air ini merupakan salah satu ciri khas dan inti dari Inorga LSPSN.

Konsepnya sederhana: atlet atau pegiat yang mampu menahan napas paling lama di dalam air akan keluar sebagai pemenang.

Kompetisi ini dibagi menjadi dua kategori berdasarkan usia, yaitu maksimal 49 tahun dan minimal 50 tahun, memastikan keadilan dalam persaingan.

"Jadi yang dinilai itu yang paling lama tahan napas. Nah yang kemarin itu, yang juara satu peraih medali emas dari Lombok Tengah yaitu Didi Sulaiman," terang Muji.

Ia menambahkan, jika ada peserta yang bernapas duluan, catatan waktunya akan langsung dihentikan atau bahkan didiskualifikasi.

Muji menjelaskan bahwa penggunaan air dalam baskom adalah sarana efektif untuk memastikan atlet tidak "curang" atau mencuri napas selama menahan napas.

"Kalau dalam latihan sambil tahan napas kadang-kadang ada yang nyuri kan. Misalkan 15 langkah dalam masing-masing jurus, kadang-kadang sampai 5 langkah sudah curi napas. Baru sampai 8 langkah curi napas," beber Muji.

Namun, ketika wajah dimasukkan ke dalam air, kecurangan akan langsung terdeteksi dengan munculnya gelembung udara.

Sebagai Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Lombok Tengah, Muji Purwandi juga menerangkan bahwa diperlukan keahlian dan latihan khusus agar seseorang bisa menahan napas dalam waktu yang sangat lama.

Ia menguraikan prinsip di baliknya: "Setiap jurus itu kita dipaksa untuk tahan napas. Karena kita disuruh mengirit oksigen yang ada di dalam tubuh supaya tubuh oksigen ini survive dengan sedikit oksigen."

Konsep ini menekankan pentingnya kontrol pernapasan dan efisiensi penggunaan oksigen dalam tubuh, yang menjadi inti dari seni pernapasan Satria Nusantara.

Keberhasilan Didi Sulaiman di ajang ini menjadi bukti nyata dedikasi dan keahliannya dalam pehelatan Fornas 2025.***

Editor : Fratama P.
#Didi Sulaiman #Fornas #lomba tahan nafas #lomba