LombokPost - Gunung Tambora, telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 2017 lalu. Di tahun 2026, ini menjadi momentum ganda bagi Tambora, yaitu revalidasi status sekaligus peluang pengusulan ke UNESCO Global Geopark (UGG).
General Manager Geopark Tambora Makdis Sari menegaskan dukungan dan kekuatan lobi dari pemerintah daerah (pemda) menjadi faktor penentu dalam upaya pengajuan Geopark Tambora menuju UGG pada tahun 2026.
“Proses menuju UGG tidak hanya bergantung pada kelengkapan dokumen teknis, tetapi sangat ditentukan kemampuan pemda melakukan lobi ke pemerintah pusat,” jelasnya, Rabu (19/11).
Lobi pemda diarahkan ke Kementerian ESDM yang memiliki kewenangan resmi untuk mengusulkan geopark Indonesia ke UNESCO. “Karena yang bisa mengusulkan ke UNESCO itu harus melalui Menteri ESDM,” ujarnya.
Setiap tahun, hanya dua geopark dari seluruh Indonesia yang dipilih untuk diusulkan ke UNESCO. Sehingga kemampuan daerah dalam membangun komunikasi politik dan administratif dengan pemerintah pusat menjadi kunci utama.
Dari sisi nilai ilmiah, Tambora memiliki international geological value yang sangat kuat dan bahkan lebih unggul dibanding banyak geopark nasional lainnya. Letusan Tambora tahun 1815 merupakan salah satu peristiwa vulkanik terbesar di dunia, memicu fenomena global The Year Without Summer di Eropa, serta menyebabkan gagal panen dan perubahan sosial yang luas.
Kemudian, keunikan geologi lain yang dimiliki Tambora, ada Doro Binte yang merupakan gunung sinder. Pulau Satonda, gunung api purba yang telah meletus dua kali dan memiliki usia lebih tua daripada Tambora.
Danau Satonda yang menyimpan stromatolit, tumbuhan purba yang hanya ditemukan di dua lokasi di dunia, yakni Australia dan Tambora.
Nilai-nilai tersebut menjadi keunggulan besar Tambora dalam memenuhi kriteria geopark berskala internasional. “Tambora itu sebenarnya sudah mendunia sejak dulu,” ujarnya.
Namun, faktor ilmiah saja tidak cukup untuk membawa Tambora masuk dalam daftar kandidat UGG, tanpa gerak simultan dari pemda.
NTB tentunya harus memanfaatkan kesempatan pada tahun 2026. Proses dimulai sejak awal tahun. Kementerian ESDM akan meminta semua geopark nasional mengajukan diri. Presentasi dilakukan pada Maret, dan hanya dua geopark yang akan dipilih pada bulan Juni untuk mewakili Indonesia ke UNESCO.
Periode Maret sampai Juni itu masa paling krusial, ini disebut fase lobi sehingga gerak daerah menjadi sangat menentukan nasib geopark Tambora, untuk disampaikan ke Kementerian ESDM, agar diusulkan ke UGG.
“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan, baik di pusat maupun daerah, dapat terlibat solid seperti ketika mendukung Geopark Rinjani pada proses pengusulannya beberapa tahun lalu,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa