LombokPost - Menanggapi kasus dugaan keracunan makanan dalam program MBG, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB HL Hamzi Fikri menjelaskan gejala yang dialami para siswa umumnya berupa mual, muntah, pusing, dan diare.
Itu adalah gejala umum yang ditemui saat seseorang mengalami keracunan makanan akut. “Dengan masa inkubasi 30 menit hingga 8 jam,” kata dia.
Sampel makanan, muntahan, dan feses telah dikirim untuk diuji bersama BBPOM, dan saat ini masih menunggu hasil laboratorium. Yang disoroti lemahnya praktik Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di sejumlah sekolah.
“Mayoritas sekolah tidak menyediakan sabun. Bahkan pemberian makanan tidak disertai sendok dan air minum oleh SPPG, padahal ini langkah awal mencegah penyebaran penyakit,” ungkapnya.
Dikes NTB akan terus memantau kasus dengan penyelidikan lanjutan untuk mengidentifikasi sumber paparan, serta memastikan penanganan cepat melalui rehidrasi bagi penderita.Edukasi masyarakat mengenai kebersihan pangan, penyimpanan, dan pengolahan makanan yang aman dinilai sangat penting.
Adapun di Sumbawa Barat, sempat ditemukan larva dalam makanan MBG yang diduga belatung. Namun setelah dikaji Dinas Kesehatan Sumbawa Barat, larva tersebut merupakan ulat buah dari jeruk, bukan belatung.
Hasil pengawasan bersama Wakil Bupati Sumbawa Barat Hanipah W Musyafirin pada 24 September lalu, menunjukkan kondisi ruangan di SPPG perlu evaluasi. Termasuk pengendalian vektor, pemasangan insect killer, kepatuhan penggunaan APD, dan kedisiplinan menjalankan SOP.
Fikri menegaskan prinsip higiene dan sanitasi pangan wajib dijalankan secara ketat. Dari bangunan, air bersih, pemilihan bahan baku, hingga pencatatan dan pelaporan. “Kepatuhan terhadap SOP pengolahan dan pengendalian vektor sangat penting untuk menjamin makanan aman sampai ke tangan siswa,” ujar mantan direktur RSUD NTB tersebut.
Dengan berbagai temuan yang ada, Dikes NTB berkomitmen terus memantau perkembangan kasus. Juga memperketat pengawasan terhadap penyelenggaraan program MBG.
Langkah-langkah pencegahan yang akan dilakukan meliputi edukasi mengenai kebersihan dan pengolahan makanan yang benar kepada SPPG dan masyarakat. Pemenuhan sarana CTPS dan perlengkapan makan yang memadai di setiap sekolah.
Serta, pengawasan rutin terhadap proses produksi dan distribusi MBG. “Kami mengimbau seluruh pihak terkait untuk bekerja sama dalam memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan,” pungkasnya.
Rekap Kejadian Dugaan Keracunan Makanan Program MBG di NTB (Jan–Sep 2025)
- Total Kejadian: 5 kasus dugaan keracunan makanan terkait program MBG di NTB
- Total Korban: 252 siswa dari berbagai jenjang pendidikan
- Sebaran Lokasi: Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Sumbawa
Rincian Kronologis Kejadian
23 April 2025 – Lombok Tengah
Lokasi: SDN Repok Tunjang, Kecamatan Jonggat
Korban: 5 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG
3 September 2025 – Lombok Barat
Lokasi: SDN 1 Selat, Kecamatan Narmada
Korban: 17 siswa alami gejala serupa
9 September 2025 – Sumbawa
Korban: 118 siswa dari 4 sekolah:
- SMAN 2 Sumbawa: 50 siswa
- MI NW Sumbawa: 11 siswa
- TK An Nurfalah: 25 siswa
- SDN Lempeh: 32 siswa
17 September 2025 - Sumbawa
Korban: 106 siswa dari 3 sekolah:
- MIN 3 Sumbawa: 20 siswa
- MTSN 2 Sumbawa: 70 siswa
- MAN 3 Sumbawa: 16 siswa
24 September 2025 – Lombok Tengah
Lokasi: MTSN Aunul Ibad Beroro
Korban: 6 siswa
Editor : Siti Aeny Maryam