Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima-Dompu Wanti-Wanti Krisis Kapal Pengangkut Ternak

Akbar Sirinawa • Sabtu, 7 Februari 2026 | 18:26 WIB
Truk sapi yang akan menyeberang dari Lembar menuju Padang Bai, Bali.
Truk sapi yang akan menyeberang dari Lembar menuju Padang Bai, Bali.

 

 

LombokPost-Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima–Dompu Indonesia meminta kesiapan armada kapal di Pelabuhan Gili Mas dan Pelabuhan Lembar. Permintaan itu disampaikan menjelang lonjakan pengiriman sapi pasca-Idul Fitri.

Adanya penambahan armada kapal untuk mengantisipasi terulangnya krisis transportasi laut seperti tahun-tahun sebelumnya, yang menyebabkan penumpukan truk pengangkut sapi hingga berhari-hari.

Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima–Dompu Indonesia Furkan Sangiang menegaskan, keterbatasan kapal tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan rutin tahunan.

“Jangan sampai kejadian lama terulang. Tahun-tahun sebelumnya truk dan tronton pengangkut sapi menumpuk karena armada kapal terbatas. Dampaknya bukan hanya kerugian ekonomi, tapi juga risiko kematian ternak karena terlalu lama antre di pelabuhan,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tahun ini jauh lebih krusial. Bali yang tahun lalu menjadi salah satu jalur alternatif pengiriman ternak kini menghadapi persoalan penyakit hewan, sehingga opsi distribusi melalui Bali semakin terbatas.

“Kalau tahun lalu tidak ada opsi lewat Bali, mungkin sudah banyak sapi mati di antrean. Sekarang jalur itu makin tipis. Artinya, beban penuh ada di pelabuhan NTB. Ini harus diantisipasi serius,” tegas Furkan.

Minta Kemenhub dan Pemprov NTB Tambah Armada Kapal Pengangkut Ternak

Asosiasi secara khusus meminta Pelindo, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), serta Pemerintah Provinsi NTB segera mengambil langkah konkret, termasuk penambahan frekuensi dan kapasitas armada kapal pengangkut ternak.

Setiap tahun, kawasan Bima–Dompu di Pulau Sumbawa mengirim sekitar 20 ribu ekor sapi ke wilayah Jabodetabek untuk memenuhi kebutuhan pasar Idul Adha. Aktivitas tersebut menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat peternak.

Furkan menyebut sektor peternakan sapi dari wilayah ini menyumbang perputaran ekonomi yang besar.

“Perputaran ekonomi dari sektor peternakan sapi Bima–Dompu hampir mencapai Rp 500 miliar per tahun. Ini bukan angka kecil. Tapi ironisnya, perhatian terhadap kesiapan armada kapal masih minim,” katanya.

Ia menilai, persoalan transportasi laut ternak seharusnya masuk dalam perencanaan tahunan lintas instansi, bukan sekadar penanganan darurat saat terjadi penumpukan.

“Ini siklus tahunan, bukan kejadian tak terduga. Jadi harus ada perencanaan, bukan reaksi dadakan. Kalau pengiriman tersendat, peternak rugi, pedagang rugi, dan rantai pasok daging nasional ikut terganggu,” tambahnya.

Asosiasi berharap seluruh pemangku kepentingan segera duduk bersama untuk memastikan kelancaran distribusi ternak dari NTB agar potensi kerugian besar, baik ekonomi maupun kematian hewan, tidak kembali terjadi.

" Selama ini bagi masyarakat Bima-Dompu dan sumbawa. Musim idul qurban ibarat pesta rakyat, untuk mencari rejeki dengan membawa sapi ke Jabodetabek. Dan hasil itu sebagai penopang ekonomi mereka. Maka perlu harus diperhatikan," pungkasnya.

 

Editor : Akbar Sirinawa
#idul fitri #Bima #Dompu #Pelabuhan Gili Mas #asosiasi peternak dan pedagang sapi #Pelabuhan Lembar