Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPS Sorot Nilai Investasi NTB Tinggi tapi Minim Serapan Tenaga Kerja

Yuyun Kutari • Jumat, 28 November 2025 | 09:53 WIB
HASIL BUMI: Dua truk sedang beroperasi di area tambang milik PT AMNT.
HASIL BUMI: Dua truk sedang beroperasi di area tambang milik PT AMNT.

LombokPost - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB mencatat realisasi investasi periode Januari hingga September, di Bumi Gora telah mencapai Rp 48,98 triliun.

Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), masih menjadi penyumbang terbesar, dengan nilai investasi mencapai Rp 16,29 triliun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin memandang, realisasi investasi besar di NTB yang masih didominasi sektor ESDM, memiliki dampak yang sangat kecil terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Investasi yang seperti itu tidak terlalu besar pengaruhnya, terhadap penyerapan tenaga kerja,” jelasnya, Kamis (27/11).

Sebagian besar dari investasi di sektor ESDM, membutuhkan modal besar dalam pembelian aset tetap seperti mesin, pabrik, peralatan dan lainnya, untuk menghasilkan barang atau jasa, sehingga disebut padat modal.

Bukan padat karya yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak, untuk memproduksi barang atau jasa. “Jadi padat modal yang utama di situ (ESDM, Red) bukan padat karya. Sehingga pengaruhnya terhadap tenaga kerja itu sangat kecil,” terangnya.

Tidak hanya di sektor pertambangan, ada pula investasi di sektor lain seperti pembangunan hotel dan akomodasi. Namun, tenaga kerja yang terserap di sektor ini mayoritas adalah mereka yang sudah sebelumnya bekerja di area tersebut.

“Tenaga kerja yang terserap di situ, ya tenaga kerja yang memang sudah bekerja di situ juga,” kata Wahyudin.

Saat ini, ada pertumbuhan angka angkatan kerja dari 2,73 pada tahun 2024 menjadi 3,06 di tahun 2025,yaitu meningkat sekitar 0,33 persen. Namun sayangnya, pertambahan angkatankerja ini tidak sebanding dengan penyerapan tenaga kerja.

Misalnya, jika angkatan kerja bertambah sekitar 7-8 persen, dan jumlah orang yang terserap kerja hanya sekitar 5 persen. Selisih ini kemudian mengakibatkan peningkatan pengangguran.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, angka pengangguran di Bumi Gora mengalami kenaikan. Per Agustus 2025, jumlah pengangguran tercatat sebanyak 97.930 orang, meningkat 10.920 orang dibanding periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025.

“Ketika sebagian besar investasi yang masuk lebih dari 50 persen berbasis padat modal, bukan padat karya. Ini berarti jumlah lapangan kerja baru yang tercipta relatif terbatas,” terangnya.

Berdasarkan kondisi ini, Wahyudin menyarankan pemda untuk mendorong investasi yang tidak hanya padat modal, tetapi juga berorientasi pada padat karya, hilirisasi industri dan ekonomi kreatif. “Mudah-mudahan ini menjadi perhatian serius bagi pemda,” tandasnya.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal juga menyadari pentingnya mengarahkan fokus pembangunan investasi pada sektor-sektor non-tambang, memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sektor seperti pertanian, kelautan, perikanan, agroforestri, hilirisasi, serta pariwisata memiliki efek yang lebih nyata terhadap daya beli masyarakat dibandingkan sektor pertambangan.

“Investasi di sektor tambang itu dampaknya terhadap daya beli masyarakat tidak terlalu besar. Tapi beda dengan sektor pertanian dan pariwisata, punya dampak riil terhadap daya beli,” terangnya. 

Editor : Jelo Sangaji
#pengangguran #badan pusat stastik (bps) #Investasi Padat Karya #realisasi investasi #energi dan sumber daya mineral (esdm) #lapangan kerja #Tenaga Kerja #NTB #angkatan kerja