LombokPost - Anggota MPR RI Dr H Nanang Samodra mengadakan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Tahap XIII Keanekaragaman Bangsa Indonesia, Jumat 19 Desember 2025.
Materi yang disampaikan terkait Keanekaragaman Bangsa Indonesia: Sebuah Potret Kekayaan, Tantangan, dan Masa Depan, dengan peserta terdiri atas, dosen, mahasiswa, tokoh agama, pegiat perempuan, perangkat desa, dan masyarakat umum, di Universitas Islam Al Azhar, Kota Mataram.
Dijelaskan, keanekaragaman bangsa Indonesia dapat dipahami sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan: kekayaan alam hayati dan kekayaan budaya manusia yang hidup di dalamnya.
"Sayangnya, kedua bentuk keanekaragaman ini menghadapi tekanan serius yang saling berkaitan," jelas Anggota MPR RI Nanang Samodra.
Tekanan terhadap Keanekaragaman Hayati misalnya Deforeestasi dan Degradasi Habitat, Eksploitasi Berlebihan dan Perdagangan Ilegal, hingga Perubahan Iklim.
Sedangkan guncangan terhadap Keanekaragaman Budaya mencakup Marginalisasi Pengetahuan Lokal, Globalisasi dan Homogenisasi Budaya, hingga Konflik Sumber Daya.
Dijelaskan Nanang Samodra, berbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas untuk menjawab tantangan ini.
Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen melalui inisiatif-inisiatif baru.Pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) 2025, Indonesia menyiapkan skema kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit) dan membangun koalisi dengan negara lain.
Instrumen ekonomi ini bertujuan memberi nilai finansial bagi upaya konservasi. Indonesia juga meluncurkan Peta Jalan Ekosistem Karbon Biru untuk pengelolaan pesisir berkelanjutan.
Upaya konservasi dilakukan melalui dua pendekatan utama, pertama Konservasi In-Situ: Melindungi spesies di habitat aslinya melalui jaringan Taman Nasional, Cagar Alam, dan Suaka Margasatwa.
Kedua, KKonservasi Ex-Situ: Menjaga keberlanjutan spesies langka di luar habitat asli melalui kebun raya, taman safari, dan pusat penangkaran.
Ditegaskan Anggota DPR RI yang mewakili masyarakat NTB itu, meningkatan kesadaran menjadi kunci.
"Peringatan hari-hari penting seperti Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dimanfaatkan untuk kampanye publik. Tema HKAN 2025, "Youth for Conservation, Beyond Expectations", menekankan peran kritis generasi muda dan pentingnya kolaborasi lintas generasi," kata politisi Demokrat itu memberi contoh.
Nanang Samodra mengingatkan, keanekaragaman hayati dan budaya Indonesia adalah dua pilar penyangga identitas dan ketahanan bangsa.
Keduanya saling bergantung; kerusakan alam berimbas pada budaya lokal, dan sebaliknya, pemudaran nilai-nilai konservasi dalam budaya mempercepat kerusakan alam.
Saat ini tantangan tetap nyata, namun langkah-langkah inovatif mulai ditapaki untuk memastikan keanekaragaman bangsa Indonesia tetap lestari bagi generasi mendatang.
- Penguatan Kebijakan yang Implementatif: Kebijakan seperti kredit keanekaragaman hayati perlu didukung dengan sistem monitoring yang transparan dan pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pelaku utama konservasi.
- Pendidikan Berkelanjutan: Integrasi pendidikan konservasi dan kearifan lokal ke dalam kurikulum formal dan informal harus digencarkan untuk membangun empati dan rasa tanggung jawab sejak dini.
- Kolaborasi Segitiga: Sinergi yang kuat antara Pemerintah (pusat dan daerah), Masyarakat (adat dan lokal), dan Sektor Swasta yang bertanggung jawab mutlak diperlukan. Model ekonomi yang memindahkan pusat pertumbuhan dari kawasan hutan lindung ke sentra ekonomi berbasis modernisasi dan digital perlu dikembangkan.
"Keanekaragaman bukanlah masalah yang harus diselesaikan, melainkan anugerah yang harus dikelola dengan bijak," tegas pria yang pernah menjabat sekda NTB itu.
"Melestarikan keanekaragaman bangsa Indonesia berarti mengamalkan esensi dari Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri: menjaga kesatuan dalam keanekaragaman alam, dan merawat harmoni dalam perbedaan budaya, untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian," tutup Nanang Samodra. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic