LombokPost - Persiapan MotoGP di Sirkuit Mandalika mulai dilakukan. Salah satunya terkait logistik MotoGP.
Kepala Kanwil Bea Cukai Bali Nusra R. Fadjar Donnny Tjahjadi menyatakan, siap berkoordinasi secara intensif bersama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) untuk melakukan tata kelola logistik MotoGP Mandalika yang berlangsung 3-5 Oktober.
“Tim Kanwil Bea Cukai Bali Nusra akan melakukan koordinasi dengan Kantor Bea Cukai Mataram, Lombok untuk memastikan setiap barang yang masuk sesuai ketentuan dan tepat waktu, sehingga tidak mengganggu jalannya persiapan maupun hari penyelenggaraan MotoGP,” ungkapnya, Kamis (11/9).
Ia menuturkan, MotoGP adalah event internasional yang memerlukan tata kelola logistik sempurna, memastikan masuk dan keluarnya logistik secara tepat, detil, dan tepat waktu.
Kanwil Bea Cukai Bali, NTB, dan NTT yang membawahi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Mataram (KPPBC TMP C Mataram) di NTB siap berkoordinasi dengan MGPA.
“Guna mensukseskan persiapan MotoGP Mandalika terkait dengan persiapan kedatangan logistik, agar event ini berjalan dengan lancar dan sukses,” katanya.
Selain itu, setiap barang yang masuk ke area sirkuit harus dipastikan keluar dalam jumlah yang sama.
Hal ini untuk mencegah terjadinya potensi penyalahgunaan atau ketidaksesuaian data logistik yang dapat merugikan pihak penyelenggara maupun negara.
“Barang masuk harus sama dengan barang yang keluar,” tegasnya.
Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Iwan Kurniawan menekankan pentingnya memperkuat standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan MGPA, khususnya terkait aktivitas pelaku usaha yang berada di dalam area sirkuit.
Menurutnya, SOP internal yang jelas akan menjadi landasan penting dalam menciptakan ketertiban dan kepastian hukum di kawasan yang menjadi magnet pariwisata dan olahraga itu.
“Agar diperkuat SOP di internal MGPA terkait dengan pelaku usaha lainnya yang berada di dalam area sirkuit,” sambungnya.
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria menyatakan, kawasan Sirkuit Mandalika tidak hanya menjadi arena balap motor kelas dunia, tetapi juga ruang bagi berbagai aktivitas usaha, mulai dari penyediaan logistik hingga layanan pendukung event internasional.
“Sebab itu, keberadaan SOP internal yang lebih kuat dinilai akan memperkuat koordinasi dengan instansi pemerintah, termasuk Bea Cukai,” kata dia.
MGPA, kata dia, akan terus menjaga pemenuhan kewajiban-kewajiban baik secara administratif maupun kepabeanan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebab, tanpa proses pemeriksaan dan pengawasan yang cepat dan akurat yang akan dilakukan Bea Cukai, logistik utama dari Dorna Sports maupun kebutuhan teknis lainnya bisa terhambat.
“Bea Cukai adalah garda depan dalam memastikan barang-barang untuk MotoGP Mandalika bisa masuk dengan lancar. Tanpa mereka, balapan ini tidak mungkin bisa berjalan tepat waktu,” ucap Andhi sapaannya.
Pinjam Heli Basarnas
Selain itu, dua unit helikopter dipinjamkan Basarnas sebagai Heli Medical Transport selama ajang MotoGP Mandalika 2025.
Kedua helikopter ini akan didatangkan dari Jakarta atau lokasi lain di mana heli tersebut berada sebelum pelaksanaan MotoGP.
“Kenapa dua? Karena satu helikopter harus selalu standby. Jika satu sedang terbang melakukan evakuasi medis, maka helikopter kedua tetap siaga untuk mengantisipasi kejadian darurat lain,” ungkapnya.
Keberadaan dua helikopter ini bukan sekadar tambahan fasilitas, melainkan syarat wajib dalam regulasi yang ditetapkan oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM).
Mulai Jumat pagi menjelang sesi latihan, FIM Medical Official akan memeriksa seluruh peralatan medis, termasuk memastikan keberadaan dua helikopter yang selalu standby di dekat Medical Center.
Priandhi menegaskan, keberadaan helikopter medis bersifat mutlak.
Helikopter harus standby selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, mulai dari sesi latihan bebas, kualifikasi, hingga balapan.
Tanpa adanya helikopter medis yang siaga, balapan bisa dihentikan langsung oleh Chief Medical Officer (CMO).
Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan maksimal bagi para pembalap MotoGP.
Jika terjadi insiden serius di lintasan, helikopter dapat dengan cepat melakukan evakuasi ke rumah sakit rujukan dengan fasilitas lengkap.
Tak hanya menyediakan helikopter, Basarnas juga akan menurunkan tim dan peralatan penyelamatan khusus untuk mendukung kelancaran event.
Mereka akan standby di area sirkuit sepanjang ajang MotoGP berlangsung, siap mengantisipasi berbagai kemungkinan, mulai dari insiden balapan hingga potensi bencana alam.
“Basarnas memiliki berbagai peralatan untuk evakuasi dan penyelamatan. Kehadiran mereka adalah bentuk dukungan negara dalam memastikan MotoGP berjalan aman sekaligus memperkenalkan Indonesia di mata dunia,” jelasnya.
Kerja sama MGPA dengan Basarnas mencerminkan sinergi lintas sektor dalam penyelenggaraan event berskala internasional.
Dukungan ini bukan hanya untuk memenuhi regulasi FIM, tetapi juga menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga standar keselamatan tertinggi.
“Kehadiran mereka menambah keyakinan kita bahwa Mandalika siap menjadi tuan rumah yang tidak hanya spektakuler, tetapi juga aman bagi semua pihak,” kata Andhi.
Simulasi dan Skenario Evakuasi
Direktur Sistem Komunikasi Basarnas (Dirsiskom) Brigjen TNI Tofik Tofana telah mempersiapkan berbagai langkah strategis untuk memastikan aspek keselamatan selama penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika.
Kehadiran Basarnas di ajang sebesar MotoGP merupakan bentuk komitmen negara dalam memberikan rasa aman kepada seluruh pihak, baik pembalap, kru tim, panitia, maupun penonton.
Peran utama Basarnas akan banyak terfokus pada penanganan kedaruratan dan proses evakuasi bila sewaktu-waktu terjadi insiden sehingga penanganan dapat berjalan cepat dan terkoordinasi.
“Untuk mendukung kelancaran MotoGP, nantinya banyak dilaksanakan oleh kantor SAR Mataram. Mereka akan memberikan bantuan jika terjadi kedaruratan, termasuk evakuasi terhadap korban,” jelas Tofik.
Sebagai bagian dari persiapan, Basarnas telah merancang berbagai simulasi tanggap darurat. Salah satu skenario yang menjadi fokus adalah evakuasi menggunakan helikopter.
Menurut Tofik, evakuasi udara menjadi pilihan penting mengingat kondisi geografis dan potensi keramaian besar di sekitar sirkuit.
“Secara garis besar, yang akan disimulasikan adalah proses evakuasi menggunakan heli dan kemampuan lain yang sudah disiapkan. Jadi jika ada kemungkinan kejadian darurat, kita sudah siap dengan skenario yang telah dirancang,” paparnya.
Selain helikopter, Basarnas juga menyiapkan kemampuan SAR darat dan laut, sebagai langkah antisipasi jika diperlukan penanganan di sekitar kawasan Mandalika yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai.
Kesiapan Basarnas tidak berdiri sendiri, melainkan melalui koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait.
“Basarnas telah menjalin komunikasi dengan unsur TNI, Polri, dan instansi pendukung lainnya. Semua itu untuk memastikan jika ada keadaan darurat, respon yang diberikan bisa cepat dan tepat,” ungkapnya.
Dari sisi sarana, kata Tofik, Basarnas memastikan ketersediaan peralatan utama.
Dua unit helikopter telah disiapkan untuk mendukung operasi, salah satunya berasal dari Surabaya.
Kehadiran armada ini diharapkan bisa mempercepat proses evakuasi jika ada insiden yang membutuhkan penanganan segera.
Walau tidak menutup kemungkinan adanya tantangan besar di lapangan. Faktor cuaca disebutnya sebagai risiko utama yang harus diantisipasi.
“Tantangan terbesar mungkin adalah gangguan cuaca. Kondisi seperti hujan deras atau angin kencang bisa berdampak pada proses evakuasi maupun keselamatan penonton,” jelasnya.
Selain cuaca, tingginya antusiasme masyarakat yang berbondong-bondong datang ke Mandalika juga menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Pengelolaan massa dan kesiapan jalur evakuasi bagi penonton menjadi aspek penting agar tidak menimbulkan masalah tambahan saat terjadi situasi darurat.
Tofik berharap, agar seluruh aspek keselamatan dapat benar-benar terjamin selama penyelenggaraan MotoGP.
Ia menekankan pentingnya perencanaan matang dari semua pihak, mulai dari panitia hingga aparat keamanan.
“Semoga seluruh pihak dapat bersinergi sehingga event ini bisa menjadi kebanggaan Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam