Bertempat di kaki megah Gunung Rinjani, festival ini bukan hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang kolektif untuk merawat ingatan, menyuarakan warisan, dan menenun harapan.
Berawal dari Kegelisahan, Lahir Gerakan
Festival ini digagas oleh Nizar Ashari, pemuda lokal yang tergerak melihat budaya tenun mulai ditinggalkan generasi muda.
“Kami ingin tenun Pringgasela tidak hanya jadi cerita masa lalu. Ia harus terus hidup dan menginspirasi. Ini bentuk cinta kami pada warisan leluhur,” ucap Nizar.
Ia juga menjelaskan makna di balik motif tenun khas Pringgasela. “Garis lurus yang berulang itu melambangkan istiqamah—jalan hidup yang terus dalam kebaikan. Itu bukan sekadar pola, tapi doa,” ungkapnya.
Tema “Nyiwaq”: 9 Wajah Tradisi dan Kolaborasi
Dengan tema “Nyiwaq”—berarti sembilan dalam bahasa Sasak—festival tahun ini menyuguhkan keberagaman seni dan tradisi lokal. Di antaranya: parade anak-anak berpakaian adat, senam budaya, bazar UMKM lokal, tabligh akbar, dan talkshow reflektif lintas tokoh.
Pada hari keempat, talkshow bertema “Pelestarian Budaya dan Kearifan Lokal Melalui Festival Budaya Desa” mengungkap sisi historis dan peran penting perempuan.
Ustadz Hayyi menjelaskan bahwa nama “Pringgasela” berasal dari kata “Pringga” (bambu) dan “Sela” (Selaparang), menandakan tanah para pejuang.
Sementara Hj. Sir’ah, tokoh perempuan Pringgasela, menyampaikan bahwa menenun sudah lama menjadi bagian dari perjuangan. “Dulu para ibu membuat kain untuk penghangat para pejuang,” katanya.
Dosen Fakultas Hukum Unram Muh. Alfian Fallahian menambahkan bahwa tenun memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola secara profesional.
Puncak Festival: Teater 9 Babak Perjalanan Budaya
Festival ditutup dengan pertunjukan teatrikal spektakuler “Sembilan Kali Lahir (NYA)”, atau 9 Stages Weaving Attraction, Ahad malam (27/7).
Pementasan ini membawa penonton menyusuri sembilan fase perjalanan budaya Sasak—dari spiritualitas hingga regenerasi.
Acara puncak ini dihadiri oleh perwakilan Kemenparekraf, Bupati Lombok Timur, dan Staf Ahli Gubernur NTB.
“Masyarakat Pringgasela luar biasa. Di tengah keterbatasan, mereka mampu suguhkan pertunjukan kelas tinggi. Ini bukan sekadar festival, tapi perayaan kekuatan kolektif,” puji perwakilan Kemenparekraf.
Pringgasela: Dari Kain Jadi Cerita, Dari Cerita Jadi Inspirasi
Festival ini membuktikan bahwa Desa Pringgasela bukan sekadar tempat, tapi ruang hidup budaya yang terus berdenyut. Dari benang menjadi kain, dari kain menjadi cerita, dari cerita menjadi inspirasi—warisan tidak dilestarikan untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan bersama.(*/Gilang Dkk)
Editor : Marthadi