LombokPost - Sepanjang 2025, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di NTB, mencatat capaian signifikan, mengacu data Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK).
“Program ini kan dimulai dari 10 Februari - 29 Desember 2025, ada 1.532.919 masyarakat NTB telah mendaftarkan diri,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB HL Hamzi Fikri, Kamis (1/1).
Dari jumlah tersebut, 1.473.467 peserta hadir menjalani CKG, atau mencapai 96,12 persen dari total pendaftar. Capaian tersebut turut berdampak pada peningkatan cakupan layanan kesehatan di NTB.
Adapun target cakupan sebesar 36 persen dari total penduduk, dan hingga akhir Desember 2025 pelaksanaan CKG telah menjangkau 25,71 persen masyarakat NTB.
Keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif antara Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, fasilitas pelayanan kesehatan, serta dukungan lintas sektor dalam mendorong partisipasi masyarakat.
Ia menyebut tingginya tingkat kehadiran peserta menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini kesehatan.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini,” ujarnya.
Selain itu, hasil skrining CKG juga memberikan gambaran jelas mengenai tantangan kesehatan masyarakat NTB. Data menunjukkan lima masalah kesehatan dengan prevalensi tertinggi.
Lebih rinci, ada masyarakat yang kurang melakukan aktivitas fisik, dan ini menjadi persoalan paling dominan mencapai 95,01 persen dan ditemukan hampir di seluruh kabupaten/kota.
Disusul kebugaran yang kurang pada remaja sebesar 80,09 persen. Ini mengindikasikan sebagian besar usia sekolah memiliki tingkat kebugaran di bawah standar.
“Masalah kesehatan gigi dan karies juga masih cukup tinggi, dengan prevalensi mencapai 42,21 persen, terutama pada kelompok usia sekolah,” jelas mantan Direktur RSUD NTB tersebut.
Sementara itu, anemia pada remaja tercatat 40,39 persen dan menjadi perhatian serius karena berdampak pada kesehatan serta kualitas generasi muda.
Anemia pada calon pengantin pun masih ditemukan dengan prevalensi 30,51 persen, merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya stunting di Provinsi NTB.
Selanjutnya, melalui deteksi dini menggunakan inspekulo, ditemukan 38 kasus kecurigaan yang mengarah ke kanker leher Rahim, dan telah dirujuk untuk mendapatkan tindak lanjut sesuai standar pelayanan kesehatan.
Dari kondidi tersebut, data CKG menjadi pijakan penting dalam penyusunan kebijakan kesehatan daerah. Menurutnya, hasil CKG tidak hanya mencerminkan capaian layanan, tetapi juga memberikan gambaran nyata kondisi kesehatan masyarakat NTB.
“Temuan seperti kurang aktivitas fisik, anemia, dan masalah kesehatan gigi menjadi dasar bagi kami untuk memperkuat upaya promotif dan preventif,” katanya.
Program CKG sendiri merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Presiden Republik Indonesia, bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat serta menurunkan beban penyakit yang dapat dicegah.
Jenis pemeriksaan yang diberikan meliputi skrining penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kanker, serta pemeriksaan kesehatan indera, mulai dari mata, telinga, hingga gigi.
Melalui program ini, peserta tidak hanya mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga penjelasan terkait hasil pemeriksaan serta arahan tindak lanjut apabila ditemukan masalah kesehatan, sehingga upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih dini dan tepat sasaran.
“Sehingga data hasil skrining akan dimanfaatkan untuk merancang intervensi kesehatan yang lebih fokus, terarah dan berkelanjutan, termasuk upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas hidup masyarakat NTB secara menyeluruh,” tandasnya.
Editor : Kimda Farida