LombokPost-Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi pembangunan sektor kelautan dan perikanan NTB. Di tengah tekanan perubahan iklim, fluktuasi harga, dan dinamika ekonomi global, sektor ini tetap menunjukkan kinerja yang solid.
Kelautan dan perikanan tidak hanya bertahan, tetapi terus bertransformasi sebagai penopang ekonomi pesisir dan penggerak pembangunan daerah.
Sepanjang tahun 2025, realisasi produksi perikanan NTB tembus 1.252.719 ton. Capaian melampaui target 1.231.955 ton atau setara 101,68 persen.
"Capaian ini menegaskan sektor kelautan dan perikanan tetap menjadi fondasi ekonomi pesisir NTB, bahkan di tengah tantangan eksternal yang semakin kompleks," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim, Rabu (31/12).
Baca Juga: Dislutkan NTB Mulai Susun DED Pelabuhan Perikanan Soro Adu Dompu
Menurut Muslim, struktur produksi menunjukkan arah pembangunan yang semakin terkendali. Perikanan budidaya menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi 987.210 ton atau lebih dari 80 persen total produksi, serta capaian 100,64 persen terhadap target. Sementara itu, perikanan tangkap menyumbang 255.508 ton atau sekitar 20 persen, dengan capaian 101,77 persen dari target.
"Komposisi ini mencerminkan transformasi pembangunan perikanan NTB yang semakin bertumpu pada budidaya sebagai sumber produksi yang stabil dan terukur, tanpa mengabaikan peran strategis perikanan tangkap," ujar Muslim.
Kinerja produksi tersebut berbanding lurus dengan kesejahteraan pelaku utama. Hingga November 2025, Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat sebesar 108,61. Sementara Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) mencapai 103,23. "Angka ini menunjukkan daya beli nelayan dan pembudidaya secara umum berada di atas titik impas, mencerminkan kondisi usaha yang relatif menguntungkan dan lebih terkendali," ungkap dia.
Baca Juga: Pengelolaan Wisata Hiu Paus Teluk Saleh Makin Tertata, Dislutkan NTB Perkuat Kapasitas Operator
Peningkatan produksi juga berjalan seiring dengan komitmen terhadap keberlanjutan, sinergitas, dan kolaborasi multipihak. Pada 2025, rehabilitasi terumbu karang dan mangrove berhasil menjangkau 35 hektare, jauh melampaui target awal sebesar 10 hektare. "Capaian ini menegaskan bahwa pembangunan kelautan dan perikanan NTB tidak semata mengejar volume produksi, tetapi juga menjaga fondasi ekologis sebagai penyangga jangka panjang," katanya.
Selain perikanan, garam tetap menjadi komoditas strategis NTB yang memiliki dimensi ekonomi dan sosial yang kuat. Pada 2025, produksi garam NTB tercatat sebesar 120.581 ton. Capaian ini sekaligus menjadi tahun pembelajaran penting karena produksi garam dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem dan hari hujan yang lebih panjang. "Kondisi tersebut menegaskan pengembangan pergaraman ke depan tidak dapat lagi bergantung pada pola tradisional, melainkan harus ditopang oleh intervensi teknologi dan peningkatan produktivitas," tegas dia.
Karena itu, pembangunan pergaraman NTB diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan volume produksi, tetapi juga menempatkan NTB sebagai sentra industri garam. Strategi yang ditempuh meliputi ekstensifikasi lahan garam, penguatan kinerja pabrik pengolahan, perluasan akses pasar, penerapan teknologi geomembran, peningkatan kualitas sarana dan prasarana tambak, penguatan kelembagaan petambak, serta pengembangan hilirisasi dan standardisasi mutu.
"Dengan pendekatan ini, garam NTB diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri, meningkatkan nilai tambah di daerah, dan memperkuat posisi NTB dalam rantai pasok garam nasional," beber dia.
Baca Juga: NTB Jadi Pemasok Terbesar di Indonesia, Dislutkan Perkuat Pengawasan Penangkapan BBL Ilegal
Dari sisi fiskal daerah, sektor kelautan dan perikanan memberikan kontribusi yang semakin nyata. Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercatat terealisasi sebesar Rp 1,075 miliar, atau mencapai 134 persen dari target. Capaian ini mencerminkan keberhasilan optimalisasi layanan publik, peningkatan kepatuhan pelaku usaha, serta konsistensi penegakan regulasi.
Pada saat yang sama, Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) mulai menunjukkan perannya sebagai instrumen baru pengelolaan layanan bernilai ekonomi. Hingga memasuki tahun kedua operasional, BLUD sektor kelautan dan perikanan telah membukukan pendapatan sebesar Rp490,72 juta, menjadi fondasi awal menuju penguatan kemandirian fiskal sektor ini.
Memasuki tahun 2026, arah kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan NTB difokuskan pada penguatan paradigma hilirisasi agro-kemaritiman. Pembangunan tidak lagi berhenti pada peningkatan produksi, tetapi bergerak tegas menuju penguatan rantai nilai melalui pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir, berbasis kawasan, dan didukung kepastian regulasi.
"Hilirisasi dimulai dari penguatan benih unggul dan pembenihan sebagai fondasi stabilitas produksi, dilanjutkan dengan pengolahan hasil, penguatan akses pasar, serta penciptaan nilai tambah di daerah," jelas dia.
Baca Juga: Berpeluang Tambah PAD, Dislutkan NTB Tegaskan Uji Mutu Ikan Wajib Sebelum Ekspor
Komoditas ekspor seperti udang, rumput laut, lobster, dan terutama tuna tetap menjadi prioritas pengembangan. Tuna NTB dipertahankan sebagai komoditas ekspor andalan dengan fokus pada peningkatan mutu penanganan hasil tangkapan, penguatan rantai dingin, serta tata kelola perikanan tangkap yang berkelanjutan agar daya saing di pasar global tetap terjaga.
"Dalam konteks fiskal, tahun 2026 menjadi momentum konsolidasi BLUD sebagai embrio mesin fiskal daerah," katanya.
Penguatan kelembagaan, profesionalisasi pengelolaan, serta pengembangan layanan teknis bernilai tambah diarahkan untuk meningkatkan pendapatan daerah tanpa menambah beban baru bagi masyarakat. Seiring dengan itu, pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan diperkuat sebagai pilar pembangunan berkelanjutan. Kewenangan provinsi di wilayah laut 0–12 mil dioptimalkan melalui penguatan sumber daya manusia Polisi Khusus, PPNS, dan Pengawas Perikanan, pemanfaatan teknologi pemantauan, serta penegakan sanksi administratif yang tegas dan berkeadilan, dengan Perda NTB Nomor 14 Tahun 2025 sebagai payung hukum utama.
Baca Juga: Jaga Ekosistem Hiu Paus di Teluk Saleh, Dislutkan NTB Rancang Kawasan Zonasi Konservasi
Bagi Muslim, refleksi 2025 dan arah kebijakan 2026 menunjukkan satu pesan utama. Yakni fondasi pembangunan kelautan dan perikanan NTB telah diletakkan dengan arah yang jelas. Produksi menguat, kesejahteraan pelaku meningkat, fiskal daerah diperkuat, dan keberlanjutan tetap dijaga. "Dari laut NTB, masa depan ekonomi daerah terus dibangun agar tetap tangguh, bernilai tambah, dan berkelanjutan," tandasnya.
Editor : Jelo Sangaji