LombokPost - Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dalam menghadirkan pengalaman pendakian kelas dunia yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan menegaskan berbagai inovasi dan sistem strategis, tengah disiapkan untuk mendukung keselamatan dan kenyamanan para pendaki.
Pendakian Rinjani itu, bukan hanya soal menantang, tetapi juga aman, nyaman, dan ramah lingkungan.
“Pastinya, berbasis inovasi digital dan penguatan sistem keselamatan,” jelasnya, Jumat (30/1).
Saat ini, pendakian Gunung Rinjani tutup sementara, terhitung sejak 1 Januari 2026 hingga 31 Maret 2026 untuk keselamatan pendaki dan pemulihan ekosistem akibat musim hujan ekstrem.
Mencakup semua jalur seperti Senaru, Sembalun, Torean, Timbanuh, Tetebatu, dan Aik Berik.
Penutupan ini adalah prosedur tahunan untuk memperbaiki jalur, menjaga kelestarian alam, dan mencegah risiko seperti longsor, kabut tebal, serta hipotermia saat musim hujan.
Sembari menunggu pembukaan jalur pendakian, Balai TNGR menyiapkan terobosan. Diantaranya adalah eRinjani App.
Ini merupakan aplikasi pendakian yang kini tersedia di App Store.
Aplikasi ini memudahkan calon pendaki dalam mengakses layanan pendakian secara digital, mulai dari pendaftaran hingga pemantauan jalur.
Selain itu, Balai TNGR memperkenalkan Asuransi Premium Pendaki sebagai bentuk tanggung jawab dan upaya meningkatkan standar keselamatan.
Ini untuk memantau posisi pendaki secara real-time, pihak pengelola juga menghadirkan Rinjani Beacon, aplikasi berbasis prinsip Personal Locator Beacon (PLB) yang biasa digunakan BASARNAS dalam operasi SAR.
“Keamanan dan koordinasi juga diperkuat melalui Command Center,” tegas Budhy.
Ini merupakan pusat kendali terpadu di kantor Balai TNGR yang mengelola data pendakian, komunikasi, dan respon kedaruratan secara terintegrasi.
Sistem Integrated Radio Communications menghubungkan petugas lapangan, pos pendakian, dan command center.
“Sehingga koordinasi dalam kondisi darurat dapat berjalan lancar,” ujarnya.
Di sisi lingkungan, Balai TNGR menerapkan Zero Waste Digital System, sistem digital yang mengelola sampah pendaki, untuk mendukung pendakian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Pendaki juga dapat memanfaatkan papan interpretasi jalur pendakian, media edukatif yang menyajikan regulasi keselamatan, peta jalur, serta informasi mengenai flora, fauna, dan geologi Rinjani.
Fasilitas fisik pun kata Budhy, mendapatkan pembaruan, seperti shelter inovatif ramah lingkungan.
Pos istirahat mandiri ini dilengkapi panel surya, struktur kokoh, dan desain ergonomis untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pendaki.
Ia menekankan, Rinjani bukan sekadar tujuan wisata, tetapi pengalaman pendakian kelas dunia yang terus bertransformasi.
Dengan berbagai inovasi digital, sistem keselamatan modern, dan fokus pada keberlanjutan, TNGR menegaskan komitmennya menghadirkan pengalaman pendakian yang berkualitas bagi seluruh pendaki, baik lokal maupun internasional.
“Bersama, kita jaga Rinjani agar aman, nyaman, dan lestari untuk generasi mendatang,” tandasnya.
Editor : Kimda Farida