Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wilayah Lombok Selatan Diintai Gempa Dahsyat, Ahli BMKG Ingatkan Potensi Magnitudo 8,5

Lombok Post Online • Rabu, 27 Agustus 2025 | 12:20 WIB
Seismolog dan pakar sesar aktif dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pepen Supendi menjelaskan wilayah selatan Pulau Lombok berada di atas segmen Sumba. Zona megathrust selatan.
Seismolog dan pakar sesar aktif dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pepen Supendi menjelaskan wilayah selatan Pulau Lombok berada di atas segmen Sumba. Zona megathrust selatan.

LombokPost - Wilayah selatan Pulau Lombok sedang menjadi sorotan para ahli kegempaan.

Seiring dengan potensi besar gempa bumi yang berasal dari zona megathrust di kawasan tersebut.

Seismolog dan pakar sesar aktif dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pepen Supendi menjelaskan wilayah selatan Pulau Lombok berada di atas segmen Sumba.

Salah satu bagian dari sistem megathrust yang membentang dari selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

“Jadi di Selatan Pulau Lombok ini termasuk di Bali bagian selatan, ada satu segmen yang dinamakan Segmen Sumba. Segmen ini merupakan bagian dari megathrust di selatan Jawa-Bali, Nusa Tenggara,” terangnya, saat ditemui di Mataram, Selasa (26/8).

Segmen Sumba merupakan bagian dari zona subduksi aktif yang sangat berbahaya.

Menurut data dari Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), skenario terburuk menunjukkan, segmen ini berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimal hingga 8,5.

Namun, hingga kini belum terjadi pelepasan energi besar di wilayah tersebut.

Para ahli khawatir menyebutnya seismic gap, yaitu zona yang seharusnya sudah terjadi gempa besar, tetapi belum terjadi dalam jangka waktu tertentu.

“Zona megathrust memiliki bagian-bagian yang terkunci dan ada juga bagian yang sudah rilis dalam bentuk gempa-gempa kecil, yang dikhawatirkan oleh kita selama ini adalah bagian yang terkunci tersebut, yang kita sebut seismic gap,” bebernya.

Ada dua kemungkinan, bisa jadi energinya sudah dilepaskan lewat gempa-gempa kecil  atau justru sedang tersimpan dan menyusun energi dan bisa sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

Potensi Gempa Lain

Selain megathrust, kawasan ini juga dihadapkan pada potensi gempa dari sumber lain yang tak kalah berbahaya. Salah satunya adalah zona outer-rise, yakni wilayah di luar zona subduksi yang juga memiliki potensi gempa kuat. Pepen mengingatkan kembali gempa besar yang terjadi di Lombok pada tahun 1977 dengan magnitudo 8,3.

“Sumbernya adalah sesar turun yang juga berpotensi menimbulkan tsunami, dan pada saat itu di tahun 1977 memang sudah memicu tsunami.  Artinya, perhatian kita bukan hanya pada megathrust, tetapi juga pada sumber gempa outer-rise di luar dari megathrust di sebelah selatan,” jelas Pepen.

Di bagian utara Bali hingga Flores, terdapat pula Flores Back-Arc Thrust, yaitu sesar naik yang berpotensi besar menyebabkan deformasi di permukaan laut dan memicu tsunami. Wilayah ini juga memiliki karakteristik yang harus diwaspadai, terutama jika terjadi gempa besar.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Ancaman Tsunami

BMKG sendiri telah melakukan pemodelan skenario gempa di wilayah Megathrust Sumba. Hasil simulasi menunjukkan jika terjadi gempa besar, gelombang tsunami bisa mencapai ketinggian hingga 66–68 meter di Lombok Tengah, dengan estimasi waktu tiba tsunami sekitar 18 hingga 20 menit setelah gempa. 

“Ini skenario terburuk. Bisa terjadi, bisa juga tidak. Tapi prinsipnya, kita memodelkan kondisi paling parah agar jika yang terjadi lebih kecil, kita sudah siap,” ungkapnya.

Namun, perlu dicatat, estimasi waktu dan ketinggian tsunami ini bisa berbeda tergantung pada titik sumber gempa. Jika gempa datang dari sisi utara Lombok, maka waktu kedatangan tsunami akan lebih cepat dibandingkan dari sisi selatan.

Pepen juga menyoroti adanya kekosongan aktivitas gempa besar di sejumlah titik di Busur Sunda, yang mencakup wilayah mulai dari Pantai Barat Sumatera hingga Selatan Bali dan Nusa Tenggara.

Ini memperkuat asumsi ada seismic gap yang belum melepaskan energi sejak lama. Meski ada ahli yang menyebut gempa-gempa kecil sudah cukup untuk melepaskan energi di zona tersebut, Pepen mengingatkan agar masyarakat tidak boleh mengabaikan informasi semacam ini. 

“Meski ada creeping, kita tidak boleh lengah apalagi abai. Potensi tetap ada selama energi belum sepenuhnya dilepaskan,” katanya.

Ia menekankan kekhawatiran ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan. “Kita harus tetap siap, bahkan jika yang datang adalah gempa kecil. Tujuannya bukan membuat panik, tapi membangun kesiapan masyarakat sejak dini,” ujarnya.

Sejauh ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu dan lokasi pasti terjadinya gempa bumi. Meskipun para ahli sudah bisa mengidentifikasi sumber-sumber gempa, seperti zona subduksi atau sesar aktif, penentuan lokasi presisi dan waktu masih belum bisa dilakukan secara ilmiah.

“Oleh karena itu, mitigasi adalah kunci. Gempa bumi sendiri sebenarnya tidak langsung membunuh. Yang menyebabkan korban adalah runtuhan bangunan, pohon, atau tiang listrik. Jadi salah satu mitigasi struktural paling efektif adalah membangun rumah yang tahan gempa,” tutur Pepen.

Pengetahuan tentang potensi gempa dan tsunami harus terus disebarkan kepada masyarakat, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangun budaya siaga bencana.

Pepen menyarankan masyarakat sebaiknya tidak lagi berfokus pada pertanyaan kapan gempa akan terjadi, tetapi lebih pada bagaimana menyiapkan diri.

Ia mencontohkan langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah tangga sebagai bagian dari mitigasi non-struktural. Seperti menentukan jalur evakuasi dan tempat berkumpul yang aman.

Menjauhkan area berkumpul dari pepohonan besar atau jaringan listrik, menyimpan benda berat di bawah, memastikan barang gantung terpasang kuat, mengencangkan lemari ke dinding agar tidak mudah roboh saat gempa.

“Hal-hal seperti ini sangat penting, bukan hanya untuk kesiapan teknis, tetapi juga untuk mengurangi rasa panik saat gempa benar-benar terjadi,” pungkasnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Mitigasi Bencana

Menyikapi potensi ancaman gempa besar akibat aktivitas megathrust di selatan Pulau Lombok dan wilayah sekitarnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengambil langkah tegas dan sistematis.  Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi menyampaikan pihaknya telah memaparkan dan menyiapkan serangkaian strategi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah terhadap risiko bencana tersebut.

Ancaman megathrust bukanlah hal baru di NTB, terutama dengan keberadaan Segmen Sumba di selatan Lombok yang menurut para pakar seperti seismolog BMKG Pepen Supendi, berpotensi memicu gempa bumi besar berkekuatan hingga magnitudo 8,5 dan tsunami yang mengancam pesisir. Karena itu, kesiapan menjadi mutlak diperlukan.

“Kami telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman megathrust,” jelasnya.

Pelatihan dan simulasi bencana secara berkala. BPBD NTB akan mengintensifkan pelatihan dan simulasi penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami di seluruh kabupaten/kota di provinsi ini. Kegiatan tersebut ditujukan untuk memastikan seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, sekolah, komunitas lokal, dan sektor swasta, memiliki pemahaman dan respons cepat dalam menghadapi situasi darurat.

"Simulasi bukan sekadar formalitas. Ini tentang membangun refleks tanggap darurat yang bisa menyelamatkan nyawa saat detik-detik kritis terjadi," ujarnya.

Pemetaan daerah rawan gempa dan tsunami, di wilayah NTB. Data ini akan menjadi landasan penting dalam penyusunan kebijakan mitigasi bencana, pengembangan wilayah, dan penetapan zona aman bagi pembangunan infrastruktur maupun permukiman.

Penguatan infrastruktur vital. BPBD NTB juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta instansi teknis lain untuk memperkuat infrastruktur strategis, seperti jembatan, jalan penghubung antarwilayah, rumah sakit, dan bangunan publik lainnya.

Tujuannya adalah memastikan struktur tersebut tetap berdiri atau dapat segera dipulihkan pascagempa, sehingga mempercepat proses evakuasi dan bantuan.

Tak kalah penting, peningkatan edukasi publik dan literasi bencana. Menyadari pentingnya peran masyarakat dalam menghadapi bencana, BPBD NTB juga tengah menggencarkan kampanye edukasi dan literasi kebencanaan.

Kampanye dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari media massa, media sosial, penyuluhan langsung di desa/kelurahan, hingga integrasi materi kesiapsiagaan di sekolah. “Informasi yang benar harus sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Kita ajak masyarakat paham, bukan takut,” katanya.

Peningkatan kapasitas dan jumlah relawan tanggap bencana dengan merekrut, melatih dan membekali mereka dengan pengetahuan serta peralatan penanggulangan bencana yang memadai. Para relawan akan menjadi garda terdepan saat terjadi gempa atau tsunami. (yun/r3)

Editor : Siti Aeny Maryam
#bmkg #Gempa Bumi #nusa tenggara #Selatan #megathrust #Lombok