LombokPost - Puncak Hultah Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke-90 di Anjani, Lombok Timur, berlangsung penuh khidmat dan semangat perjuangan pada Minggu (12/10).
Ribuan jamaah, santri, dan alumni tumpah ruah memenuhi kawasan Anjani sejak pagi, menjadikan momen ini bukan sekadar perayaan, melainkan penguatan warisan dakwah dan pendidikan Islam Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Sejak berdiri pada tahun 1937, Madrasah NWDI telah menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Dari Anjani, Lombok Timur, semangat keilmuan dan dakwah yang dirintis Maulana Syaikh kini telah menyebar ke seluruh penjuru negeri.
“Sejak beberapa pekan lalu, panitia telah menggelar berbagai kegiatan—mulai dari Jalan Sehat berhadiah Umrah, Marathon, Pawai Sepeda Motor, hingga Lomba Cerdas Cermat. Namun esensi dari semua kegiatan ini adalah untuk mengenang dan meneladani perjuangan beliau,” ujar Ketua Panitia Hultah Madrasah NWDI ke-90, H. Syamsu Rijal.
Ia menyebutkan, antusiasme jamaah dari berbagai daerah membuktikan bahwa nilai-nilai perjuangan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid masih hidup di hati umat.
“Setiap tahun, Hultah Madrasah NWDI bukan hanya milik panitia atau lembaga tertentu. Ini milik kita semua, seluruh jamaah Nahdlatul Wathan yang mencintai Maulana Syaikh,” tambahnya.
Hultah NWDI Jadi Momentum Ukhuwah dan Kebangkitan Pendidikan Islam
Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Wathan (NW) NTB TGH. Khairul Fatihin menegaskan, bahwa Hultah NWDI ke-90 bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga momentum memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan semangat kebersamaan di tengah tantangan zaman.
“Hultah Madrasah NWDI adalah ajang silaturahmi terbesar bagi jamaah NW dari seluruh Indonesia. Di sinilah kita memperkuat ikatan, memperbarui niat, dan melanjutkan perjuangan dakwah Maulana Syaikh,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan 90 tahun NWDI sarat makna perjuangan. “Sudah sepantasnya kita melanjutkan perjuangan ini dengan menjaga dan memajukan lembaga-lembaga NW yang menjadi warisan beliau,” tegasnya.
Warisan Maulana Syaikh Hidup di Ribuan Lembaga Pendidikan
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani menekankan bahwa, Hultah NWDI bukan sekadar perayaan usia, tetapi peringatan atas nilai perjuangan dan keikhlasan Maulana Syaikh.
“Beliau mendirikan madrasah ini bukan hanya untuk mencetak santri, tetapi untuk membangun kesadaran akan pentingnya ilmu dan kemerdekaan umat Islam,” katanya.
Ia juga menyoroti langkah progresif Maulana Syaikh yang mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) khusus bagi perempuan.
“Maulana Syaikh mendirikan NBDI untuk perempuan, sebuah langkah yang sangat maju pada masanya. Beliau telah menanamkan kesetaraan hak pendidikan jauh sebelum hal itu menjadi isu utama di negeri ini,” ungkapnya.
Kini, dua madrasah tersebut menjadi fondasi berdirinya organisasi besar Nahdlatul Wathan, yang telah memiliki lebih dari 2.400 lembaga pendidikan di seluruh Indonesia.
“Inilah bukti bahwa perjuangan Maulana Syaikh tidak berhenti di masa lalu. Ia terus hidup melalui ribuan lembaga pendidikan dan jutaan santri di bawah panji Nahdlatul Wathan,” tandasnya.
Dari Anjani untuk Dunia Islam
Gubernur NTB Dr. Lalu Muhamad Iqbal menilai, perjuangan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan revolusi pendidikan Islam yang sejalan dengan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari di Jawa.
“Keduanya pejuang bangsa yang berjuang di medan berbeda, tapi memiliki cita yang sama. KH. Hasyim Asy’ari berjuang dengan jihad, Maulana Syaikh melalui pendidikan. Dua-duanya pahlawan nasional yang menyalakan semangat kemandirian umat,” ujarnya.
Iqbal menambahkan, kiprah NWDI dan Nahdlatul Wathan kini telah menembus batas daerah dan generasi. “Dari Lombok Timur, pesan perjuangan Maulana Syaikh kini menembus waktu dan wilayah. Generasi muda NW harus melanjutkan semangat beliau dengan karya nyata di dunia pendidikan, ekonomi, dan sosial,” pesannya.
Baca Juga: Lanal Mataram, Unram, dan PB NW Bersatu Jaga Mangrove dan Pesisir NTB
Sanad Keilmuan yang Menyatukan Nusantara
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Yusuf Hasyim, turut hadir dalam Hultah NWDI ke-90. Ia mengungkapkan bahwa Maulana Syaikh dan KH. Hasyim Asy’ari memiliki sanad keilmuan yang sama di Makkah, di bawah bimbingan ulama Haramain.
“Kedua tokoh ini belajar di Makkah dan sama-sama memiliki pandangan Islam yang moderat dan penuh kasih sayang. Mereka tidak memisahkan umat, tetapi mempersatukan. Kita satu sanad keilmuan, satu tujuan, satu umat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga membawa kabar gembira dengan penambahan dua kloter haji untuk NTB, guna memperpendek masa tunggu jamaah.
Warisan yang Terus Menyala
Hadir pula Syaikh Mustafa dari Madrasah Asshaulatiyah Makkah, yang mengingatkan pentingnya meneladani akhlak dan kesungguhan Maulana Syaikh.
“Jangan hanya bangga dengan sejarah, tapi warisi semangatnya. Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmu dan hiasi diri dengan akhlak mulia. Itulah cara sejati mengenang perjuangan Almaghfurullah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid,” tuturnya di hadapan puluhan ribu jamaah.
Kini, setelah sembilan dekade berdiri, NWDI terus menyalakan obor perjuangan dari Anjani untuk Indonesia dan dunia Islam. Hultah NWDI ke-90 menjadi bukti bahwa perjuangan Maulana Syaikh tidak pernah padam, tapi terus hidup di hati umat yang berilmu, berjuang, dan berakhlak mulia.
Editor : Rury Anjas Andita