Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Karena Hal Ini, Keluarga Korban Pantai Nipah Yakin Jika Radiet Ardiansyah Adalah Otak Pembunuhan

Fratama P. • Kamis, 25 September 2025 | 18:55 WIB
Rekonstruksi Radiet Adiansyah di Pantai Nipah
Rekonstruksi Radiet Adiansyah di Pantai Nipah

LombokPost - Setelah pelaksanaan rekonstruksi kasus kematian tragis mahasiswi Universitas Mataram (Unram), Ni Made Vaniradya Puspa Nitra, di Pantai Nipah, Lombok Utara, keyakinan keluarga korban terhadap keterlibatan tersangka Radiet Adiansyah semakin bulat.

Reka ulang adegan yang digelar pada Kamis (25/9) di kawasan Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, justru memperkuat dugaan keluarga bahwa Radiet Adiansyah adalah otak di balik pembunuhan keji di Pantai Nipah.

Kuasa hukum keluarga korban, I Gde Pasek Sandiartyke, menyampaikan bahwa dalam rekonstruksi tersebut, polisi menyajikan dua versi kejadian: versi pengakuan tersangka dan versi yang didasarkan pada fakta penyelidikan.

Pasek menegaskan bahwa keluarga korban sepenuhnya memercayai versi yang terungkap dari penyelidikan polisi di lapangan.

“Kalau sesuai fakta di lapangan itu sangat jauh berbeda di mana Radiet tidak mengakui kan (kalau dia pembunuh). Dia punya versi tersendiri, ya kami hormati versinya tersangka, saya tidak bisa intervensi,” ujar Pasek saat ditemui di lokasi kejadian.

Perbedaan Mencolok Antara Pengakuan dan Bukti Lapangan

Baca Juga: Siapa dr Tan Shot Yen? Dokter Gizi Lulusan Filsafat yang Berani 'Semprot' Program MBG di Depan DPR

Pasek Sandiartyke menyoroti adanya perbedaan signifikan antara keterangan tersangka saat rekonstruksi dengan fakta yang ditemukan oleh pihak keluarga di awal kejadian.

Perbedaan ini mencakup posisi atau lokasi spesifik ditemukannya Radiet Adiansyah oleh keluarga korban pada malam kejadian, yang jauh berbeda dengan yang disampaikan tersangka.

Bagi pihak keluarga, perbedaan mencolok ini menjadi indikasi kuat adanya upaya pengelabuan atau kebohongan dari tersangka.

Oleh karena itu, rekonstruksi tersebut bukan melemahkan, melainkan justru semakin memperkuat dugaan mereka.

“Mewakili pihak keluarga, saya dan keluarga berkeyakinan 100 persen, tidak berkurang lagi malah tambah yakin setelah rekonstruksi ini dilaksanakan, bahwa Radiet ini pembunuh,” tegas Pasek.

Kejanggalan pada Adegan Pemukulan dan Motif Perlawanan Korban

Selain perbedaan lokasi, kuasa hukum juga menyoroti kejanggalan pada adegan pemukulan yang diperagakan tersangka.

Radiet Adiansyah mengklaim bahwa korban langsung pingsan setelah dipukul dengan bambu.

Namun, menurut Pasek, tingkat keparahan luka pada wajah korban tidak sesuai dengan pengakuan tersebut.

Pasek menjelaskan bahwa versi polisi, yang diyakini keluarga, jauh lebih masuk akal untuk menjelaskan luka korban.

“Kalau rekonstruksi versi polisi itu adalah jelas, pertama-tama ada luka pukulan terlebih dahulu di bagian muka (korban) baru dia (memukul korban) pakai bambu di belakang,” jelasnya.

Lebih jauh, Pasek Sandiartyke meyakini bahwa korban sempat melakukan perlawanan saat tersangka berusaha melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Perlawanan ini disimpulkan sebagai upaya korban untuk mempertahankan diri dan menjaga kehormatannya.

“Saya pastikan (ada) perlawanan dari korban, itu bentuk korban menjaga kesucian dirinya,” pungkas Pasek, menunjukkan keyakinan penuh keluarga bahwa motif kekejaman ini berawal dari penolakan.

Hasil rekonstruksi dengan dua versi yang bertolak belakang ini kini menjadi dasar yang kuat bagi pihak Kejaksaan untuk memproses kasus ini lebih lanjut, dengan fokus pada fakta-fakta penyelidikan yang dinilai lebih valid daripada pengakuan sepihak tersangka. Radiet Adiansyah.***

Editor : Fratama P.
#Radiet Adiansyah #Pantai Nipah