Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penandatangan PKS Regional Bali–NTB–NTT Ditunda

Yuyun Kutari • Minggu, 21 Desember 2025 | 12:16 WIB
KEKUATAN REGIONAL: Penandatanganan MoU pembentukan Kerja sama Regional Bali-NTB-NTT (KR-BNN) di Mandalika, Lombok Tengah, akhir November lalu.
KEKUATAN REGIONAL: Penandatanganan MoU pembentukan Kerja sama Regional Bali-NTB-NTT (KR-BNN) di Mandalika, Lombok Tengah, akhir November lalu.

LombokPost - Tiga kepala daerah telah menyepakati kerja sama Regional Bali–NTB–NTT (KR-BNN). Mereka adalah Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, bersama Gubernur Bali I Wayan Koster, dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, akhir November lalu.

Sebagai tindak lanjut MoU tersebut, ketiga pemerintah provinsi sejatinya menjadwalkan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Labuan Bajo, NTT, 22 Desember mendatang. Namun, agenda tersebut terpaksa ditunda.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Iswandi menjelaskan, penundaan dilakukan menyusul adanya permintaan Pemprov Bali.

“Karena terdapat hal yang bersifat urgen di Pemprov Bali yang memerlukan perhatian dan penyelesaian segera,” kata Iswandi, Jumat (19/12).

Terkait substansi kerja sama, Iswandi menegaskan Pemprov NTB pada prinsipnya telah siap. Pembahasan materi PKS telah dilakukan oleh masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Ia menjelaskan, kerja sama regional Bali, NTB, NTT tidak hanya fokus pada sektor pariwisata. Tapi juga mencakup pengembangan potensi daerah di sektor strategis lainnya.

Di antaranya sektor energi, konektivitas atau perhubungan, perdagangan, serta ekspor dan impor. “Saat ini tinggal menunggu finalisasi. Secara substansi, NTB sudah siap karena seluruh OPD terkait telah membahasnya,” tandasnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB Ervan Anwar menegaskan pengembangan konektivitas antarwilayah dalam kerja sama regional Bali, NTB, dan NTT memang harus dijalankan dengan perencanaan yang matang.

Menurutnya, sejumlah langkah sudah mulai disiapkan, termasuk mengkaji potensi pembukaan kembali beberapa pelabuhan dan jalur transportasi antardaerah. “Ya, memang harus begitu,” ujarnya.

Ervan mencontohkan ada usulan untuk membuka kembali operasional Pelabuhan Amed di Bali bagian timur, Kecamatan Abang, Karangasem.

Karena selama ini menjadi salah satu titik utama pelayaran feri, salah satunya menuju Gili Trawangan, NTB. “Ini memiliki potensi besar untuk kembali dibuka, sebagai jalur konektivitas Bali dan NTB,” kata dia.

Selain itu, terdapat pula permintaan dari NTT untuk membuka jalur feri yang menghubungkan Pelabuhan Maropokot di Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan Pelabuhan Sape di NTB.

Selanjutnya berkaitan dengan transportasi udara, Ervan menyampaikan pihaknya tengah mendorong penambahan frekuensi dan rute penerbangan baru. Kolaborasi ini menjadi kunci, dalam mempercepat pembukaan dan pengembangan jalur konektivitas antarwilayah. “Kalau udah bertiga kan enak. Kita mukul ramai-ramai. Gebuknya ramai-ramai,” pungkasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Bali #potensi daerah #konektivitas #perjanjian kerja sama (PKS) #ntt #labuhan bajo #NTB #Pariwisata