LombokPost - Hujan dengan intesitas sedang hingga lebat, telah meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang di Bumi Gora.
“Sudah ada beberapa daerah kita yang mengalami bencana banjir, bahkan ada yang sampai banjir bandang,” jelas Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi, Selasa (11/11).
Dari catatan BPBD NTB, bencana hidrometeorologi telah melanda sejumlah wilayah di NTB, dan menyebabkan dampak kerugian.
Rinciannya, pada 4 November, hujan deras disertai angin kencang menyebabkan terjadinya banjir, dan sejumlah pohon tumbang di beberapa titik wilayah Kecamatan Praya, Lombok Tengah.
Peristiwa ini mengakibatkan beberapa pohon tumbang dan mengganggu arus lalu lintas di wilayah sekitar. Selain itu, 18 unit rumah warga terendam banjir, terdiri dari 3 rumah di Tiwu Bokah dan 15 rumah di Kampung Jawa.
Pada 5 November, bencana banjir melanda Kabupaten Bima, menyebabkan 1.122 rumah terendam, di Desa Monggo dan Desa Ncandi Kecamatan Madapangga, dengan total 3.584 jiwa terdampak. Banjir juga merusak fasilitas pendidikan, kesehatan, ibadah, dan kantor pemerintahan.
Selanjutnya pada 6 November, hujan deras disertai angin kencang dan petir, menyebabkan banjir di Desa Monggo, sebanyak 580 rumah terendam dengan 580 kepala keluarga atau 1.798 jiwa terdampak. Banjir juga merusak tiga fasilitas pendidikan, satu mushalla, serta satu hektare lahan pertanian.
Di Desa Ncandi, 28 rumah warga ikut terendam dengan 87 jiwa terdampak. Selain itu, satu kantor desa dan dua fasilitas pendidikan, yakni SDN Impres Ncandi dan TK Mudah Bestari Ncandi, ikut terendam air.
Sementara itu, di Desa Dena, sebanyak 35 rumah dan satu unit penggilingan padi terdampak banjir. Di Desa Boro, dilaporkan empat kepala keluarga atau 14 jiwa, mengalami kerusakan rumah, termasuk satu rumah warga yang roboh temboknya.
Sedangkan di Desa Kore, satu jembatan darurat yang sedang dalam proses pembangunan mengalami kerusakan. Di Desa Bolo, pohon tumbang sempat menghambat arus lalu lintas sebelum akhirnya berhasil ditangani petugas.
Pada 8 November, bencana alam banjir bandang melanda Kota Bima dan Kabupaten Dompu, menyebabkan ratusan rumah terendam, lahan pertanian rusak, dan beberapa fasilitas umum rusak.
Di Kota Bima, banjir terjadi di Kecamatan Rasanae Barat dan Rasanae Timur, dengan total 299 KK atau 993 jiwa terdampak. Sementara di Kabupaten Dompu, banjir terjadi di beberapa kecamatan, termasuk Dompu, Kempo, Woja, dan Hu'u, dengan total 342 KK terdampak.
Kerusakan juga terjadi pada lahan pertanian, dengan total 90 hektare lahan terendam di Kabupaten Dompu. Selain itu, beberapa infrastruktur juga rusak, termasuk sayap jembatan di Desa Hu'u yang longsor sepanjang 6 meter dan terancam ambruk, serta longsor badan jalan di Dusun Ria Desa Riwo sepanjang 5 meter.
Kembali lagi ke Kabupaten Bima, bencana alam banjir dan cuaca ekstrem terjadi pada 9 November, mengakibatkan rumah warga dan dan fasilitas umum terendam, yakni Desa Sambane di Kecamatan Langgudu, Desa Boro di Kecamatan Sanggar, Desa Pandai di Kecamatan Woha, Desa Bajo di Kecamatan Soromandi, dan Desa Tambe Kecamatan Bolo.
Banjir menyebabkan 2 unit rumah rusak sedang di Desa Sambane dengan total 2 KK atau 7 jiwa terdampak. Di Desa Boro sebanyak 37 KK atau 103 jiwa.
Di Kecamatan Soromandi, 4 lapak jualan terendam banjir, dan 4 KK pemilik lapak turut terdampak. Berikutnya akses lalu lintas sempat terganggu di beberapa titik wilayah Kecamatan Woha dan Soromandi.
Kemudian di Kecamatan Bolo, bagian emperan musala SMPN 4 Bolo rusak berat akibat tertimpa pohon tumbang.
Pada 10 November, bencana banjir melanda 2 desa di Kabupaten Dompu yakni Desa Kramat dan Desa Lasi di Kecamatan Kilo. Di Desa Kramat, sebanyak 25 KK dilaporkan terdampak.
Namun, kerusakan paling signifikan adalah terputusnya jalan lintas Kilo di Dusun Enca sepanjang 5 meter yang secara langsung mengganggu konektivitas dan mobilitas warga. Sementara itu, di Desa Lasi, jumlah warga terdampak tercatat lebih banyak, yakni mencapai 65 KK.
Terakhir, banjir terjadi pada 11 November, di wilayah Kabupaten Dompu. Selain menggenangi ratusan rumah warga di sejumlah kecamatan, bencana ini juga menelan korban jiwa.
Dua warga dilaporkan meninggal dunia serta tiga lainnya mengalami luka serius akibat tersambar petir di Kecamatan Kempo.
Ahmadi mengungkapkan, kondisi yang terjadi di Bima dan Dompu menjadi fokus utama BPBD NTB sekarang ini, lantaran banjir yang terus meluas. Menurutnya, situasi ini sudah bisa ditetapkan tanggap darurat bencana oleh masing-masing kepala daerah.
“Kami masih menanti surat penetapan resmi dari bupati, karena kalau kondisinya sudah seperti itu, memang harus ditetapkan status tanggap darurat,” tegasnya.
Dengannya, status yang sama bisa ditetapkan dan diberlakukan oleh Pemprov NTB, mengingat intensitas hujan yang tinggi dan potensi banjir yang masih berlanjut.
“Ada potensi intesitas curah hujan masih akan meningkat hingga Desember, bahkan sampai awal tahun 2026,” tegas Ahmadi.
Dari situasi ini, tidak menutupkan kemungkikan Pemprov NTB akan memberlakukan masa tanggap darurat berlangsung cukup lama. “Mungkin masa tanggap darurat bencana sampai berbulan-bulan, karena hujannya terus menerus,” tandasnya.
bpbdBaca Juga: Masuk Musim Peralihan, BPBD Mataram Siaga Penuh: Prioritaskan Sodetan Saluran di Daerah Rawan Banjir
Kepala Stasiun Meteorologi ZAM Lombok Satria Topan Primadi mengatakan dari analisis dinamika atmosfer, saat ini terpantau adanya gangguan yang dapat memicu cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah NTB.
Gangguan tersebut antara lain aktifnya Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer Kelvin, serta sirkulasi siklonik di Samudera Hindia selatan Jawa Timur yang membentuk pertemuan angin dan belokan angin di sekitar NTB.
“Kondisi ini diperkuat oleh kelembapan udara yang tinggi di berbagai ketinggian serta labilitas atmosfer yang kuat, sehingga mendukung terbentuknya awan konvektif,” jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, BMKG memprediksi akan terjadi peningkatan pertumbuhan awan cumulonimbus di sejumlah wilayah NTB, serta berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat, yang kemungkinan disertai petir/kilat dan angin kencang.
Editor : Akbar Sirinawa