Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Multiplier Effect MotoGP di Luar Sirkuit Mandalika, Jersey Jadi Rebutan, Pedagang Panen Cuan

Lestari Dewi • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 11:00 WIB
Pengunjung domestik hingga mancanegara berburu kaos jersey usai menukar tiket MotoGP 2025 di area Bazaar Mandalika, Desa Kuta Pujut, Lombok Tengah, Jumat (3/10).
Pengunjung domestik hingga mancanegara berburu kaos jersey usai menukar tiket MotoGP 2025 di area Bazaar Mandalika, Desa Kuta Pujut, Lombok Tengah, Jumat (3/10).

Pengunjung tumpah ruah menuju area Bazaar Mandalika, Kuta. Mereka bukan hanya mencari makanan atau kerajinan lokal, usai menukarkan tiket menonton MotoGP. Namun mereka juga mencari pakaian "tempur" untuk menonton MotoGP.

-----

MENTARI perlahan mulai condong ke barat, namun suhu di Bazaar Mandalika, Kuta, Lombok Tengah, justru semakin memanas. Bukan karena terik, melainkan oleh gelora antusiasme para penggemar balap.

Aroma sate khas Lombok berpadu dengan debu sirkuit yang terbawa angin, menciptakan suasana unik yang hanya ada saat gelaran MotoGP Mandalika 2025.

Sejak sesi latihan bebas di sirkuit usai, gelombang pengunjung tumpah ruah menuju area bazaar.

Mereka bukan hanya mencari makanan atau kerajinan tangan lokal, tetapi terutama mencari “seragam tempur” mereka, jersey replika pembalap idola.

Semakin sore, keramaian di antara deretan tenant UMKM dan official merchandise semakin pekat.

Langkah kaki yang terburu-buru, suara tawar-menawar yang riuh, dan sapaan antar sesame penggemar menciptakan simfoni perburuan.

Tumpukan kaus yang awalnya rapi kini berantakan, diobrak-abrik oleh tangan-tangan yang tak sabar.

“Ada yang Marc Marquez nomor 93, Mas? Ukuran XL!” teriak seorang pemuda dengan topi terbalik, suaranya nyaris tenggelam di antara musik DJ yang diputar keras dari tenda penukaran tiket MotoGP.

Di sudut lain, seorang ibu-ibu menawar sengit harga hoodie tim yang didominasi warna merah.

Jersey dari tim-tim papan atas seperti Ducati (terutama nomor-nomor yang sedang memimpin klasemen), Aprilia dengan warna khasnya, hingga pernak-pernik bergambar legenda yang kini menjadi tim, Mooney VR46, menjadi target utama.

Wajah-wajah yang lelah setelah seharian di sirkuit berubah semringah ketika berhasil menemukan baju jagoan mereka.

Memegang jersey dengan nama seperti Francesco Bagnaia, Jorge Martin, atau rookie yang sedang naik daun terasa seperti mendapatkan trofi pribadi.

Mereka langsung mengenakannya, menyatu dalam lautan warna-warni yang mewakili bendera dan logo tim dari seluruh penjuru dunia. “Iya dong langsung dipakai,” ujar Fahri penggemar berat Fabio Quartararo ini.

Di balik hiruk pikuk perburuan tersebut, denyut ekonomi lokal berdetak kencang. Bagi para pedagang kecil yang membuka lapak dadakan di area bazaar, momen MotoGP ini adalah panen raya yang tak terduga.

Penjual kaus replika non-resmi, yang seringkali menawarkan harga lebih terjangkau, menjadi incaran utama para penonton yang ingin tampil heboh tanpa menguras dompet.

Mereka yang biasanya hanya menjual dagangan di pasar lokal kini kewalahan melayani pembeli. Seorang pedagang jersey bernama Juan tersenyum lebar sambil menyeka keringatnya.

Ia mengaku, omzetnya selama awal pekan perhelatan sudah mencapai lima kali lipat dari penjualan bulanannya.

“Ini berkah Mandalika, Mbak. Kaus Marc Marquez dan Pecco Bagnaia habis duluan. Sejak pagi hingga siang hari sudah tidak ada waktu istirahat. Pokoknya cuan!” serunya sambil merapikan deretan baju jersey warna warni itu.

Warga asli Desa Kuta ini mengaku, pada hari biasa baju jersey yang disediakan hanya 100 pcs dengan berbagai ukuran.

Kali ini, masing-masing ukuran dirinya siapkan baik anak-anak hingga orang dewasa sebanyak 400 pcs. Harga yang ditawarkan masih terjangkau sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu sesuai bahan jersey.

“Untuk anak-anak paling mahal Rp 125 ribu, kalau bahannya kaus bisa Rp 85 ribu,” kata Juan.

Meski omzetnya tidak sebanyak ketika MotoGP kali pertama digelar, Juan bersyukur atas rezekinya kali ini.

Sebab dari hasil ini ia bisa memutar kembali untuk mengembangkan usahanya. “Putar lagi modalnya,” cetus dia.

Peningkatan daya beli yang masif ini tidak hanya dirasakan oleh penjual merchandise. Pedagang minuman dingin, penjual kopi keliling, makanan pun merasakan dampak manis euforia balap ini.

Mereka semua menjadi bagian integral dari “pesta dunia di tanah Sasak” yang mendatangkan rezeki luar biasa, membuktikan bahwa MotoGP tak hanya memacu adrenalin, tetapi juga roda perekonomian.

Puncak keramaian terjadi tepat menjelang magrib. Lampu-lampu tenda mulai menyala, menerangi lautan manusia yang seolah tak kenal lelah.

Euforia di Mandalika tak hanya terjadi di lintasan aspal, tetapi juga di lantai bazaar ini. Setiap jersey yang terjual adalah sebuah deklarasi dukungan, sebuah janji untuk berteriak lantang saat sang jagoan melintas di putaran final hari Minggu.

Perburuan jersey di Bazaar Mandalika adalah ritual wajib. Di sinilah fanatisme bertemu dengan ekonomi lokal, mengubah sepotong kain menjadi simbol kebanggaan dan harapan akan gelar juara dunia MotoGP 2025.

Para pemburu sejati baru akan pulang setelah kantong belanja mereka terisi penuh, siap menyambut balapan utama dengan atribut kebesaran lengkap.

Editor : Jelo Sangaji
#MotoGP #multiplier effect #Sirkuit Mandalika #Pedagang #raup cuan #jersey #Rebutan