Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menonton Seni Kolosal Spektakuler yang Menyajikan Sembilan Tahapan Menenun Dalam Drama, Tari, dan Musik di Malam Puncak Alunan Budaya 'Nyiwaq'

Fatih Kudus Jaelani • Rabu, 30 Juli 2025 | 12:38 WIB

 

MALAM PUNCAK: Pertunjukan seni kolosal Alunan Budaya Desa Pringgasela bertajuk ‘Sembilan Kali Lahirnya’ di Pringgasela Raya, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Minggu malam (27/7).
MALAM PUNCAK: Pertunjukan seni kolosal Alunan Budaya Desa Pringgasela bertajuk ‘Sembilan Kali Lahirnya’ di Pringgasela Raya, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Minggu malam (27/7).
LombokPost - Event nasional Alunan Budaya Desa Pringgasela yang ke-9 ditutup dengan sebuah pertunjukan seni kolosal yang memukau.

Pertunjukan yang melibatkan ribuan penampil ini secara simbolis memadukan perjalanan panjang Alunan Budaya Desa Pringgasela dengan proses menenun.

Sembilan tahapan menenun ditampilkan pada ‘Sembilan Kali Lahirnya’ Alunan Budaya Desa Pringgasela digelar.

------

Ratusan gedogan (alat tenun bukan mesin, red) digelar memanjang di tiga penjuru simpang empat tugu juang Pringgasela Raya di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur.

Jelang pertunjukan dimulai, ratusan perempuan penenun Pringgasela berjalan bersilangan menduduki gedogannya masing-masing.

Panggung utama terletak di arah selatan tugu juang. Tepat di bawah panggung pertunjukan, sejumlah alat menenun seperti alat pemintal kapas jadi benang, mewarnai, dan alat-alat dalam proses menenun secara tradisional lainnya.

Suasana malam itu kian memukau dengan kehadiran dedare desa Pringgasela yang mengenakan kostum tenun yang didesain khusus dengan tema-tema tertentu.

Pertunjukan seni kolosal event Alunan Budaya Desa Pringgasela bertajuk ‘Nyiwaq’ yang tahun ini kembali menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 itu memang terasa sudah dimulai sebelum dibuka secara resmi.

Orang-orang yang berada dalam radius simpang empat tugu juang Pringgasela secara tidak langsung ikut menjadi bagian dalam pertunjukan tersebut.

Di panggung kehormatan, Asisten Deputi Event Daerah Kemenparekraf RI Drs Reza Fahlevi bersama Sekda Lombok Timur HM Juaini Taofik, Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Sosial Kemasyarakatan Akhsanul Khalik, dan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Timur Mulki dan tamu undangan lainnya tak beranjak pulang setelah secara resmi menutup event tersebut.

Mereka seperti terpukau dengan pertunjukan yang berdurasi satu jam lebih tanpa henti.

Puluhan tarian, dari yang modern dan tradisional, drama kolosal yang dikemas dalam sembilan babak, juga konser musik Tedy and The Companion yang membawakan lagu hitsnya Siti Aminah dan Pringgasela Raya, benar-benar memukau. 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah adegan kehadiran Dewi Rinjani dari dalam gunung.

Hal ini merupakan adegan penutup yang menunjukkan kekayaan budaya masyarakat Sasak, wabilkhusus masyarakat Pringgasela Raya.

Yuspianal Imtihan, penulis naskah pertunjukan seni kolosal ‘Sembilan Kali Lahirnya’ itu menerangkan pertunjukan itu dirumuskan dengan memadukan seni tari, musik, sastra, teater dan multimedia art.

Kendati hal itu bukan hal yang baru dalam seni pertunjukan, namun hal itu disuguhkan untuk memperlihatkan perjalanan panjang kehidupan masyarakat yang terus bergerak maju, di mana bidang teknologi dan ekonomi benar-benar telah menjadi prioritas utama seluruh aspek  perjalanan manusia.

“Semua ini membuat kita kerap merasa kehilangan identitas budaya, hubungan spiritual dengan tubuh, tanah bahkan barangkali dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam warisan budaya dan tradisi leluhur kita,” kata Yuspi pada Lombok Post.

Bentuk dan struktur penyajian dalam pertunjukan ini kata Yuspi memang bukanlah sesuatu yang tampak baru.

Apalagi kemasannya menyentuh konsep pertunjukan seni kolosal yang telah banyak dikenal oleh masyarakat luas.

“Namun tentu saja dalam prosesnya, pertunjukan ini tetap berupaya menyuguhkan perbedaannya dengan pertunjukan lainnya yang serupa. Pertunjukan ini akan menjadi salah satu pertunjukan yang secara sadar atau tidak sadar akan dapat diklaim sebagai karya seni fenomenal di belakang hari. Karena disusun melalui pendekatan lintas genre, art multidisiplin dan intermediality art yang dihadirkan dalam garapan ini,” lanjutnya.  

Secara visual, konten yang dihadirkan mencakup warna, nuansa, ornamen, motif, kostum, property dan pengadeganan yang telah disesuaikan dan didominasi dengan adat budaya Sasak.

Pertunjukan ini diberi judul Sembilan Kali Lahirnya. Kata Yuspi, judul tersebut diambil dari serangkaian proses dalam tradisi menenun di desa Pringgasela.

Rangkaian prosesnya terdiri dari pemintalan benang, pewarnaan, penjemuran, meleting, begontong, menyusun suri, merane, begulung dan betenun.

“Selain Sembilan proses dalam menenun gelaran Alunan Budaya Desa Pringgasela tahun ini juga bertepatan dengan gelaran yang ke sembilan kalinya. Jika dua kebetulan saja tidak cukup,  ternyata di desa Pringgasela induk tempat gelaran ini berlangsung. Desa ini terdiri dari sembilan dusun. Kesesuaian angka sembilan yang ditemukan inilah, maka pertunjukan seni kolosal ini diambil sebagai judul yang paling relevan,” beber Yuspi.  

Praktisi sekaligus akademisi seni Lombok Timur menuturkan,  secara filosofis pertunjukan bertajuk sembilan kali lahirnya itu ingin mengatakan jika manusia tak ubahnya bahan mentah yang sedang berupaya memintal takdirnya sendiri.

Atau makna simbolis serupa yang bisa diambil dari proses pewarnaan benang, yakni manusia merupakan perwujudan dari suatu entitas fana yang tak pernah netral, ia menuai fase perubahan karena selalu dibentuk atas derasnya arus pristiwa, emosi, perubahan budaya, jati diri dan perubahan sikap, sifat bahkan karakter yang sudah melekat sejak dini.

“Bagi saya, tingginya nilai historikal dan peran keterlibatan yang ditawarkan oleh masyarakat desa Pringgasela, khususnya dalam menjaga dan merawat semangatnya dalam gelaran Alunan Budaya Desa Pringgasela selama ini memberi ruang takjub yang mendalam. Sehingga untuk bisa sampai pada gelaran yang ke-sembilan kalinya ini saja merupakan prestasi yang luar biasa,” terangnya.  

Sementara itu, Ketua Lembaga Alunan Budaya Ahmad Ferryawan menyampaikan sejak awal, pihaknya selalu berupaya menampilkan yang lebih baik dari Alunan Budaya sebelumnya.

Dalam upaya tersebut, keterlibatan masyarakat dan para seniman sangat penting. Kolaborasi menjadi dasar utama.

Keterlibatan banyak pihak selama ini merupakan suatu nilai yang menurutnya monumental.

“Ini semua adalah upaya kita bersama untuk melestarikan budaya dan tradisi leluhur kita. Dan itulah mengapa Alunan Budaya Desa Pringgasela bukan hanya sekedar event, namun perjuangan untuk melestarikan budaya dan tradisi kita, sekaligus memperkenalkannya ke dunia,” ujarnya. (*)

 

Editor : Kimda Farida
#pertunjukan seni dan budaya #alunan budaya desa pringgasela #Karisma Event Nusantara #Provinsi NTB #Kabupaten Lombok Timur