LombokPost - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, Pemprov NTB terus berupaya untuk mengembangkan sektor pertanian melalui percepatan optimalisasi lahan dan revitalisasi irigasi.
Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi hasil pertanian dalam rangka mendukung program pengentasan kemiskinan.
Ini untuk tingkatkan produktivitas pertanian.
“Program optimalisasi lahan dan revitalisasi irigasi menjadi langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Gubernur Iqbal saat meninjau pelaksanaan Program Optimalisasi Lahan (Oplah) di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Rabu (12/11).
Revitalisasi irigasi ini, jelas Gubernur Iqbal sebagai solusi pembangunan irigasi baru yang prosesnya akan memakan waktu lama karena urusan pembebasan tanah dan lain lain.
“Pemprov NTB telah mengusulkan agar pemerintah pusat fokus pada revitalisasi jaringan irigasi lama yang masih memiliki potensi besar untuk diaktifkan kembali.
“Daripada membangun baru, lebih baik menghidupkan irigasi lama yang tinggal diperbaiki. Alhamdulillah, usulan itu langsung disetujui oleh Presiden RI dan kini sudah diimplementasikan,” katanya.
Hasil program tersebut mulai terlihat nyata. Salah satunya di Desa Penujak, Lombok Tengah. Petani di lokasi ini dapat melakukan tiga kali panen dalam setahun karena lancarnya pasokan air dari saluran irigasi yang telah diperbaiki.
“Ini musim panen terakhir. Insya Allah dalam beberapa hari ke depan kita panen. Terima kasih kepada Bapak Presiden, setiap permintaan kita yang rasional dan berbasis kebutuhan rakyat selalu langsung direspons,” ujarnya.
Gubernur Iqbal juga menginstruksikan Dinas Pertanian NTB untuk segera mendata seluruh jaringan irigasi yang belum tersentuh perbaikan agar dapat diusulkan pada tahap berikutnya.
Tahun ini, Provinsi NTB mendapat alokasi program optimalisasi lahan seluas 10.000 hektare di berbagai kabupaten.
“Kalau program ini terus berlanjut, empat tahun ke depan hampir semua irigasi di NTB bisa berfungsi optimal. Ini bukan hanya soal pertanian, tapi soal kemandirian pangan dan kesejahteraan petani,” katanya.
Program tersebut diharapkan menjadi model revitalisasi pertanian berkelanjutan di NTB. Tidak hanya memperbaiki infrastruktur air, tetapi juga memulihkan semangat gotong royong petani dalam mengelola sumber daya alam.
Sebelumnya, saat membuka kegiatan gelar dan temu teknologi pada (PEDA KTNA) XVII di Sumbawa Barat, Gubernur Iqbal menegaskan strategi dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
“Untuk peningkatan hasil pertanian dilakukan dengan optimalisasi lahan dan revitalisasi irigasi,” katanya.
Menurut Gubernur Iqbal, NTB memiliki saluran irigasi yang cukup masif, namun banyak yang tidak aktif. Hal inilah yang akan diatasi dengan melakukan revitalisasi.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB per November 2025, luas panen padi pada 2025 diperkirakan sekitar 322,50 ribu hektare. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 40,79 ribu hektare atau 14,48 persen dibandingkan luas panen padi di 2024 yang sebesar 281,72 ribu hektare.
Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) pada 2025 diperkirakan sebanyak 2,04 juta ton. Jumlah ini mengalami kenaikan sebanyak 291,63 ribu ton atau 16,65 persen dibandingkan produksi padi 2024 yang sebanyak 1,75 juta ton.
Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) pada 2025 diperkirakan sebanyak 1,70 juta ton. Jumlah ini naik sebanyak 242,04 ribu ton atau 16,65 persen dibandingkan produksi padi di 2024 yang sebanyak 1,45 juta ton.
Produksi beras pada 2025 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan sebanyak 965,64 ribu ton. Mengalami kenaikan sebanyak 137,86 ribu ton beras atau 16,65 persen dibandingkan produksi beras di 2024 yang sebanyak 827,79 ribu ton. (lil/r3)
Editor : Kimda Farida