LombokPost – Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Muhammad Riadi, menegaskan peran strategis NTB sebagai lumbung pangan nasional.
Namun, ia menyoroti disparitas besar antara angka produksi dengan volume penyerapan yang dilakukan oleh Bulog, serta menekankan bahwa jaminan harga yang menguntungkan adalah kunci utama untuk menjaga semangat petani.
Menurut data Balai Karantina Pertanian (mengacu pada rilis BPS), produksi padi NTB tahun 2025 mencapai 1.695.551 ton Gabah Kering Giling (GKG), atau setara dengan 965.644 ton beras.
Disparitas Produksi dan Penyerapan Bulog
Muhammad Riadi menyoroti dari total produksi beras hampir 1 juta ton, penyerapan oleh Bulog NTB hanya berkisar 104.000 ton.
"Itu sangat jauh dari data yang kita produksi," ujarnya. Ia mengharapkan Bulog dapat menyerap minimal dua kali lipat dari volume saat ini.
Baca Juga: Polres Lombok Tengah Tanam Jagung Kuartal IV, Dukung Swasembada Pangan Nasional
Penyerapan yang lebih besar dari Bulog sangat dibutuhkan untuk menjadi 'bandul pengamanan' harga di tingkat petani, terutama saat panen raya.
Sesuai hukum ekonomi, ketika supply melimpah dan demand kurang, harga cenderung jatuh, meskipun Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sudah ditetapkan Rp6.500/kg.
"Faktanya, walaupun HPP sudah ditetapkan sama pemerintah tapi di lapangan, banyak yang membeli jauh di bawahnya. Itu yang kita tidak inginkan. Karena itu akan menyebabkan petani kita untuk menanam padi itu akan jatuh," terangnya.
Baca Juga: Dari Lahan ke Lumbung Negara, Aksi Nyata Polri Mengawal Swasembada Pangan NTB
Petani Sangat Rasional: Dampak Stabilisasi Harga
Ia menyampaikan bahwa kestabilan dan jaminan harga sangat mempengaruhi gairah menanam petani. Ia mencatat bahwa di tahun 2025, berkat pendampingan dari TNI, harga gabah menjadi stabil, yang membuat petani bahagia dan terdorong untuk kembali menanam padi.
Fenomena ini terlihat di Dompu dan Bima, di mana petani kini mulai menanam padi lagi dan "bersaing" dengan komoditas jagung. Sebelumnya, Distanbun NTB sempat mencemaskan adanya migrasi pola tanam di Pulau Sumbawa, dari padi ke jagung, karena harga jagung yang lebih stabil dan menguntungkan.
"Jamin harga itu dan berikan keuntungan kepada petani kami, insyaallah mandate itu akan menarik petani kami untuk menanam padi," tegasnya.
Faktor Pendukung Lain dimana selain jaminan harga, kegairahan petani juga didukung Insentif Bank BPD NTB Memberikan pengurangan harga sarana produksi, khususnya pupuk, hingga 20 persen.
Distanbun NTB berharap agar Bulog dapat meningkatkan target pembelian di masa depan. Hal ini diyakini akan menjaga harga tetap menguntungkan petani, sehingga target swasembada pangan dapat tercapai dengan kolaborasi bersama petani.
Editor : Siti Aeny Maryam