Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terjadi Lagi Siswa Diduga Keracunan Usai Santap MBG, BBPOM Mataram Beri Catatan

Yuyun Kutari • Senin, 22 September 2025 | 20:20 WIB
TERBARING LEMAH: Para siswa MTsN 2 Sumbawa mendapatkan perawatan, diduga keracunan usai menyantap MBG, Rabu (17/9).
TERBARING LEMAH: Para siswa MTsN 2 Sumbawa mendapatkan perawatan, diduga keracunan usai menyantap MBG, Rabu (17/9).

LombokPost - Kejadian siswa yang keracunan usai menyantap sajian Makan Bergizi Gratis (MBG) kian mengkhawatirkan.

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram Yosef Dwi Irwan Prakasa menegaskan, kasus dugaan keracunan makanan dari program MBG yang terjadi di beberapa daerah di NTB masih dalam tahap penyelidikan.

“Terkait dengan kejadian keracuna MBG itu masih dugaan,” terangnya. 

Menurutnya, mekanisme penanganan kasus ini berada di bawah tanggung jawab dinas kesehatan (dikes). BBPOM Mataram, lanjut Yosef, turut melakukan pengujian sampel makanan terkait parameter mikrobiologi, guna memastikan penyebab pasti dari kasus keracunan tersebut.

Sampel yang diterima berasal dari Lombok Barat dan Sumbawa yang terbaru dari kejadian pada tanggal 17 September. Dikatakannya, penyebab keracunan ini cukup kompleks. Bisa saja dari menu makanan itu sendiri, atau ada faktor lain yang ikut berperan.

Dari hasil pengujian sejauh ini, ditemukan adanya indikasi cemaran bakteri ecoli. Namun, Yosef menegaskan ada dua aspek penting yang harus diperhatikan.

Yakni, proses pemasakan di penyedia makanan (SPPG) dan perilaku kebersihan di sekolah itu sendiri. "Berdasarkan penelusuran kami di sekolah, saat siswa menerima makanan MBG, mereka langsung mengonsumsi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Ini menjadi perhatian serius. Edukasi kepada siswa mengenai pentingnya cuci tangan dengan sabun sebelum makan sangat diperlukan. Ada sekolah yang menyediakan fasilitas cuci tangan, tapi tanpa sabun. Itu sama saja tidak efektif.

Ia juga menekankan pentingnya kajian komprehensif terkait seluruh proses penyediaan MBG. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan harus memenuhi standar sanitasi yang ketat.

“Distribusi makanan MBG sebaiknya dikonsumsi maksimal lima jam setelah dibagikan. Jika makanan panas langsung ditutup, akan timbul embun yang bisa menurunkan mutu dan memicu pertumbuhan bakteri,” terangnya.

Yosef mencontohkan, dalam penyediaan makanan dalam jumlah besar seperti 500 butir telur. Proses pengupasan harus dilakukan di tempat yang higienis untuk menghindari kontaminasi sebelum proses memasak lanjutan.

Petugas pengolah makanan juga wajib mengikuti protokol kebersihan, seperti mencuci tangan dengan sabun.

Juga memakai masker, penutup kepala, sarung tangan, dan tidak menyentuh makanan langsung setelah dari toilet tanpa mencuci tangan.

“Artinya ini perlu kajian yang konperhensif. Dari pihak SPPG juga perlu menjadi catatan juga bagaimana memastikan setiap rangkaian prosesnya itu memenuhi aspek dari segi sanitasi,” pungkasnya. 

Editor : Siti Aeny Maryam
#SPPG #keracunan #Makan Bergizi Gratis (MBG) #Mataram #balai besar pengawas obat dan makanan #siswa