LombokPost - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Bumi Gora.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan saat ini pihaknya tengah menghadapi tantangan besar dalam penanganan penyakit ini.
Data Dikes NTB per September 2025 menunjukkan, jumlah kasus TBC yang ditemukan mencapai 19.180 kasus. Namun angka ini diperkirakan baru sebagian kecil dari keseluruhan penderita di masyarakat yang belum terdiagnosis. (Rincian per kabupaten/kota lihat grafis).
“Tantangan kita terutama dalam memastikan penemuan kasus TBC secara masif dan menyeluruh,” tegasnya, Rabu (8/10).
Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan pengendalian TBC adalah mempercepat proses deteksi kasus, khususnya bagi orang yang mengalami batuk berkepanjangan.
“Orang yang mengalami batuk lebih dari dua minggu harus segera diperiksa agar tidak terjadi keterlambatan diagnosis yang dapat memperburuk kondisi pasien dan meningkatkan risiko penularan,” jelasnya.
Tantangan dalam Pencegahan
Fikri mengakui banyak tantangan dan upaya yang tidak mudah, dalam menemukan kasus TBC di tengah masyarakat. Seperti stigma sosial terhadap penderita TBC. Banyak masyarakat yang takut dan menjauhi penderita karena khawatir tertular.
Padahal, jika penderita memakai masker dan menjalani pengobatan, risiko penularan bisa diminimalkan. Penularan TBC melalui droplet mirip dengan Covid-19, namun potensi penularannya bahkan lebih tinggi.
“Satu penderita TBC aktif bisa menularkan penyakit ini ke hingga 24 orang di sekitarnya, seperti keluarga dan tetangga. Jika tidak segera diobati, risiko penyebaran sangat luas,” ujarnya.
Tantangan lainnya, investigasi kontak yang belum optimal di seluruh wilayah, skrining populasi risiko tinggi yang belum maksimal, keterbatasan jumlah dan akses layanan diagnosis, serta keterbatasan jejaring rujukan internal dan eksternal fasilitas kesehatan.
Untuk mengatasi hal ini, berbagai upaya telah dilakukan, seperti melibatkan anggota keluarga, tokoh masyarakat, aparat desa, organisasi masyarakat, dan petugas kesehatan dalam investigasi kontak.
Investigasi kontak secara menyeluruh, bertujuan untuk mengidentifikasi dan memeriksa orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC aktif agar bisa diketahui apakah mereka juga terinfeksi. “Kami sudah memastikan bahwa kebutuhan diagnostik dan terapi di NTB sudah terpenuhi,” ujarnya.
Sebagai contoh, 177 puskesmas di seluruh kabupaten dan kota telah dilengkapi dengan alat diagnostik cepat seperti Test Cepat Molekuler (TCM) yang sudah didistribusikan secara merata.
Namun, alat diagnostik saja tidak cukup. Dikes NTB terus mendorong agar deteksi aktif kasus TBC semakin ditingkatkan. Karena tenaga kesehatan terbatas, pihaknya mendorong, petugas puskesmas untuk aktif dalam melakukan penemuan kasus.
“Tidak hanya mengandalkan deteksi pasif yang biasanya datang dari laporan masyarakat,” ujarnya.
Pendampingan terhadap kontak dan terduga pasien untuk periksa ke puskesmas juga penting. Pemprov telah menyediakan alat skrining dan koordinasi antar pihak, serta penguatan pendampingan pengobatan dan pemantauan pasien melalui aparat desa dan kelurahan juga dilakukan.
Selain itu, optimalisasi kegiatan pelibatan fasilitas pelayanan kesehatan swasta dan penggunaan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) secara real time. “Ini menjadi prioritas untuk meningkatkan akurasi data dan pengawasan pengobatan,” kata dia.
Kasus TBC Laten
Penanganan TBC laten yang belum menimbulkan gejala menjadi perhatian. Tantangan utama di sini, adanya persepsi masyarakat orang sehat tidak perlu minum obat, serta pemahaman tenaga kesehatan terkait pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) yang belum optimal.
“Untuk itu, sosialisasi dan edukasi intensif mengenai kegunaan TPT melibatkan komunitas dan aparat desa terus digalakkan,” ujarnya.
Promosi dan kampanye kesehatan yang masif serta workshop terkait infeksi laten TBC menjadi bagian dari upaya ini. “Penyediaan obat TPT dan bahan tes tuberkulin sesuai kebutuhan juga dipastikan tersedia,” kata dia.
Penemuan kasus TBC laten juga bukan hanya tugas puskesmas semata. Peran serta berbagai elemen masyarakat sangat dibutuhkan, mulai dari posyandu, kepala dusun, kader kesehatan, hingga organisasi masyarakat.
“Kolaborasi ini penting agar penemuan kasus bisa lebih luas dan cepat,” tegasnya.
Strategi Penanggulangan
Pemprov NTB telah mengembangkan strategi penanggulangan TBC yang meliputi beberapa aspek utama, yakni pencegahan, surveilans, dan penanganan kasus. Pada aspek pencegahan, imunisasi BCG sudah diberikan, serta upaya pencegahan dan pengendalian infeksi TBC terus dijalankan, termasuk pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) pada kontak serumah penderita aktif.
“Surveilans dilakukan melalui investigasi kontak, penemuan aktif (ACF) di populasi umum dan populasi berisiko, serta penyediaan akses untuk skrining dan diagnosis laboratorium yang memadai,” jelasnya.
Surveilans aktif juga dilakukan di puskesmas dan rumah sakit, dengan dukungan tenaga kesehatan yang memadai.
Dalam penanganan kasus, telah disiapkan sarana jejaring diagnosis di seluruh layanan rujukan, penyediaan logistik TBC yang cukup dan berkesinambungan, pengelolaan efek samping obat, pemantauan minum obat, dukungan biaya transport untuk pasien TBC resisten obat, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
RS Khusus Paru
Direktur Utama RSUD NTB dr Lalu Herman Mahaputra mengusulkan, pemprov mendirikan satu rumah sakit khusus paru. “Saya pikir ke depan adanya TBC ini, bisa menjadi perhatian dari kepala daerah, dengan menghadirkan satu rumah sakit khusus untuk paru,” kata dia.
Semua pelayanan dan pengobatan pasien TBC akan terintegrasi. Menurutnya, NTB sangat layak mendirikan satu unit rumah sakit paru. Ada alat penunjang yang dibutuhkan seperti rontgen dada, CT scan dan MRI.
Apalagi tenaga kesehatan terutama dokter spesialis paru sudah tersedia banyak di NTB. “Ada lima di RSUD NTB, dan pasti ada di rumah sakit lain. Kita berharap ini ada, dan dari sini kita bisa menurunkan angka pengidap TBC ini, kalau ada rumah sakit ini bisa lebih maksimal penanganannya,” ujarnya.
Temuan Kasus TBC di NTB
(Januari – September 2025)
Bima 1.891 Kasus
Dompu 785 Kasus
Lombok Barat 3.109 Kasus
Lombok Tengah 4.316 Kasus
Lombok Timur 3.903 Kasus
Lombok Utara 817 Kasus
Sumbawa 1.785 Kasus
Sumbawa Barat 448 Kasus
Kota Bima 528 Kasus
Kota Mataram 1.598 Kasus
Sumber : Dikes NTB (yun/r3)
Editor : Pujo Nugroho