LombokPost - Eks Bandara Selaparang di Rembiga, Kota Mataram, menjelma menjadi hamparan budaya yang hidup dan bernapas dalam harmoni, ketika Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) hadir memeriahkan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII 2025 di NTB.
Bukan hanya kayuhan pedal yang mengisi ruang, tetapi juga denyut tradisi yang menggema dari pakaian adat, gelak tawa lintas generasi, dan semangat persaudaraan yang tak terbendung. Puluhan peserta dari berbagai penjuru Nusantara datang membawa serta identitas budaya mereka, menjadikan ajang ini bukan sekadar pertemuan pecinta sepeda tua—melainkan perayaan kebhinekaan yang bergerak.
“Semangat kami bukan sekadar bersepeda, tetapi juga membawa pesan budaya dari kampung halaman,” ujar seorang peserta asal Kalimantan Selatan, matanya berbinar di balik topi khas daerah yang dikenakannya.
Salah satu kisah paling menggetarkan datang dari Palembang. Seorang peserta menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju NTB dengan sepeda tuanya, selama 34 hari. Sebuah kisah yang bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang tekad, dedikasi, dan cinta yang dalam terhadap olahraga dan budaya bangsa. “Ini bukan soal jarak, tapi soal semangat,” tuturnya haru.
Sebagai bagian dari Induk Organisasi Olahraga (INORGA) dalam FORNAS, KOSTI mengusung filosofi “kalah menang, semua senang.” Filosofi ini menjelma dalam senyum-senyum tulus, dalam hangatnya jabat tangan, dan dalam parade budaya yang menyatukan suara dari Sabang hingga Merauke.
Eks Bandara Selaparang menjadi saksi atas gelaran penuh warna ini dipilih bukan hanya karena daya tampungnya yang luas dan aksesibilitasnya yang mendukung, tetapi karena tempat ini mampu menampung harapan dan semangat seluruh peserta. Rangkaian kegiatan seperti parade budaya dan gowes bersama menjelma menjadi jembatan yang mempertemukan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu tarikan napas.
FORNAS VIII NTB 2025 bukan sekadar festival olahraga. Ia adalah panggung kolektif tempat semangat kebangsaan dirajut melalui olahraga rekreasi dan warisan budaya yang tak ternilai. Dan di tengah semua itu, KOSTI berdiri tegak, mengingatkan semua pihak bahwa sepeda tua tak pernah kehilangan daya, selama semangat para pengayuhnya tetap menyala.
Editor : Jelo Sangaji