LombokPost - Penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC), menjadi program prioritas nasional yang diatensi Presiden Prabowo Subianto, dan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
Namun, dalam penemuan kasus TBC di tengah masyarakat, masih menghadapi tantangan serius. “Begitulah situasinya,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dikes) NTB Badarudin, Senin (24/11).
Diakuinya, tantangan terbesar dalam penanggulangan TBC adalah stigma di masyarakat. Stigma ini menyebabkan kerabat atau tetangga pasien menolak untuk dilakukan Investigasi Kontak (IK).
“Tantangan kita ada di stigma. Bahwa ketika seorang mengidap, maka jiran kerabat tetangganya itu menolak untuk dilakukan investigasi kontak," katanya.
Padahal, satu kasus indeks TBC memerlukan pemeriksaan terhadap 8 hingga 15 orang di sekitarnya. Sehingga kasus yang belum ditemukan berpotensi menjadi sumber penularan yang berbahaya. “Karena yang tadi belum ketemu itu, tentu akan menjadi sumber penularan,” kata dia.
Untuk situasi di NTB, dari total target proyeksi penemuan kasus sebanyak 19.180 kasus sepanjang tahun 2025, baru berhasil menemukan sekitar 51,60 persen atau 10 ribu lebih hingga pekan lalu.
Berbagai upaya percepatan penemuan kasus telah dilakukan, meski diakuinya harus berusaha keras, dikarenakan berbagai kendala tersebut.
Sebagai bagian dari rangkaian menyambut HUT NTB ke – 67 Tahun 2025, Dikes NTB akan menggelar cek kesehatan gratis di 10 kabupaten/kota dengan target 500 peserta setiap daerah, atau total 5.000 peserta se-NTB.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang terjaring screening, termasuk potensi kasus TBC. “Ini yang kami harapkan,” ujarnya.
Sementara itu, pemerintah pusat tengah menggalakkan strategi penemuan kasus melalui pemeriksaan toraks (foto rontgen) menggunakan unit mobile, khususnya di kawasan padat dan berisiko, seperti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Program tersebut sudah berjalan di beberapa Lapas, termasuk di Pulau Sumbawa. Terkait hasil pemeriksaannya, Badarudin mengungkapkan belum ada jumlah kasus yang teridentifikasi, karena metode foto toraks hanya digunakan untuk screening awal.
“Penetapan diagnosis TBC tetap harus melalui pemeriksaan laboratorium menggunakan TCM (Tes Cepat Molekuler, Red). Jadi toraks itu bukan penentu diagnosis, hanya penjaringan awal,” ujarnya.
Banyak kasus TBC tidak terdeteksi dan berpotensi menjadi sumber penularan di masyarakat. Ia pun mengajak seluruh pihak, saling membantu mengedukasi masyarakat agar mau menerima proses investigasi kontak.
Dalam hal pengobatan, Badarudin memastikan seluruh layanan pengobatan TBC ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah melalui pengadaan nasional oleh Kementerian Kesehatan.
“Daerah tidak mengadakan sendiri, semuanya didrop langsung oleh pusat. Ini menunjukkan betapa urgennya penemuan dan penanganan TBC ini,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa