LombokPost - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal sangat serius dengan rencana reformasi BUMD melalui pembentukan entitas baru bernama NTB Capital.
"NTB Capital saat ini sedang kita godok. Ini adalah capital ventura yang akan dimiliki oleh Pemprov NTB,” terangnya, Senin (15/9).
Gubernur menyoroti banyaknya BUMD yang selama ini tidak berjalan sesuai harapan. Menurutnya, kegagalan sebagian besar BUMD di NTB disebabkan oleh ketidaktepatan dalam memilih sektor bisnis. Serta minimnya pemahaman terhadap bidang usaha yang digeluti.
Akibatnya, banyak BUMD justru berperan sebagai pemburu rente yang hanya menjalankan penugasan dari pemerintah. Tanpa menciptakan nilai tambah atau pertumbuhan usaha yang sehat.
“Belajar dari pengalaman kita selama ini, ternyata BUMD kita banyak berbisnis di sektor yang tidak dipahami, itulah sebabnya kenapa BUMD kita hampir semuanya kolaps. Karena dia berbisnis di bidang yang akhirnya jadi pemburu rente,” sindir gubernur.
Nantinya, NTB Capital dirancang sebagai badan usaha berbasis modal ventura. Bertugas untuk menjadi katalis dalam pembangunan ekonomi daerah.
Berbeda dari model BUMD sebelumnya yang cenderung mengambil alih peran pelaku usaha swasta. NTB Capital akan berfungsi sebagai stimulan dan pemberi jaminan terhadap proyek-proyek strategis dan investasi yang masuk ke NTB.
“NTB Capital tidak akan bersaing dengan pengusaha lokal. Justru sebaliknya, kita ingin BUMD ini tidak menyebabkan gangguan pasar. Tidak boleh ada monopoli,” jelas pria asal Lombok Tengah tersebut.
Semua BUMD di sektor keuangan akan dilebur dan dikonsolidasikan ke dalam satu entitas utama yaitu Bank NTB Syariah. Sementara untuk BUMD di sektor non-keuangan, semuanya akan dikelola dan dikonsolidasikan di bawah NTB Capital.
Ia yakin melalui pembentukan NTB Capital dan konsolidasi BUMD, pemprov akan memiliki alat yang efektif. Berguna dalam membangun ekosistem investasi yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan di NTB.
Iqbal menegaskan, orientasi Pemprov NTB, bukan lagi pada penguasaan pasar melalui BUMD. Melainkan pada pembentukan sinergi antara pemerintah dan swasta yang saling menguntungkan.
“Sudah saatnya kita membentuk BUMD yang sehat, profesional, dan berorientasi pada pembangunan jangka panjang. Bukan yang hanya mencari rente dari proyek pemerintah. NTB Capital akan menjadi wajah baru dari BUMD kita,” tandasnya.
Ketua Komisi III DPRD NTB Sambirang Ahmad menilai mimpi besar tersebut perlu didukung. Namun tetap menekankan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam mengenai arah dan strategi bisnis BUMD di era kepemimpinan saat ini.
Menurutnya, permasalahan yang selama ini dihadapi BUMD, ada kecenderungan melakukan diversifikasi usaha di bidang-bidang yang kurang dikuasai. Hal ini menyebabkan kontribusi balik ke daerah menjadi kurang optimal.
“Selama ini kadang banyak diversifikasi usaha di BUMD, tetapi bukan usaha yang tidak begitu dikuasai sehingga yang kembali ke daerah itu nggak bagus,” kata politisi PKS tersebut.
Karenanya, diperlukan strategi gubernur yang fokus pada dua hal. Pertama, menyehatkan BUMD yang sedang bermasalah. Kedua, melakukan konsolidasi BUMD agar lebih selaras dengan visi daerah.
Khususnya di sektor ketahanan pangan dan pariwisata, ini perlu diberi kesempatan untuk diwujudkan.
"BUMD tidak boleh menjadi pesaing yang mematikan dunia usaha atau swasta, tapi harus menjadi mitra. Itu bagus dan patut kita dukung," ujarnya.
Terkait kemungkinan tumpang tindih antar BUMD, Sambirang berharap hal itu tidak akan terjadi. Justru, BUMD seperti PT Gerbang NTB Emas (GNE) akan dikonsolidasikan ke dalam satu struktur BUMD yang lebih besar.
Menurut penjelasan gubernur, struktur baru ini akan dibagi menjadi dua jenis BUMD, bergerak di sektor keuangan dan non-keuangan.
Model ini akan membentuk holding BUMD yang lebih terstruktur dan fokus. "Kita perlu menguji model ini, tetapi secara konsep, ini adalah langkah konsolidasi yang bisa memperkuat kinerja BUMD ke depan,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam