UNDP dan KKP Dorong Perlindungan Ekosistem Laut Melalui Pilot Asuransi Terumbu Karang di Lombok

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Kamis, 9 Oktober 2025 | 04:40 WIB
Pelaksanaan kegiatan Lokakarya dengan judul Pengembangan Prototype Asuransi sebagai Instrumen Transfer Risiko Kerusakan Terumbu Karang di Kawasan Gili Matra di Mataram, Kamis (8/10).
Pelaksanaan kegiatan Lokakarya dengan judul Pengembangan Prototype Asuransi sebagai Instrumen Transfer Risiko Kerusakan Terumbu Karang di Kawasan Gili Matra di Mataram, Kamis (8/10).

LombokPost - Sebagai upaya menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, Program UNDP Insurance and Risk Finance Facility (IRFF) bekerja sama dengan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Wilayah Kerja Gili Matra, unit kerja di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), meluncurkan inisiatif pilot asuransi terumbu karang di kawasan Gili Matra, Lombok.

"Program ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekosistem laut, sekaligus mendukung ekonomi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada terumbu karang," terang Cherie Gray, Global Lead SwissRe. 

Kegiatan ini dilaksanakan 6 - 8 Oktober dengan rangkaian berupa konsultasi dan dialog intensif bersama komunitas masyarakat pesisir, pelaku usaha wisata bahari, serta perwakilan pemerintah daerah, dan telah mendapat dukungan penuh dari ORRAA UK Blue Planet Fund. 

Selanjutnya, pelaksanaan Lokakarya dengan judul Pengembangan Prototype Asuransi sebagai Instrumen Transfer Risiko Kerusakan Terumbu Karang di Kawasan Gili Matra, berlangsung di Mataram, Kamis (8/10).

Kegiatan ini menjadi momentum penting, untuk memperkenalkan inovasi pembiayaan risiko perubahan iklim yang memanfaatkan mekanisme asuransi, sebagai solusi nyata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem terumbu karang.

Salah satu ancaman utama yang dihadapi kawasan konservasi Gili Matra adalah pemutihan terumbu karang (coral bleaching) akibat kenaikan suhu permukaan laut. Kondisi ini tidak hanya merusak habitat laut yang kaya keanekaragaman hayati, tetapi juga mengancam sumber penghidupan masyarakat pesisir yang mengandalkan wisata bahari dan perikanan.

Melalui pilot ini, UNDP dan KKP ingin memberikan perlindungan finansial yang dapat meringankan dampak risiko tersebut. Tim proyek memperkenalkan produk asuransi parametik yang dikembangkan oleh SwissRe, sebuah perusahaan reasuransi global yang dikenal dengan inovasi di bidang manajemen risiko iklim.

Produk asuransi ini menggunakan data suhu permukaan laut sebagai parameter utama (trigger) untuk menentukan kapan klaim dapat dicairkan. Mekanisme ini memungkinkan klaim asuransi dibayarkan secara otomatis ketika suhu laut mencapai ambang tertentu yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, sehingga membantu mempercepat pemulihan dan mendukung aktivitas konservasi.

“Inovasi asuransi parametik ini adalah contoh nyata bagaimana produk asuransi dapat melengkapi pendekatan manajemen risiko konvensional dan memberikan dukungan finansial yang cepat dan tepat waktu saat terjadi dampak perubahan iklim. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan resiliensi ekosistem laut dan masyarakat yang bergantung padanya," jelas Cherie Gray. 

Sementara itu, para peserta konsultasi dari komunitas lokal dan pelaku usaha bahari menyambut positif inisiatif ini. Mereka menegaskan terumbu karang bukan hanya sumber daya alam biasa, melainkan aset vital yang harus dilindungi demi keberlangsungan hidup mereka.

"Terumbu karang adalah emas bagi kami, tentu kami tidak memiliki sumber daya seperti minyak atau batubara. Oleh karena itu, kami harus menjaga dan merawat terumbu karang ini dengan sebaik-baiknya, dengan gotong royong dan kerja sama yang erat antarwarga," terang Sanu, salah seorang penggiat komunitas di Gili Matra. 

Selain risiko perubahan iklim, kawasan Gili Matra juga menghadapi berbagai ancaman lain yang mempengaruhi ekosistem laut, seperti sampah dan polusi akibat aktivitas manusia, serta dampak lingkungan seperti kenaikan permukaan air laut dan abrasi pantai.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Ahmadi menyoroti, tantangan ini memerlukan langkah strategis dan kolaborasi antar berbagai pihak agar kawasan konservasi dapat terjaga dengan baik dan manfaat ekologis maupun ekonominya tetap dapat dinikmati oleh masyarakat setempat.

"Inisiatif asuransi terumbu karang ini menjadi pionir dalam mendorong mekanisme pembiayaan risiko yang berkelanjutan bagi perlindungan keanekaragaman hayati laut di Indonesia," kata dia.

Hal ini sejalan dengan program prioritas Ekonomi Biru yang dicanangkan oleh pemerintah, upaya ini merupakan langkah konkret dalam mengelola kawasan konservasi secara efektif dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Firdaus Agung, Direktur Konservasi Ekosistem KKP menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap terumbu karang. Selama ini, terumbu karang masih dipandang sebagai sumber daya alam biasa. 

"Padahal, terumbu karang sejatinya adalah aset ekonomi dan ekologi yang sangat berharga dan perlu diperlakukan seperti aset lainnya yang kita miliki, seperti rumah, mobil, atau motor, yang membutuhkan perawatan dan perlindungan," tegasnya.

Karenanya, menjaga dan merawat terumbu karang di Gili Matra harus menjadi prioritas bersama. Adapun Pemilihan Gili Matra sebagai lokasi percontohan, dianggap sangat strategis karena wilayah ini memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi.

Selain itu, Gili Matra juga telah ditetapkan sebagai Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) oleh International Maritime Organization (IMO), yang menandakan kawasan ini memiliki sensitivitas lingkungan yang memerlukan perlindungan khusus dari risiko pencemaran dan kerusakan akibat aktivitas maritim.

Dengan pilot asuransi ini, diharapkan akan tercipta model pembiayaan risiko yang inovatif dan dapat direplikasi di kawasan konservasi lain di Indonesia, sehingga perlindungan terhadap ekosistem laut dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir dapat terus terjaga di tengah dinamika perubahan iklim global.

Editor : Siti Aeny Maryam
Sumber : Liputan
Konservasi Perubahan Iklim NTB KKP ekosistem Terumbu Karang Lombok