Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPBD NTB Siapkan Skema Evakuasi Masyarakat Gunung Sangeang Api

Yuyun Kutari • Senin, 24 November 2025 | 08:51 WIB
Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi (dua dari kiri) memantau kondisi terkini gunung Sangeang Api, sekaligus berkoordinasi dengan seorang petugas PPGA Sangeang Api, di Desa Sangiang, Bima, Minggu (23/11).
Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi (dua dari kiri) memantau kondisi terkini gunung Sangeang Api, sekaligus berkoordinasi dengan seorang petugas PPGA Sangeang Api, di Desa Sangiang, Bima, Minggu (23/11).

LombokPost - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB segera mengambil langkah cepat, menyusul peningkatan status aktivitas gunung Sangeang Api di Bima.

Berdasarkan laporan khusus Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 143/GL.03/BGL/2025 tertanggal 22 November, status Gunung Sangeang Api telah dinaikkan dari Level I Normal ke Level II Waspada.

“Setelah laporan saya terima, saya malam berangkat dari Mataram dan sudah tiba di Wera, Bima dan saya langsung menggelar rapat teknis,” ujar Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi, Minggu (23/11).

Rapat teknis kesiapsiagaan dilakukan bersama Pemkab Bima, BPBD, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Danposramil Wera, camat Wera, kepala Desa Sangiang, dan juga petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Sangeangapi.

Laporan yang diterimanya dari PPGA Sangeang Api menunjukkan adanya asap yang keluar dari area kawah utama gunung Sangeang Api. Secara umum, aktivitas Gunung Sangeang Api memperlihatkan peningkatan, baik berdasarkan pengamatan visual maupun data kegempaan.

Dari pemantauan visual terdapat asap yang terlihat dari tembusan baru, berbeda dengan titik erupsi terakhir yang terjadi pada tahun 2014. Hal ini mengindikasikan, magma yang bergerak naik ke permukaan mencari celah yang paling mudah untuk ditembus hal inilah yang menyebabkan titik terjadinya erupsi dapat berpindah-pindah pada suatu gunung api.

Untuk itu, Ahmadi menegaskan masyarakat setempat, pengunjung, maupun wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer (km) dari pusat kawah utama.

Selain itu, zona larangan juga diperluas pada sektor Timur hingga Tenggara hingga garis pantai 6,5 km. “Ini demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Adapun kondisi di lapangan saat ini masih terpantau cukup kondusif, namun imbauan yang disampaikan pemerintah harus diindahkan.

“Masyarakat di sana ada kurang lebih 150 orang yang melakukan aktivitas harian mereka, seperti bertani, berkebun, beternak, dan menjadi nelayan, namun mereka berada di luar radius 3 km dari kawah utama,” jelasnya.

Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Bima, camat Wera, dan kepala Desa Sangiang tengah gencar melakukan identifikasi dan sosialisasi kesiapsiagaan evakuasi kepada masyarakat sekitar.

“Sebagai langkah antisipasi awal dampak abu vulkanik, masker juga telah didistribusikan kepada kepala Desa Sangiang,” kata Ahmadi.

Selama rapat teknis dilaksanakan, Ahmadi menegaskan kesiapsiagaan penuh telah diaktifkan, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan status lebih lanjut, dari Waspada ke Siaga atau bahkan Awas.

Mengingat posisi Gunung Sangeang Api berada di pulau terpisah, sekitar 7 hingga 7,5 km dari Desa Sangiang, skenario evakuasi yang disiapkan adalah melalui jalur laut.

sejumlah kapal cepat telah disiagakan dari Pos SAR Bima, Polairud Bima, Dishub Bima dari Balai KSDA Sangeangapi. Di samping itu, pembagian peran dan tugas penyelamatan warga juga telah ditetapkan, melibatkan personil dari SAR Bima, TNI, POLRI, Satpol PP, Dishub, dan BPBD Bima.

Selain itu, dukungan penuh kebutuhan sumber daya sudah disiapkan, jika terjadi evakuasi skala besar. Logistik dan fasilitas pengungsian menjadi fokus utama dalam persiapan ini.

“Jika sewaktu-waktu diperlukan pengungsian, tenda, logistik, dan layanan kesehatan sudah menjadi standar yang akan kami siapkan,” beber Ahmadi.

Mencakup tenda pengungsian dari BPBD Bima, BPBD Kota Bima, dan BPBD NTB. Berikutnya, dapur Umum yang dikoordinasikan oleh BPBD NTB, BPBD Bima, TNI, POLRI, dan Dinas Sosial (Dinsos).

Peralatan tim kesehatan dari Bima. Begitu juga dengan logistik pengungsi disiapkan oleh BPBD NTB, BPBD Bima, Dinas Ketahanan Pangan, Dinsos, dan PMI NTB.

Terkait komunikasi dan pemantauan, Ahmadi memastikan jaringan telekomunikasi di sekitar wilayah gunung Sangeang Api cukup baik, memungkinkan koordinasi yang lancar.

Camat Wera, BPBD Bima, serta kepala desa Wera dan Sangiang terus melakukan pendekatan, dan menyampaikan imbauan agar masyarakat segera menuju titik kumpul jika aktivitas gunung meningkat.

Dirinya menegaskan sampai sekarang belum ada penghentian total aktivitas ke pulau Sangeang Api. “Kondisinya masih terkendali, hanya kami batasi agar masyarakat tidak terlalu dekat dengan kawasan berbahaya, sebab kewaspadaan akan ditingkatkan apabila sudah terlihat material magma atau abu vulkanik yang keluar dari kawah,” tandasnya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid ktivitas kegempaan gunung Sangeang Api, menunjukkan pola peningkatan yang cukup signifikan.

“Dengarkan imbauan pemerintah, untuk tidak melakukan aktivitas yang dekat dengan pusat aktivitas atau kawah utama, ini demi keselamatan bersama,” tegasnya. 

Editor : Kimda Farida
#Gunung Sangeang Api #Magma #BPBD #gunung api #evakuasi #Bima #NTB #waspada